Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Waspada Tren Karikatur AI, Cetak Biru bagi Penjahat Siber di Asia Pasifik

Basuki Eka Purnama
11/3/2026 15:35
Waspada Tren Karikatur AI, Cetak Biru bagi Penjahat Siber di Asia Pasifik
Caricature of Me and My Job yang dibuat menggunakan ChatGPT(Dok. Pribadi)

SEBUAH tren baru tengah viral di berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, hingga LinkedIn. Pengguna berbondong-bondong membagikan foto pribadi dan meminta alat Kecerdasan Buatan (AI) untuk membuat karikatur atau ilustrasi berdasarkan instruksi "Buat berdasarkan semua yang Anda ketahui tentang saya". 

Meski terlihat kreatif dan menghibur, para ahli keamanan siber memperingatkan bahwa tren ini menyimpan risiko besar terhadap keamanan data pribadi.

Pakar keamanan dari Kaspersky mengungkapkan bahwa perintah tersebut tidak bekerja sesederhana filter visual biasa. 

Untuk menghasilkan gambar yang akurat, pengguna secara tidak sadar memberikan akses luas kepada alat AI untuk menyisir profil mereka tanpa batasan. 

Data-data sensitif seperti nama perusahaan, jabatan, hobi, hingga detail anggota keluarga sering kali ikut terserap untuk menciptakan ilustrasi tersebut.

Informasi yang terkumpul kemudian menjadi bagian dari profil digital yang sangat mendetail. 

Penjahat siber dapat mengeksploitasi gabungan antara gambar, teks, dan konteks kehidupan nyata ini untuk melancarkan serangan rekayasa sosial (social engineering) yang jauh lebih canggih. 

Dengan mengetahui tempat kerja atau anggota keluarga korban, upaya penipuan menjadi lebih meyakinkan dan sulit dideteksi bahkan oleh pengguna yang berhati-hati sekalipun.

Risiko ini sangat nyata di kawasan Asia Pasifik. Adrian Hia, Managing Director Asia Pasifik di Kaspersky, memberikan peringatan keras mengenai fenomena ini.

“Tren viral pembuatan karikatur kehidupan kita ini mungkin tampak seperti hiburan yang tidak berbahaya, tetapi sebenarnya merupakan informasi sukarela bagi penjahat siber. Setiap kali pengguna di Asia Pasifik memberikan detail tentang diri mereka kepada AI hanya untuk melihat ilustrasi yang cerdas, mereka menyerahkan cetak biru untuk serangan rekayasa sosial yang sempurna,” kata Adrian Hia.

Ia menambahkan bahwa di wilayah dengan adopsi AI yang tinggi namun literasi teknis yang masih tertinggal, potret digital ini menjadi peta yang berbahaya bagi pengguna. 

Berdasarkan data, 78% profesional di Asia Pasifik telah menggunakan AI setiap minggu, melampaui rata-rata global sebesar 72%.

Selain risiko penipuan langsung, pengguna juga perlu memahami bahwa data yang dibagikan tidak selalu langsung terhapus. 

Tergantung pada kebijakan privasi platform, foto asli, riwayat penggunaan, hingga alamat IP dapat disimpan untuk kepentingan pengembangan layanan atau pelatihan model AI di masa depan.

Untuk memitigasi risiko tersebut, para ahli menyarankan beberapa langkah kebersihan digital:

  • Hindari memasukkan data identitas seperti nama lengkap, alamat, atau jadwal rutin ke dalam kolom instruksi AI.
  • Jangan mengunggah foto yang menampilkan atribut sensitif seperti logo perusahaan, plat nomor kendaraan, atau dokumen resmi.
  • Hindari membagikan detail tentang anak di bawah umur atau anggota keluarga untuk mencegah peniruan identitas yang emosional.
  • Selalu periksa kebijakan privasi platform terkait penyimpanan dan penggunaan data sebelum mulai berinteraksi. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya