Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Penyumbatan Aliran Darah ke Otak Jadi Penyebab Stroke Iskemik

Muhammad Ghifari A
23/12/2025 20:34
Penyumbatan Aliran Darah ke Otak Jadi Penyebab Stroke Iskemik
Ilustrasi(Freepik)

Stroke tetap menjadi penyebab kematian kedua terbesar di dunia serta salah satu penyakit utama yang menimbulkan kecacatan jangka panjang. Stroke iskemik terjadi ketika aliran darah ke area tertentu di otak terhenti akibat adanya penyumbatan di pembuluh darah. 

Saat kondisi ini muncul, sel-sel otak kekurangan oksigen dan bisa mati dalam waktu singkat. Oleh karena itu, penanganan yang cepat sangat penting untuk menyelamatkan pasien.

Untuk menggali lebih dalam tentang kerusakan otak yang terjadi pada stroke iskemik, para peneliti dari berbagai lembaga di Indonesia melakukan penelitian eksperimen menggunakan tikus. 

Dalam studi ini, mereka menciptakan model stroke dengan menyumbat pembuluh darah karotis komunis kiri tikus selama 60 dan 180 menit. Setelah itu, mereka mengevaluasi fungsi motorik serta perubahan yang terjadi pada sel-sel otak dan biomarker yang terkait dengan kerusakan otak.

Bagaimana Cara Menilai Kerusakan Otak?

Tim peneliti mengidentifikasi tiga indikator utama:

1. Motorik

Kemampuan gerak diuji dengan ladder rung walking test yang mencakup penilaian kesalahan langkah kaki dan akurasi penempatan kaki. 

Tikus yang mengalami stroke menunjukkan peningkatan kesalahan dalam melangkah, terutama setelah 180 menit oklusi, menunjukkan adanya gangguan dalam koordinasi gerakan.

2. Neuron

Pewarnaan jaringan otak menunjukkan berkurangnya jumlah dan distribusi neuron pada tikus yang mengalami stroke, dengan penurunan paling parah pada kelompok yang mengalami oklusi selama 180 menit. Ini menegaskan bahwa semakin lama aliran darah terputus, semakin banyak sel otak yang mengalami kematian.

3. Biomarker Otak dalam Darah

Pada tikus yang mengalami stroke, terdapat tiga biomarker utama yang menunjukkan peningkatan signifikan secara bersamaan. 

Pertama, MMP-9 yang mengindikasikan adanya peradangan saraf. Kedua, S100B yang menunjukkan terjadinya kerusakan pada sel glia atau astrosit. Ketiga, GFAP yang menjadi tanda adanya perubahan struktural serta aktivasi pada sel astroglia.

?Ketiga biomarker tersebut menunjukkan tingkat peningkatan paling tinggi pada kelompok subjek yang mengalami oklusi selama 180 menit. Fenomena ini membuktikan bahwa pelanggaran atau kerusakan pada sawar darah otak menyebabkan protein-protein dari otak terlepas dan masuk ke dalam sirkulasi darah.

Apa Artinya untuk Kita?

Selama ini, diagnosis stroke sering kali bergantung pada CT scan atau MRI yang tidak selalu dapat diakses, terutama di daerah terpencil. 

Penelitian ini menunjukkan bahwa di masa depan, uji darah dapat membantu dalam mengidentifikasi stroke dengan lebih cepat dan mudah. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut pada manusia sebelum metode ini dapat diterapkan secara luas di rumah sakit. Sumber: Universitas Airlangga



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik