Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGGUNAAN gas dinitrogen oksida (N2O) atau yang populer dikenal sebagai gas tertawa tengah menjadi sorotan tajam bagi para pakar kesehatan dan otoritas keamanan.
Meski sering disalahgunakan untuk mencari sensasi euforia sesaat, pakar kesehatan mengingatkan bahwa dampak dari inhalasi gas ini bisa berakibat fatal bagi organ vital manusia.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara periode 2018-2020, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menegaskan bahwa penyalahgunaan yang dilakukan secara berulang dapat merusak sistem saraf pusat secara permanen.
“Pada mereka yang berkali-kali menghisap dapat menimbulkan gangguan neurologik dan bahkan gangguan otak,” ujar Prof. Tjandra, dikutip Minggu (1/2).
Berdasarkan data dari Food and Drug Administration (FDA), Prof. Tjandra, yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), merinci berbagai dampak negatif yang mengintai kesehatan.
Selain sakit kepala dan asfiksia (kekurangan oksigen), gas ini dapat memicu terbentuknya bekuan darah serta gangguan pada hitung darah.
Efek jangka panjangnya bahkan menyerang kemampuan fisik dasar manusia. Pengguna dapat mengalami kelemahan pada tungkai yang menyebabkan sulit melangkah atau berjalan. Tidak hanya itu, gangguan fungsional seperti masalah buang air besar dan kecil pun kerap dilaporkan.
“Data lain juga menunjukkan penggunaan berkepanjangan dapat menurunkan kesuburan atau fertilitas dan pada keadaan tertentu menimbulkan keguguran,” tambahnya.
Secara psikologis, penyalahgunaan gas ini tidak kalah mengerikan. Dampaknya meliputi depresi, paranoid, hingga halusinasi. Dalam kondisi yang lebih berat, gangguan kesadaran yang timbul akibat inhalasi dapat berujung pada kematian.
Senada dengan pakar kesehatan, Badan Narkotika Nasional (BNN) RI juga mengeluarkan imbauan keras kepada masyarakat agar tidak mengonsumsi gas yang sering disebut Whip Pink ini.
Di luar konteks medis, gas yang bersifat manis dan tak berwarna ini sering disalahgunakan sebagai inhalan untuk mendapatkan efek melayang atau relaksasi singkat.
Kepala BNN RI, Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, menegaskan bahwa risiko yang dipertaruhkan sangat tidak sebanding dengan kesenangan semu yang didapatkan.
"Bukan untuk konsumsi rekreasi. Efek euforianya singkat, tetapi risikonya fatal dan permanen," tegas Suyudi.
Prof. Tjandra pun menutup peringatannya dengan imbauan agar masyarakat tetap waspada dan tidak tergoda oleh tren berbahaya ini.
“Dengan berbagai bahaya yang ada maka jangan menggunakan untuk alasan sensasi sesaat,” pungkasnya. (Ant/Z-1)
Kesehatan otak seharusnya dirawat sejak dini melalui kebiasaan sehari-hari yang konsisten.
Penelitian terbaru mengungkap ekspresi wajah primata dan manusia adalah tindakan terencana, bukan sekadar respons emosional otomatis.
Sebuah penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal ilmiah dan dilansir oleh laman PsyPost mengungkap bahwa misi luar angkasa tidak hanya berdampak pada otot dan tulang manusia
Kolin merupakan nutrisi esensial yang berperan langsung dalam pengaturan suasana hati, daya pikir, dan emosi.
Pernahkah kamu melihat wajah pada rumput, batu, bangunan, atau mungkin benda-benda terdekat di sekitar?
Gangguan pola berjalan pada usia muda tak boleh diabaikan. Studi neurologi menyebut perubahan cara berjalan bisa menjadi sinyal awal gangguan otak dan saraf.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved