Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Waspada 'Digital Dementia'! Inilah Mengapa Otak Anak Muda Sekarang Lebih Cepat Menua

Putri Rosmalia Octaviyani
26/2/2026 16:49
Waspada 'Digital Dementia'! Inilah Mengapa Otak Anak Muda Sekarang Lebih Cepat Menua
Ilustrasi, dokter menjelaskan kondisi kesehatan otak pasien.(Dok. Freepik)

MEMASUKI tahun 2026, para ahli saraf di seluruh dunia mulai menyuarakan alarm bahaya terkait fenomena Digital Dementia. Kondisi ini merujuk pada kemunduran fungsi kognitif atau penurunan kesehatan otak pada individu muda akibat penggunaan teknologi digital yang tidak sehat dan berlebihan.

Berbeda dengan demensia pada lansia yang bersifat degeneratif karena usia, Digital Dementia dipicu oleh ketidakseimbangan perkembangan otak. Penggunaan gawai yang intens membuat otak bagian kiri bekerja sangat dominan, sementara otak bagian kanan yang mengatur konsentrasi dan memori jangka panjang menjadi terbengkalai.

Mengapa Otak Anak Muda Menua Lebih Cepat?

1. Atrofi Hippocampus Akibat Ketergantungan GPS

Penelitian menunjukkan bahwa ketergantungan penuh pada aplikasi navigasi membuat hippocampus—bagian otak yang mengatur memori spasial—menjadi kurang aktif. Jika jarang digunakan, bagian ini dapat menyusut, yang merupakan salah satu tanda awal penuaan otak prematur.

2. Rusaknya Rentang Perhatian (Attention Span)

Konsumsi konten video pendek yang instan melatih otak untuk mengharapkan dopamin cepat. Akibatnya, sirkuit saraf yang bertanggung jawab atas fokus mendalam menjadi lemah, membuat anak muda sulit berkonsentrasi pada tugas-tugas kompleks atau membaca buku fisik.

3. Fenomena 'Cognitive Offloading'

Dengan adanya asisten AI, banyak anak muda berhenti melatih kemampuan analisis dan logika mereka. Proses berpikir yang seharusnya membangun koneksi sinapsis baru kini digantikan oleh algoritma, yang secara perlahan menurunkan kapasitas intelektual alami manusia.

Gejala Digital Dementia pada Usia Produktif:

  • Kesulitan mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
  • Sering merasa 'brain fog' atau kebingungan mental.
  • Kemampuan bersosialisasi secara langsung menurun.
  • Kesulitan membuat keputusan tanpa bantuan aplikasi.

Cara Mencegah dan Memulihkan Fungsi Otak

Kabar baiknya, otak manusia memiliki sifat neuroplasticity, artinya kerusakan ini masih bisa diperbaiki dengan perubahan gaya hidup:

  • Digital Fasting: Sisihkan waktu minimal 1-2 jam sehari tanpa menyentuh layar gawai sama sekali.
  • Aktivitas Sensorik: Lakukan hobi yang melibatkan tangan dan koordinasi fisik, seperti melukis, bermain alat musik, atau merajut.
  • Membaca Mendalam: Biasakan membaca artikel panjang atau buku fisik untuk melatih kembali daya tahan konsentrasi otak.
  • Olahraga Aerobik: Aktivitas fisik meningkatkan aliran oksigen ke otak dan memicu produksi protein yang mendukung pertumbuhan sel saraf baru.

Menjaga kesehatan otak di era digital memerlukan kesadaran penuh. Jangan biarkan kemudahan teknologi merampas kemampuan kognitif alami Anda. Mulailah membatasi layar dan aktifkan kembali daya pikir kreatif Anda hari ini. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya