Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SEKRETARIS Jenderal Perhimpunan Aritmia Indonesia (Peritmi)/Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) dr. Agung Fabian Chandranegara, Sp.JP(K), FIHA mengingatkan masyarakat untuk mengenali faktor risiko pribadi dan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin untuk mencegah kematian jantung mendadak.
"Periksa tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol minimal setahun sekali. Bila ada riwayat keluarga meninggal mendadak di usia muda, jantung berdebar, atau pingsan tanpa sebab jelas, maka orang tersebut harus segera konsultasi ke dokter jantung," kata Agung dalam keterangan pers, dikutip Kamis (13/11).
Ia mengatakan fenomena Sudden Cardiac Death (SCD) atau kematian jantung mendadak menjadi salah satu masalah kardiovaskular serius.
SCD menyumbang sekitar 10% hingga 15% dari seluruh kematian global setiap tahunnya akibat gangguan irama jantung yang sering tidak terdeteksi sebelumnya.
Secara global, insiden SCD pada populasi umum diperkirakan mencapai 40-100 kasus per 100.000 orang per tahun.
Agung mengatakan meskipun angka kematian sempat menurun antara 1999 hingga 2018, data terbaru menunjukkan peningkatan signifikan sejak 2018, menandakan bahwa tantangan ini masih jauh dari selesai.
"Laki-laki tercatat memiliki risiko lebih tinggi dibanding perempuan, dengan perbandingan angka mortalitas 5,23 berbanding 2,71," ujar Agung.
Agung menambahkan, mengenali tanda-tanda gangguan irama jantung sangat penting diketahui seperti nyeri dada, sesak, mudah lelah, atau detak jantung yang tidak teratur. Jika merasa ada kelainan, maka pemeriksaan lanjutan seperti EKG, ekokardiografi, atau Holter monitoring mungkin perlu juga dilakukan.
Ia juga menekankan melakukan gaya hidup sehat tetap menjadi kunci, seperti berhenti merokok, rutin berolahraga, tidur cukup, dan mengelola stres bisa menurunkan risiko secara signifikan.
Berdasarkan jaringan Pan-Asian Resuscitation Outcome Study (PAROS), tingkat kelangsungan hidup henti jantung di luar rumah sakit (Out-of-hospital cardiac arrest/OHCA) di kawasan Asia rata-rata hanya sekitar 4%-6%, jauh di bawah angka di negara-negara Barat.
Ini menunjukkan pentingnya sistem tanggap darurat yang kuat dan edukasi publik agar masyarakat tahu apa yang harus dilakukan ketika seseorang mengalami henti jantung. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah pentingnya pemahaman masyarakat mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD) seperti resusitasi jantung paru (RJP, atau Cardiopulmonary resuscitation (CPR)).
"Pada kasus henti jantung di luar rumah sakit/OHCA, setiap menit tanpa CPR menurunkan peluang hidup secara signifikan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa CPR oleh bystander CPR (penolong/orang di sekitar pasien) dapat meningkatkan peluang hidup tiga hingga empat kali lipat, sedangkan penggunaan AED (Automated External Defibrillator) oleh masyarakat bisa meningkatkan peluang hidup hingga lima kali lipat," kata Agung.
Ia pun memberikan beberapa langkah praktis yang bisa diingat masyarakat ketika menemui seseorang dengan henti jantung seperti kenali tanda henti jantung yaitu korban tidak responsif dan tidak bernapas normal, segera hubungi 112 atau 119.
Sambil menunggu bisa mulai kompresi dada di bagian tengah, keras dan cepat dengan hitungan 100-120 kali per menit dan kedalaman 5-6 cm, jika tersedia gunakan AED dan ikuti instruksi alat, lanjutkan sampai petugas medis datang atau korban kembali sadar.
"Bantuan sederhana yang dilakukan dengan cepat bisa menentukan antara hidup dan mati pasien tersebut," pungkas Agung. (Ant/Z-1)
Kematian jantung mendadak (Sudden Cardiac Death/SCD) menjadi ancaman serius yang tak bisa dianggap remeh.
Gangguan irama jantung atau aritmia kini menjadi salah satu penyebab meningkatnya kasus kematian jantung mendadak (Sudden Cardiac Death/SCD) di dunia
Golden time untuk pertolongan korban henti jantung mendadak adalah kurang dari 10 menit sehingga diperlukan alat yang dapat membantu memberikan pertolongan terbaik.
Kematian mendadak terkadang terjadi pada orang yang sehat dan bugar.
Kejadian henti jantung mendadak (HJM) sering terjadi di tempat umum dan keramaian dan menempati 50% dari kematian pada masalah jantung.
“Asuransi bukan sekadar produk, melainkan bagian dari strategi pengelolaan risiko untuk menjaga keberlangsungan usaha dalam jangka panjang,”
DATA Kementerian Kesehatan mencatat estimasi lebih dari 2,5 juta penduduk Indonesia hidup dengan kondisi autoimun.
Implementasi prinsip governance, risk, and compliance (GRC) atau tata kelola, risiko, dan kepatuhan adalah alat penting untuk membangun ketahanan.
Teknologi membuka peluang efisiensi baru — mulai dari underwriting yang lebih cepat dan presisi, hingga klaim otomasi dan prediksi risiko berbasis perilaku.
Sosialisasi ini bertujuan memberikan wawasan mengenai pentingnya identifikasi dan pengelolaan risiko dalam menjalankan usaha, terutama di sektor kuliner.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved