Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Bukan Sekadar Pegal, Nyeri Punggung Kronis Ternyata Mengubah Cara Kerja Otak

Thalatie K Yani
08/3/2026 08:33
Bukan Sekadar Pegal, Nyeri Punggung Kronis Ternyata Mengubah Cara Kerja Otak
Ilustrasi(freepik)

Pernahkah Anda merasa sangat terganggu dengan suara pisau yang menggores piring? Bagi sebagian besar orang, suara itu hanya gangguan lewat. Namun, bagi penderita nyeri punggung kronis, suara berisik seperti itu bisa terasa jauh lebih menyiksa dan sulit diabaikan.

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Annals of Neurology mengungkapkan fakta mengejutkan: nyeri punggung jangka panjang dapat mengubah cara otak bereaksi terhadap pengalaman sensorik sehari-hari. Fenomena ini disebut sebagai sensitisasi sentral, di mana sistem saraf menjadi terlalu responsif terhadap sinyal apa pun yang masuk, bukan hanya rasa sakit fisik.

Otak yang Menjadi "Terlalu Sensitif"

Penelitian yang melibatkan tim ahli dari University of Colorado dan University Medical Center Hamburg Eppendorf ini mengamati 142 penderita nyeri punggung kronis dan 51 orang sehat. Melalui pemindaian MRI, peneliti melihat bagaimana otak mereka merespons dua hal: suara gesekan pisau pada kaca dan tekanan pada kuku jempol.

Hasilnya, penderita nyeri punggung menilai kedua stimulus tersebut jauh lebih tidak menyenangkan dibandingkan kelompok sehat. Menariknya, perbedaan paling mencolok justru ditemukan pada respons terhadap suara, bukan tekanan fisik.

Pemindaian otak menunjukkan aktivitas yang lebih kuat pada auditory cortex (pusat pemrosesan suara) dan insula (area yang memberi makna emosional pada sensasi). Sebaliknya, area otak yang bertugas mengatur emosi justru menunjukkan aktivitas yang rendah. Artinya, otak penderita nyeri punggung kehilangan kemampuan untuk "meredam" sensasi yang mengganggu.

Mirip dengan Gejala Fibromialgia

Peneliti menemukan pola aktivitas otak ini sangat mirip dengan penderita fibromialgia, kondisi nyeri seluruh tubuh yang disertai sensitivitas tinggi terhadap cahaya, bau, dan suara. Hal ini menunjukkan bahwa berbagai kondisi nyeri kronis mungkin memiliki mekanisme otak yang serupa.

Kabar baiknya, penelitian ini juga menguji efektivitas Pain Reprocessing Therapy (PRT). Terapi ini berfokus pada melatih ulang cara otak menafsirkan sinyal rasa sakit. Peserta diajarkan untuk memahami bahwa banyak sinyal nyeri kronis berasal dari aktivitas otak, bukan kerusakan jaringan tubuh yang nyata.

Harapan Lewat Pelatihan Ulang Otak

Setelah menjalani terapi selama empat minggu, hasil pemindaian menunjukkan perubahan positif. Peserta melaporkan berkurangnya rasa terganggu terhadap suara-suara tidak menyenangkan. Aktivitas otak mereka di bagian medial prefrontal cortex, area yang mengendalikan emosi, mengalami peningkatan.

Temuan ini memberikan penjelasan medis bagi jutaan orang yang selama ini merasa nyeri punggungnya tidak terdeteksi melalui rontgen atau tes fisik biasa. Nyeri tersebut nyata, namun akarnya telah berpindah ke sistem saraf pusat. (Earth/Z-2)

Dengan terapi yang tepat, sensitivitas tinggi ini terbukti tidak permanen. Otak manusia memiliki fleksibilitas untuk dilatih ulang, memberikan harapan baru bagi jutaan orang untuk kembali menjalani hidup tanpa gangguan sensorik yang menyiksa. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya