Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Waspada 'Brain Fog' di Usia 20-an: 7 Kebiasaan yang Mempercepat Penuaan Otak

Putri Rosmalia Octaviyani
26/2/2026 16:42
Waspada 'Brain Fog' di Usia 20-an: 7 Kebiasaan yang Mempercepat Penuaan Otak
Ilustrasi, pemeriksaan kesehatan otak.(Dok. Freepik)

MEMASUKI tahun 2026, tantangan kesehatan saraf pada generasi muda semakin kompleks. Data medis terbaru menunjukkan bahwa gaya hidup modern mempercepat proses penuaan dan mengganggu kesehatan otak secara drastis, bahkan memicu kondisi yang dikenal sebagai Atrofi Serebri atau penyusutan volume otak di usia produktif.

Menurut para ahli neurologi, otak manusia memiliki plastisitas untuk berkembang, namun kebiasaan buruk yang dilakukan secara kronis dapat merusak neuron secara permanen. Berikut adalah 7 kebiasaan yang merusak otak di usia muda dan cara mencegahnya:

7 Kebiasaan yang Mempercepat Penuaaan Otak di Usia Muda

1. Revenge Bedtime Scrolling (Doomscrolling)

Kebiasaan membalas dendam waktu luang dengan bermain ponsel hingga larut malam sangat berbahaya. Selain memicu insomnia, paparan blue light menghambat pelepasan melatonin. Padahal, saat tidur otak melakukan proses pembersihan racun sisa metabolisme (sistem glimfatik).

2. AI Cognitive Offloading

Ketergantungan berlebih pada kecerdasan buatan (AI) untuk tugas-tugas berpikir dasar dapat membuat kemampuan kognitif menurun. Otak ibarat otot; jika jarang digunakan untuk memecahkan masalah secara mandiri, maka fungsi sirkuit sarafnya akan melemah.

3. Fenomena 'Bed Rotting'

Tren menghabiskan waktu seharian di tempat tidur tanpa aktivitas fisik (bed rotting) kini menjadi perhatian serius. Kurangnya aktivitas fisik mengurangi aliran darah dan oksigen ke otak, yang berdampak pada penurunan fokus dan daya ingat.

4. Diet Tinggi Ultra-Processed Foods (UPF)

Makanan instan, sosis, dan minuman manis bukan hanya buruk bagi jantung, tapi juga otak. Kandungan zat aditif dan gula tinggi memicu peradangan kronis di otak yang mempercepat penurunan fungsi memori.

5. Gaya Hidup Sedenter (Kurang Gerak)

Duduk lebih dari 6 jam sehari tanpa aktivitas fisik terbukti berkaitan dengan penipisan lobus temporal medial, area otak yang krusial untuk menyimpan memori jangka panjang.

6. Kurangnya Interaksi Sosial Nyata

Interaksi sosial digital tidak bisa menggantikan stimulasi otak yang didapat dari pertemuan tatap muka. Isolasi sosial meningkatkan risiko depresi dan mempercepat penurunan massa abu-abu (gray matter) di otak.

7. Kurang Minum Air (Dehidrasi Ringan)

Otak terdiri dari sekitar 75% air. Dehidrasi ringan yang terjadi terus-menerus dapat mengganggu keseimbangan elektrolit di saraf, menyebabkan otak harus bekerja lebih keras untuk menyelesaikan tugas sederhana.

Tips Mencegah Kerusakan Otak

  • Tidur Teratur: Usahakan 7-9 jam tidur berkualitas setiap malam.
  • Olahraga Rutin: Minimal 150 menit per minggu untuk meningkatkan aliran darah ke saraf.
  • Brain Training: Kurangi penggunaan AI untuk hal sepele; latih otak dengan membaca buku atau belajar keterampilan baru secara manual.
  • Kelola Stres: Meditasi atau teknik pernapasan dapat menurunkan hormon kortisol yang merusak neuron.

Menjaga kesehatan otak sejak usia muda adalah investasi terbaik untuk menghindari risiko demensia dan Alzheimer di masa depan. Mulailah dengan mengubah satu kebiasaan kecil hari ini demi masa tua yang lebih berkualitas. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya