Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
GANGGUAN irama jantung atau aritmia menjadi penyebab utama kematian mendadak pada usia muda dan sering kali disalahartikan sebagai serangan jantung.
"Kasus kematian mendadak pada usia muda sering kali disebabkan oleh gangguan irama jantung, bukan serangan jantung. Insidennya mencapai
50-100 kasus per 100.000 populasi," kata Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Kardiologi Intervensi di RS Premier Bintaro
dr. Beny Hartono, Sp.JP, Subsp.KI(K), FIHA, FAPSC, dikutip Rabu (5/11).
Aritmia terjadi ketika detak jantung bekerja tidak normal; bisa terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan sehingga mengganggu pasokan darah ke organ vital. Jika tidak ditangani segera, kondisi itu dapat memicu henti jantung mendadak.
Beny, yang menyelesaikan pendidikan spesialis kardiologi dan kedokteran vaskular di Universitas Indonesia (UI), menjelaskan ada tiga jenis utama aritmia, yaitu bradikardia, takikardia, dan fibrilasi atrium.
Bradikardia ditandai dengan detak jantung kurang dari 60 kali per menit dan umumnya ditangani dengan alat pacu jantung untuk menstimulasi aktivitas listrik.
Takikardia terjadi saat jantung berdetak lebih dari 100-150 kali per menit sehingga jantung hanya bergetar tanpa memompa darah dan
membutuhkan tindakan defibrilasi atau kejutan listrik.
Jenis lainnya, fibrilasi atrium, merupakan bentuk aritmia yang paling sering dan berbahaya karena menyebabkan detak jantung tidak teratur dan darah menggumpal di ruang jantung.
"Fibrilasi atrium ini yang paling kita takutkan karena bisa menyebabkan stroke berat atau kematian," ujar Beny.
Penanganan aritmia dapat dilakukan dengan kateter ablasi, yakni memasukkan kateter kecil ke dalam jantung untuk menghancurkan sumber gangguan listrik, atau penutupan kuping jantung guna mencegah terbentuknya bekuan darah.
Sementara itu, Spesialis Neurologi RS Premier Bintaro dr. Meidianie Camellia, Sp.N, menjelaskan bahwa stroke merupakan salah satu komplikasi paling serius dari gangguan jantung.
Otak membutuhkan sekitar 20% aliran darah tubuh untuk bekerja optimal, sehingga gangguan sedikit saja dapat menyebabkan kerusakan permanen.
"Sekitar 90% faktor risiko stroke bersumber dari gaya hidup, seperti merokok, pola makan tinggi garam dan lemak, stres, kurang tidur, dan minim aktivitas fisik," kata lulusan spesialis saraf UI tersebut. (Ant/Z-1)
VILPA merupakan akitifitas singkat tetapi intens yang biasa kita lakukan. Durasi setiap aktivitas biasanya hanya 30–60 detik, tetapi intensitasnya cukup tinggi.
Sseorang yang terbiasa terpapar sinar matahari aktif umumnya memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit kardiovaskular (CVD) dan kematian nonkanker/non-CVD.
Tingkat kematian akibat stroke di Indonesia mencapai 178,3 per 100.000 penduduk (disesuaikan dengan usia).
Kematian jantung mendadak (Sudden Cardiac Death/SCD) menjadi ancaman serius yang tak bisa dianggap remeh.
Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa sesaat sebelum kematian, otak memperlihatkan peningkatan aktivitas yang tidak biasa.
Di era digital, informasi menyebar dengan cepat, terutama melalui media sosial. Namun, tidak semua kabar yang viral dapat dipercaya
Angka kejadian stroke usia muda di bawah 40 tahun cenderung meningkat, salah satunya karena beban kerja yang tinggi sehingga meningkatkan stres.
Meski sering dianggap sebagai penyakit orang tua, para ahli menegaskan bahwa stroke dapat menyerang siapa saja, bahkan di usia muda.
Kasus kanker di kalangan usia muda terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, menimbulkan kekhawatiran di kalangan dokter dan pasien.
Faktor pemicu katarak antara lain kebiasaan hidup tidak sehat serta melonjaknya angka kasus diabetes.
Penyakit jantung kini semakin sering menyerang usia muda, bahkan sejak remaja. Simak penyebab, faktor risiko, serta langkah pencegahan dini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved