Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Waspada Bahaya Fatal di Balik Gas Tertawa, Mulai dari Kerusakan Otak hingga Kematian

Basuki Eka Purnama
31/1/2026 21:50
Waspada Bahaya Fatal di Balik Gas Tertawa, Mulai dari Kerusakan Otak hingga Kematian
Ilustrasi(Freepik)

BELAKANGAN ini, penggunaan gas dinitrogen oksida N2O atau yang populer dikenal sebagai "gas tertawa" untuk tujuan rekreasi mulai meresahkan. Meski memberikan sensasi euforia singkat, para pakar kesehatan dan otoritas keamanan mengingatkan bahwa zat ini menyimpan ancaman serius yang bisa berakibat fatal bagi organ tubuh manusia.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menegaskan bahwa penyalahgunaan  secara berulang dapat merusak sistem saraf pusat secara permanen.

“Pada mereka yang berkali-kali menghisap  dapat menimbulkan gangguan neurologik dan bahkan gangguan otak,” ujar Prof Tjandra, dikutip Sabtu (31/1).

Berdasarkan data dari Food and Drug Administration (FDA), Prof Tjandra merinci berbagai dampak negatif yang bisa muncul seketika maupun dalam jangka panjang. 

Efek jangka pendek meliputi sakit kepala hebat hingga asfiksia atau kondisi kekurangan oksigen yang bisa berujung fatal. 

Selain itu, penyalahgunaan zat ini dapat memicu timbulnya bekuan darah, gangguan hitung darah, serta menghambat fungsi saluran pembuangan (buang air besar dan kecil).

Tidak berhenti di sana, dampak neurologis yang ditimbulkan juga mencakup kelemahan pada tungkai yang menyebabkan seseorang sulit melangkah atau berjalan. 

Secara psikis, pengguna terancam mengalami gangguan kejiwaan serius seperti depresi, paranoid, hingga halusinasi.

“Data lain juga menunjukkan penggunaan  berkepanjangan dapat menurunkan kesuburan atau fertilitas dan pada keadaan tertentu menimbulkan keguguran,” tambah Direktur Pascasarjana Universitas YARSI tersebut.

Target serangan utama dari gas ini adalah sistem pernapasan, sistem saraf, dan sistem reproduksi. Hal ini sejalan dengan peringatan dari The National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) yang menyebutkan gejala tambahan berupa pusing, radang dingin (frostbite) pada jaringan bawah kulit, hingga gangguan kesadaran yang dapat menyebabkan kematian pada kasus yang berat.

Senada dengan peringatan medis tersebut, Badan Narkotika Nasional (BNN) RI juga mengeluarkan imbauan keras kepada masyarakat agar tidak mencoba mengonsumsi gas ini untuk hiburan. 

Kepala BNN RI, Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, menjelaskan bahwa  sering disalahgunakan dalam bentuk inhalan untuk mendapatkan sensasi relaksasi sesaat.

“Bukan untuk konsumsi rekreasi. Efek euforianya singkat, tetapi risikonya fatal dan permanen,” tegas Komjen Pol. Suyudi.

Dengan segala risiko kesehatan yang ada, Prof Tjandra mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dan tidak mempertaruhkan kesehatan demi kesenangan sementara. 

“Dengan berbagai bahaya yang ada maka jangan menggunakan  untuk alasan sensasi sesaat,” pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya