Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
DEMENSIA atau alzheimer sering kali dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan yang hanya menyerang lansia. Faktanya, demensia merupakan gangguan fungsi otak yang tidak normal dan bisa menyerang siapa pun, termasuk remaja hingga anak-anak. Kondisi ini dikenal sebagai Young-Onset Dementia (Demensia Usia Muda), yaitu penurunan fungsi kognitif yang muncul sebelum seseorang menginjak usia 65 tahun.
Meskipun pemicu utamanya mirip dengan demensia pada lansia, terdapat jenis tertentu seperti Frontotemporal Dementia (FTD) yang justru lebih sering ditemukan pada penderita usia muda. Faktor risiko ini menuntut kewaspadaan dini agar kerusakan saraf tidak semakin parah.
1. Penyakit Alzheimer Genetik: Mutasi genetik yang diturunkan dalam keluarga dapat memicu Alzheimer langka atau atipikal pada orang berusia di bawah 65 tahun.
2. Down Syndrome: Individu dengan kondisi ini memiliki risiko lebih tinggi mengalami penurunan fungsi kognitif atau demensia.
3. Penyakit Kardiovaskular & Diabetes: Gangguan aliran darah ke otak akibat penyakit jantung, diabetes, atau kelainan genetik langka seperti CADASIL dapat menyebabkan demensia vaskular.
4. Faktor Genetik Spesifik: Kerusakan pada area otak bagian depan dan samping akibat faktor keturunan dapat memicu demensia frontotemporal.
5. Penumpukan Protein: Akumulasi protein abnormal yang disebut Lewy body di otak dapat merusak sel saraf dan menyebabkan Lewy Body Dementia (LBD).
6. Konsumsi Alkohol & Defisiensi Nutrisi: Konsumsi alkohol berlebih dapat menyebabkan kekurangan vitamin B1 yang memicu kerusakan sel otak, serta meningkatkan risiko cedera kepala.
Demensia pada usia muda ini mempunyai gejala yang mirip dengan demensia pada lansia, yaitu:
1. Gangguan memori: Sering lupa informasi baru atau menanyakan hal yang sama berulang kali.
2. Kesulitan komunikasi: Sulit menemukan kata yang tepat, kesulitan membaca, menulis, atau memahami orang lain.
3. Perubahan perilaku: Menarik diri dari interaksi sosial, depresi, atau perubahan suasana hati yang cepat.
4. Disorientasi: Bingung arah di tempat yang familiar atau kesulitan membuat keputusan sederhana.
5. Penurunan fisik: Kejang otot, gangguan keseimbangan, hingga kesulitan menelan (pada kasus genetik tertentu).
Meskipun beberapa penyebab bersifat genetik, banyak jenis demensia dapat dicegah atau diperlambat risikonya dengan pola hidup sehat:
1. Aktivitas Fisik Rutin: Olahraga melancarkan aliran darah dan oksigen ke otak.
2. Nutrisi Otak: Konsumsi sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan minyak zaitun (kaya antioksidan dan omega-3).
3. Hindari Zat Berbahaya: Berhenti merokok dan tidak mengonsumsi alkohol secara berlebihan.
4. Latih Ketajaman Otak: Rajin membaca, bermain catur, atau mempelajari keterampilan baru untuk menjaga koneksi sel saraf.
5. Kelola Kesehatan Mental: Menghindari stres berlebihan dan tetap aktif bersosialisasi.
6. Kontrol Medis: Menjaga tekanan darah, gula darah, dan kolesterol tetap normal.
(H-4)
Obesitas bukan sekadar berat badan berlebih, tapi penyakit kronis. Simak penjelasan dr. Vardian Mahardika mengenai risiko PCOS, Alzheimer, hingga sleep apnea.
Studi terbaru mengungkap fenomena "SuperAger", lansia berusia 80-an dengan memori luar biasa yang memiliki sel otak muda lebih banyak daripada orang dewasa normal.
Studi terbaru mengungkap menopause pengaruhi struktur otak, volume materi abu-abu, hingga risiko demensia. Simak dampak psikologis dan peran terapi hormon.
STUDI dari Spanyol melakukan sebuah penelitian untuk mencoba membantu diagnosis penyakit Alzheimer pada usia 50 tahun. Percobaan itu dilakukan dengan melakukan tes darah.
Penelitian terbaru terhadap 125.000 perempuan mengungkap menopause memicu penyusutan volume otak.
Selama bertahun-tahun, hilangnya kromosom Y pada pria lanjut usia dianggap sebagai bagian biasa dari proses menua.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved