Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Waspadai Sindrom Eisenmenger: Pentingnya Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan pada Anak

Basuki Eka Purnama
18/2/2026 15:22
Waspadai Sindrom Eisenmenger: Pentingnya Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan pada Anak
Ilustrasi(Freepik)

PENANGANAN sedini mungkin terhadap Penyakit Jantung Bawaan (PJB) menjadi kunci utama untuk mencegah kerusakan permanen pada organ paru-paru

Jika terlambat ditangani, kebocoran aliran darah pada jantung dapat memicu tekanan tinggi pada paru yang berujung pada kondisi fatal yang disebut Sindrom Eisenmenger.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, dr. Oktavia Lilyasari, Sp.JP(K), FIHA, menjelaskan bahwa intervensi medis harus dilakukan sebelum terjadi komplikasi pada paru-paru. 

Menurutnya, aliran darah yang tidak normal akibat PJB dapat merusak jaringan pembuluh darah paru seiring berjalannya waktu.

“Sehingga tadinya yang harusnya penyakit jantung bawaan tidak biru, karena tekanan parunya tinggi, jantung kanan jadi tinggi tekanan aliran darah yang tadinya dari kiri ke kanan, pindah dari kanan ke kiri, jadi dia biru. Itu yang namanya Eisenmenger,” kata dokter yang akrab disapa Vivi ini dalam diskusi kesehatan memperingati Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan di Jakarta, dikutip Rabu (18/2).

Mengenal Golden Period

Sebagai Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki), Vivi menekankan adanya masa emas atau golden period dalam penanganan PJB. Hal ini berlaku baik untuk tipe PJB tidak biru (asianotik) maupun tipe biru (sianotik).

Beberapa kasus yang sering ditemui adalah Atrial Septal Defect (ASD) atau kebocoran pada sekat serambi jantung, serta Patent Ductus Arteriosus (PDA), yaitu kelainan akibat adanya sambungan lubang ke paru-paru yang bocor.

Jika kondisi ini dibiarkan tanpa tindakan medis, peningkatan aliran darah ke paru-paru akan merusak pembuluh darah dan jaringan paru secara permanen. 

Dampaknya, darah yang beredar ke seluruh tubuh menjadi miskin oksigen. Kondisi ini biasanya ditandai dengan kulit membiru (sianosis), kelelahan ekstrem, hingga sesak napas.

Risiko Kerusakan Permanen

Satu hal yang perlu diwaspadai adalah sifat kerusakan ini yang permanen. Vivi menjelaskan bahwa pada tahap ini, dokter tidak lagi bisa melakukan tindakan korektif, baik melalui prosedur bedah maupun nonbedah.

Meskipun dalam beberapa kasus gejala baru muncul saat pasien dewasa, Vivi mengingatkan bahwa kelainan paru atau pulmonary vascular disease bisa terjadi sangat cepat, bahkan pada anak usia 3 atau 4 tahun.

“Sehingga akhirnya kita memutuskan untuk tidak bisa dilakukan reparasi lagi. Tidak bisa diapa-apain lagi. Jadi kita akan edukasi ke orang tua, bahwa kita tidak bisa melakukan tindakan reparasi. Baik secara bedah atau non-bedah. Dan kemudian kita hanya bisa menjaga kualitas hidupnya,” tegasnya.

Bagi pasien yang sudah berada di tahap ini, pengobatan hanya bertujuan untuk menjaga kualitas hidup dan memperlambat progresivitas penyakit. 

Pasien diwajibkan mengonsumsi obat secara rutin seumur hidup agar tetap bisa beraktivitas, meskipun kapasitas fisiknya tidak akan pernah bisa normal seperti orang pada umumnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya