Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Bukan di Satu Titik, Ilmuwan Ungkap Rahasia Kecerdasan Manusia Ada pada Jaringan Otak

Thalatie K Yani
05/3/2026 12:30
Bukan di Satu Titik, Ilmuwan Ungkap Rahasia Kecerdasan Manusia Ada pada Jaringan Otak
Ilustrasi(freepik)

SELAMA puluhan tahun, para ilmuwan mencoba memetakan perhatian, memori, bahasa, dan penalaran ke dalam jaringan otak yang terpisah-pisah. Namun, satu misteri besar tetap mengganjal, mengapa pikiran manusia terasa sebagai satu kesatuan sistem yang utuh?

Penelitian terbaru dari Universitas Notre Dame mengungkapkan kecerdasan tidak bersemayam di satu wilayah "pintar" tertentu. Sebaliknya, kecerdasan muncul dari seberapa efisien dan fleksibel berbagai jaringan otak berkomunikasi serta berkoordinasi satu sama lain.

Memahami Kecerdasan Umum

Ilmu saraf modern sering menggambarkan otak sebagai kumpulan sistem spesialis. Namun, pendekatan ini belum mampu menjelaskan bagaimana sistem yang terpisah itu bersatu membentuk pikiran yang padu.

Para psikolog telah lama mengamati fenomena "kecerdasan umum" (general intelligence), di mana seseorang yang mahir dalam satu bidang cenderung unggul di bidang lain. Aron Barbey, Profesor Psikologi di Notre Dame, menjelaskan bahwa masalah kecerdasan bukanlah soal lokasi fungsi tertentu di otak.

"Ilmu saraf telah sangat sukses menjelaskan apa yang dilakukan jaringan tertentu, tetapi kurang berhasil menjelaskan bagaimana satu pikiran yang koheren muncul dari interaksi mereka," ujar Barbey.

Menurutnya, pertanyaan mendasar saat ini adalah bagaimana kecerdasan muncul dari prinsip-prinsip yang mengatur fungsi otak secara global, bagaimana jaringan yang tersebar ini berkomunikasi dan memproses informasi secara kolektif.

Teori Jaringan Neurosains

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Nature Communications, Barbey dan timnya menguji kerangka kerja bernama Network Neuroscience Theory. Mereka menganalisis data pencitraan otak dari 831 orang dewasa dalam Human Connectome Project serta kelompok independen lainnya.

Hasilnya, kecerdasan dipandang sebagai properti dari otak secara keseluruhan, bukan kemampuan spesifik. Ramsey Wilcox, peneliti utama studi ini, menyebut adanya pergeseran perspektif yang besar.

"Kami menemukan bukti koordinasi sistem secara menyeluruh di otak yang kuat sekaligus adaptif," kata Wilcox. "Koordinasi ini tidak melakukan kognisi itu sendiri, tetapi menentukan rentang operasi kognitif yang dapat didukung oleh sistem."

Wilcox menambahkan bahwa dalam kerangka kerja ini, otak dimodelkan sebagai jaringan yang perilakunya dibatasi oleh properti global seperti efisiensi, fleksibilitas, dan integrasi. "Properti ini tidak terikat pada tugas individu atau jaringan otak tertentu, tetapi merupakan karakteristik sistem secara keseluruhan," imbuhnya.

Implikasi bagi Kecerdasan Buatan (AI)

Temuan ini tidak hanya mengubah pemahaman tentang otak manusia, tetapi juga memberikan wawasan baru bagi pengembangan Kecerdasan Buatan (AI). Jika kecerdasan manusia bergantung pada organisasi sistem secara global, maka membangun AI yang benar-benar cerdas memerlukan lebih dari sekadar meningkatkan alat spesialis.

"Banyak sistem AI dapat melakukan tugas tertentu dengan sangat baik, tetapi mereka masih kesulitan menerapkan apa yang mereka ketahui di berbagai situasi yang berbeda," jelas Barbey. "Kecerdasan manusia ditentukan oleh fleksibilitas ini—dan itu mencerminkan organisasi unik dari otak manusia."

Memahami bagaimana otak mengoordinasikan proses yang tersebar di banyak jaringan dapat menjadi kunci untuk menciptakan AI yang lebih terinspirasi secara biologis dan mampu beradaptasi layaknya manusia. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya