Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH tren baru tengah viral di berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, hingga LinkedIn. Pengguna berbondong-bondong membagikan foto pribadi dan meminta alat Kecerdasan Buatan (AI) untuk membuat karikatur atau ilustrasi berdasarkan instruksi "Buat berdasarkan semua yang Anda ketahui tentang saya".
Meski terlihat kreatif dan menghibur, para ahli keamanan siber memperingatkan bahwa tren ini menyimpan risiko besar terhadap keamanan data pribadi.
Pakar keamanan dari Kaspersky mengungkapkan bahwa perintah tersebut tidak bekerja sesederhana filter visual biasa.
Untuk menghasilkan gambar yang akurat, pengguna secara tidak sadar memberikan akses luas kepada alat AI untuk menyisir profil mereka tanpa batasan.
Data-data sensitif seperti nama perusahaan, jabatan, hobi, hingga detail anggota keluarga sering kali ikut terserap untuk menciptakan ilustrasi tersebut.
Informasi yang terkumpul kemudian menjadi bagian dari profil digital yang sangat mendetail.
Penjahat siber dapat mengeksploitasi gabungan antara gambar, teks, dan konteks kehidupan nyata ini untuk melancarkan serangan rekayasa sosial (social engineering) yang jauh lebih canggih.
Dengan mengetahui tempat kerja atau anggota keluarga korban, upaya penipuan menjadi lebih meyakinkan dan sulit dideteksi bahkan oleh pengguna yang berhati-hati sekalipun.
Risiko ini sangat nyata di kawasan Asia Pasifik. Adrian Hia, Managing Director Asia Pasifik di Kaspersky, memberikan peringatan keras mengenai fenomena ini.
“Tren viral pembuatan karikatur kehidupan kita ini mungkin tampak seperti hiburan yang tidak berbahaya, tetapi sebenarnya merupakan informasi sukarela bagi penjahat siber. Setiap kali pengguna di Asia Pasifik memberikan detail tentang diri mereka kepada AI hanya untuk melihat ilustrasi yang cerdas, mereka menyerahkan cetak biru untuk serangan rekayasa sosial yang sempurna,” kata Adrian Hia.
Ia menambahkan bahwa di wilayah dengan adopsi AI yang tinggi namun literasi teknis yang masih tertinggal, potret digital ini menjadi peta yang berbahaya bagi pengguna.
Berdasarkan data, 78% profesional di Asia Pasifik telah menggunakan AI setiap minggu, melampaui rata-rata global sebesar 72%.
Selain risiko penipuan langsung, pengguna juga perlu memahami bahwa data yang dibagikan tidak selalu langsung terhapus.
Tergantung pada kebijakan privasi platform, foto asli, riwayat penggunaan, hingga alamat IP dapat disimpan untuk kepentingan pengembangan layanan atau pelatihan model AI di masa depan.
Untuk memitigasi risiko tersebut, para ahli menyarankan beberapa langkah kebersihan digital:
Dalam konten di kanal Youtube Rizalmuk, AA Drawing merupakan laki-laki berdarah Sunda. Inisial AA pada akun Tiktoknya merupakan gabungan dari namanya dan juga sang istri.
Keikutsertaan rakyat dalam pesta demokrasi menjadi salah satu tolak ukur keberhasilan sebuah pemilu
Putusan MK atas gugatan Nomor 90/PUU-XXI/2023 ini sekaligus menjadi karpet merah bagi Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka.
Seorang pengajar mendapatkan hadiah tentu akan merasa senang. Oleh karena itu carilah hadiah yang tidak mudah dilupakan.
Komisi Pemberantasan Korupsi menyebutkan hal itu karena sistem perpajakan di Indonesia yang sangat sulit dan banyak menciptakan celah untuk berbuat kecurangan.
Laporan tersebut mengungkap sebuah kampanye di mana pelaku ancaman memanfaatkan Simplified AI, platform pemasaran populer, untuk mencuri kredensial Microsoft 365
Bruteforce.Generic.RDP., adalah metode untuk menebak kata sandi atau kunci enkripsi yang melibatkan percobaan sistematis semua kemungkinan kombinasi karakter.
Salah satu transformasi yang paling signifikan adalah cara kecerdasan buatan merevolusi kampanye phishing dan rekayasa sosial otomatis.
Dalam beberapa bulan terakhir, penjahat siber telah mengembangkan teknik baru yang menargetkan pengguna PC, khususnya melalui metode verifikasi CAPTCHA yang palsu.
Penggemar yang ingin menonton film Joker: Folie a Deux secara daring berisiko tertipu dan memberikan data sensitif dan uang mereka.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved