Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Mengenal Digital Dementia, dari Scrolling ke Pikun Dini: Mengenal Tahapan Kerusakan Otak akibat Gadget

Putri Rosmalia Octaviyani
26/2/2026 16:55
Mengenal Digital Dementia, dari Scrolling ke Pikun Dini: Mengenal Tahapan Kerusakan Otak akibat Gadget
Ilustrasi, seorang anak kecanduan bermain gadget.(Dok. Freepik)

FENOMENA Digital Dementia kini menjadi ancaman nyata bagi kesehatan otak generasi muda di tahun 2026. Para ahli neurologi mengungkapkan bahwa ketergantungan akut pada gadget menyebabkan degradasi fungsi otak atau kerusakan otak secara bertahap, yang jika dibiarkan dapat memicu kerusakan permanen.

Berikut adalah tahapan kerusakan otak akibat penggunaan gadget berlebih yang perlu diwaspadai:

1. Tahap Gangguan Fokus (Attention Decay)

Tahap awal ditandai dengan menurunnya rentang perhatian (attention span). Otak yang terbiasa dengan stimulasi dopamin cepat dari video pendek akan kesulitan melakukan pemikiran mendalam (deep thinking) dan mudah merasa bosan saat melakukan tugas kompleks.

2. Tahap Pelemahan Memori (Cognitive Offloading)

Pada tahap ini, individu mulai kehilangan kemampuan retensi informasi. Ketergantungan pada mesin pencari dan asisten AI membuat hippocampus jarang bekerja, sehingga daya ingat jangka pendek menurun drastis.

3. Tahap Ketidakseimbangan Otak

Penggunaan gadget yang intensif memicu penggunaan otak kiri secara berlebihan untuk memproses informasi digital, sementara otak kanan yang mengatur memori emosional dan kreativitas mengalami penurunan aktivitas. Hal ini sering memicu gangguan kecemasan dan kesulitan bersosialisasi.

4. Tahap Atrofi Serebri (Pikun Dini)

Tahap akhir adalah terjadinya penyusutan volume otak secara fisik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa anak muda dengan kecanduan gadget berat memiliki kepadatan massa abu-abu (gray matter) yang lebih rendah, mirip dengan otak penderita demensia pada lansia.

Segera lakukan konsultasi jika Anda sering merasa 'brain fog', sulit fokus, dan mengalami penurunan daya ingat jangka pendek secara signifikan dalam aktivitas sehari-hari.

Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, para ahli merekomendasikan pembatasan waktu layar (screen time) maksimal 2 jam di luar jam kerja dan rutin melakukan aktivitas fisik yang melatih koordinasi motorik. (H-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya