Headline
Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.
Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.
Kumpulan Berita DPR RI
MASIH banyak masyarakat yang menyamakan serangan jantung dengan kematian jantung mendadak. Padahal, secara medis, kedua kondisi ini memiliki mekanisme pemicu yang berbeda.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Ardian Rizal, Sp.JP(K)-FIHA, menegaskan pentingnya memahami perbedaan ini untuk meningkatkan kewaspadaan kesehatan.
Ardian menjelaskan bahwa serangan jantung umumnya disebabkan oleh masalah mekanik pada pembuluh darah, sementara kematian jantung mendadak lebih berkaitan dengan sistem kelistrikan organ tersebut.
"Kematian jantung mendadak biasanya karena gangguan listrik jantung yang kacau. Sementara serangan jantung karena sumbatan aliran darah di pembuluh koroner," ujar anggota Perhimpunan Aritmia Indonesia tersebut, dikutip Selasa (24/2).
Sebagai ilustrasi, Ardian menyoroti kasus atlet profesional yang tiba-tiba kolaps saat bertanding. Padahal, para atlet tersebut lazimnya memiliki kondisi fisik prima dan rutin menjalani pemeriksaan kesehatan.
Menurutnya, insiden tersebut sering kali berkaitan dengan gangguan irama jantung yang memicu henti jantung mendadak.
Data menunjukkan bahwa sekitar 26,3% kasus kematian jantung memang berkaitan dengan gangguan irama jantung.
Bahkan, pada pasien dengan penyakit jantung koroner, kematian bisa terjadi secara tiba-tiba akibat aritmia fatal yang dipicu oleh kerusakan otot jantung.
Gangguan irama jantung sendiri memiliki spektrum yang luas, mulai dari gejala ringan hingga kondisi yang mengancam jiwa.
Pada beberapa kasus, penderita hanya mengeluhkan sensasi jantung berdebar. Namun, pada kondisi lainnya, gangguan ini dapat memicu henti jantung dalam waktu yang sangat singkat.
Ardian memperingatkan bahwa tingkat keselamatan dalam kasus aritmia fatal tergolong rendah. Tanpa penanganan medis yang segera, peluang bertahan hidup bagi pasien dengan gangguan irama jantung fatal kurang dari 1%.
Mengingat risikonya yang tinggi, Ardian menekankan pentingnya bagi masyarakat untuk lebih mengenali gejala gangguan irama jantung.
Melakukan pemeriksaan kesehatan jantung lebih dini menjadi langkah krusial agar potensi masalah pada sistem kelistrikan jantung dapat dideteksi sebelum berakibat fatal. (Ant/Z-1)
Selama bertahun-tahun, hilangnya kromosom Y pada pria lanjut usia dianggap sebagai bagian biasa dari proses menua.
Teknologi AI di 2026 mampu memprediksi risiko serangan jantung bertahun-tahun lebih awal melalui analisis EKG dan CT Scan. Simak ulasan lengkapnya.
Penyakit jantung tak selalu ditandai nyeri dada hebat. Kenali 7 gejala tersembunyi seperti mual, mudah lelah, hingga batuk berkepanjangan agar bisa deteksi dini dan cegah risiko fatal.
Kolesterol tinggi bisa memicu penyakit jantung koroner, angina, hingga serangan jantung. Kenali bahayanya dan cara efektif mencegahnya sejak dini.
Saat berat badan berlebih, tubuh tidak hanya menyimpan lemak ekstra. Sistem metabolisme ikut berubah.
Kematian jantung mendadak (Sudden Cardiac Death/SCD) menjadi ancaman serius yang tak bisa dianggap remeh.
Fenomena Sudden Cardiac Death (SCD) atau kematian jantung mendadak menjadi salah satu masalah kardiovaskular serius.
Gangguan irama jantung atau aritmia kini menjadi salah satu penyebab meningkatnya kasus kematian jantung mendadak (Sudden Cardiac Death/SCD) di dunia
Golden time untuk pertolongan korban henti jantung mendadak adalah kurang dari 10 menit sehingga diperlukan alat yang dapat membantu memberikan pertolongan terbaik.
Kematian mendadak terkadang terjadi pada orang yang sehat dan bugar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved