Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
Selama bertahun-tahun, hilangnya kromosom Y pada pria lanjut usia dianggap sebagai bagian biasa dari proses menua. Fenomena ini dikenal sebagai mosaic loss of Y (LOY), yaitu kondisi ketika sebagian sel darah pria kehilangan kromosom Y seiring bertambahnya usia. Namun, riset menunjukkan bahwa ini bukan sekadar kerusakan genetik ringan akibat usia.
Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature dan laporan penelitian dari University of Virginia memperlihatkan bahwa kehilangan kromosom Y justru berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit serius, termasuk penyakit jantung, kanker, dan gangguan neurodegeneratif seperti Alzheimer.
Secara biologis, pria memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y. Seiring usia, sebagian sel darah bisa kehilangan kromosom Y. Pada pria di atas 60 tahun, fenomena ini cukup umum terjadi. Bahkan, beberapa penelitian menyebut lebih dari 40 persen pria lansia memiliki sebagian sel darah tanpa kromosom Y.
Masalahnya, kromosom Y bukan sekadar penentu jenis kelamin. Ia membawa gen penting yang berperan dalam fungsi sistem imun. Ketika kromosom Y hilang dalam jumlah signifikan, respons imun tubuh ikut terganggu.
Penelitian yang terdokumentasi di basis data medis PubMed menunjukkan bahwa pria dengan tingkat kehilangan kromosom Y yang tinggi memiliki risiko kematian lebih besar dibanding pria dengan kromosom Y yang masih utuh di sebagian besar selnya.
Temuan paling mencolok datang dari studi terhadap ribuan pria lansia tanpa riwayat penyakit jantung sebelumnya. Peneliti menemukan bahwa pria dengan persentase tinggi sel darah tanpa kromosom Y memiliki risiko serangan jantung yang jauh lebih tinggi.
Mekanismenya diduga berkaitan dengan gangguan pada sel imun yang memicu peradangan kronis dan pembentukan jaringan parut di jantung. Kondisi ini membuat organ jantung lebih rentan terhadap kerusakan dan gagal fungsi.
Dengan kata lain, kehilangan kromosom Y bisa menjadi biomarker risiko kardiovaskular di masa depan.
Hubungan LOY tidak berhenti di jantung. Sejumlah studi menunjukkan pria dengan kehilangan kromosom Y lebih rentan mengalami Alzheimer. Dugaan sementara, gangguan sistem imun akibat LOY mempercepat proses neurodegeneratif.
Pada kasus kanker, penelitian eksperimental menemukan bahwa sel yang kehilangan kromosom Y menjadi lebih sulit dikenali oleh sistem kekebalan. Ini memberi peluang sel kanker berkembang lebih agresif.
Temuan ini mengubah cara pandang ilmuwan terhadap kromosom Y yang sebelumnya dianggap minim peran.
Kehilangan kromosom Y memang sering terjadi pada pria lansia, tetapi itu bukan fenomena netral. Ia berpotensi menjadi indikator risiko penyakit serius.
Para peneliti kini mulai melihat LOY sebagai penanda biologis yang bisa membantu memetakan risiko kesehatan pria di usia lanjut. Ke depan, tes genetik sederhana mungkin bisa digunakan untuk mengidentifikasi siapa yang berisiko lebih tinggi dan perlu pemantauan lebih ketat. (Live Science, PubMed/Z-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved