Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

AI Picu Lonjakan Kebutuhan Infrastruktur Jaringan Data

Iis Zatnika
05/3/2026 15:20
AI Picu Lonjakan Kebutuhan Infrastruktur Jaringan Data
Proses pemasangan kabel fiber optik.(ANT/Ardiansyah )

Pemanfaatan artificial intelligence (AI) mendorong transformasi besar dalam infrastruktur jaringan data. Lonjakan kebutuhan bandwidth interkoneksi data bukan cuma menyangkut pengguna, namun juga korporasi, serta sarana penghubung antar pusat data. 

Studi terbaru dari Ciena, perusahaan penyedia layanan jaringan internet dan perangkat lunak yang berpusat di AS menyatakan, para ahli pusat data global memperkirakan peningkatan signifikan dalam kebutuhan koneksi data dalam lima tahun ke depan. Seperti dikutip bloombergtechnoz, dalam survei yang melibatkan lebih dari 1.300 responden pusat data di 13 negara, lebih dari setengah (53%) responden percaya bahwa beban kerja AI akan memberikan tekanan terbesar pada infrastruktur data dalam dua hingga tiga tahun ke depan, melampaui komputasi awan (51%) dan analitik big data (44%).

Kebutuhan bandwidth juga diperkirakan meningkat drastis seiring dengan pelatihan dan inferensi model AI yang memerlukan pergerakan data dalam jumlah besar. Sebanyak 87% responden menyatakan bahwa mereka akan memerlukan kapasitas serat optik 800 Gb/s atau lebih per panjang gelombang untuk DCI.

Beban kerja AI tengah membentuk kembali industri pusat data, mulai dari infrastruktur hingga permintaan bandwidth. AI juga akan mempercepat pertumbuhan lalu lintas jaringan, memaksa operator untuk menyesuaikan strategi infrastruktur mereka.

Survei Ciena ini juga menemukan bahwa seiring dengan meningkatnya kebutuhan komputasi AI, pelatihan model bahasa besar akan semakin terdistribusi di berbagai pusat data AI. Sebanyak 81% responden percaya bahwa pelatihan AI akan dilakukan di sejumlah fasilitas pusat data.

Di Indonesia, rata-rata 49% pusat data baru diperkirakan akan didedikasikan untuk beban kerja AI. Aplikasi AI diyakini akan mendorong peningkatan bandwidth setidaknya enam kali lipat dalam lima tahun ke depan.

Ketersediaan daya, efisiensi biaya, skalabilitas, dan keandalan menjadi faktor utama dalam pemilihan lokasi pusat data baru di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan AI di Tanah Air juga akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur jaringan.

Selain itu, 50% responden percaya bahwa aplikasi AI akan mendorong peningkatan bandwidth setidaknya 6 kali lipat pada jaringan DCI dalam lima tahun ke depan.

Hal Senada juga diungkapkan Network Planning Department Head FiberStar Yudo Satrio di Jakarta, Rabu (4/3). Perusahaan penyedia infrastruktur jaringan optik bagi sektor residensial, komersial, dan korporasi itu menyatakan pada 2016, besaran kapasitas data yang mereka distribusikan mencapai 20 giga, meningkat pada 2020 menjadi 8 tera, dan kembali melonjak pada 2026 menjadi 19 tera. Pada 2027, akan berlipat hingga menjadi 30 tera. 

"Penggunaan AI di Indonesia masih akan terus bertumbuh dan terus melonjak. Dari aspek konsumen, akan terus melebar ke berbagai sektor, sehingga ini tentunya akan membutuhkan dukungan lalu lintas data yang memadai," kata Yudo. 
  
Menggunakan infrastruktur kabel optik di darat dan lautan yang terbentang dari Jakarta hingga Surabaya, kata Yudo, panjang jaringan telah mencapai 64.497.562 meter atau setara sekitar 64.498 km.

Sepanjang 2025, jumlah homepass mencapai 3.360.119 titik, naik dari 2.303.553 pada 2024 atau tumbuh 45,9% (YoY). Pada saat yang sama, capaian home connected melonjak menjadi 489.211 pelanggan tersambung, dari 322.150 pada 2024 atau tumbuh 51,9% (YoY), lebih cepat dibanding laju pertumbuhan homepass. Pada 2026, ditargetkan pembangunan sekitar 750.000 homepass baru. 

Homepass adalah istilah dalam industri penyedia layanan internet (ISP) yang merujuk pada rumah atau bangunan yang sudah terjangkau jaringan kabel serat optik (fiber optik), sehingga potensial untuk langsung berlangganan internet. Ini menunjukkan cakupan infrastruktur, bukan jumlah pelanggan aktif. 

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Iis Zatnika
Berita Lainnya