Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
MAKANAN cepat saji seperti burger, pizza, kentang goreng, es krim, dan cokelat sering kali sulit ditolak. Banyak orang berniat hanya makan sedikit, tetapi tanpa sadar justru mengonsumsi dalam jumlah besar. Fenomena ini ternyata bukan sekadar soal kurangnya pengendalian diri, melainkan berkaitan erat dengan sejarah evolusi manusia.
Sebelum manusia mengenal pertanian sekitar 12.000 tahun lalu, nenek moyang kita hidup dengan berburu dan meramu. Untuk mendapatkan makanan yang cukup saja sudah menjadi tantangan besar. Buah-buahan, telur, umbi, makanan laut, dan sesekali daging buruan menjadi sumber utama energi.
Dalam kondisi serba terbatas itu, tubuh manusia berevolusi untuk menyukai makanan yang kaya gula, lemak, dan garam zat yang penting untuk bertahan hidup. Gula menyediakan energi cepat bagi sel-sel tubuh. Lemak berfungsi sebagai cadangan energi jangka panjang sekaligus melindungi organ vital. Sementara garam membantu menjaga keseimbangan cairan serta fungsi saraf dan otot.
Karena ketiganya langka di alam, manusia purba yang tertarik pada makanan tinggi gula, lemak, dan garam memiliki peluang lebih besar untuk bertahan hidup. Dorongan ini tertanam kuat dalam sistem saraf kita hingga sekarang.
Penelitian menunjukkan saat kita mengonsumsi makanan tinggi gula, lemak, dan garam, pusat penghargaan di otak aktif dan melepaskan zat kimia yang menimbulkan rasa senang. Jalur saraf ini sama dengan yang terlibat dalam kecanduan zat adiktif.
Artinya, makanan cepat saji bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga memicu sensasi kenikmatan yang membuat kita ingin terus makan. Respons ini bekerja secara otomatis, sering kali tanpa melalui pertimbangan sadar tentang dampak jangka panjang bagi kesehatan.
Di era modern, makanan tinggi kalori tersedia dengan sangat mudah. Produsen makanan cepat saji merancang produknya agar “sempurna” dari sisi rasa mengombinasikan gula, lemak, dan garam dalam kadar yang menggugah selera.
Jika tidak menggunakan bahan alami, beberapa produk bahkan menambahkan penyedap seperti MSG untuk memperkuat cita rasa gurih yang diasosiasikan dengan lemak dan protein.
Kombinasi ini membuat makanan cepat saji sangat memuaskan lidah, sekaligus memanfaatkan kecenderungan biologis manusia untuk mencari energi padat.
Masalahnya, semakin sering kita mengonsumsi makanan tinggi gula, lemak, dan garam, respons otak terhadap rasa nikmat itu bisa menurun. Untuk mendapatkan sensasi yang sama, kita cenderung makan lebih banyak. Proses ini disebut habituasi, dan merupakan salah satu ciri pola kecanduan.
Jika dibiarkan, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko obesitas, penyakit jantung, diabetes, dan gangguan kesehatan lainnya.
Sebaliknya, makanan sehat seperti sayuran hijau tidak memicu respons penghargaan yang sama kuatnya. Dalam sejarah evolusi, makanan seperti daun dan tanaman relatif mudah ditemukan sehingga manusia tidak perlu mengembangkan dorongan kuat untuk mencarinya. Bahkan rasa pahit pada beberapa sayuran bisa memicu sinyal waspada karena dalam alam liar, rasa pahit sering dikaitkan dengan racun.
Para ilmuwan telah mencoba berbagai pendekatan, seperti meningkatkan sensitivitas rasa terhadap lemak agar orang merasa lebih cepat kenyang. Namun hingga kini, belum ada cara untuk menghilangkan sensasi nikmat yang muncul saat mengonsumsi makanan tinggi gula, lemak, dan garam.
Pada akhirnya, kesadaran dan pengaturan pola makan menjadi kunci. Makanan cepat saji tidak sepenuhnya terlarang, tetapi konsumsinya perlu dibatasi. Memasak sendiri dan merancang menu seimbang dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tanpa terjebak dalam pola makan berlebihan. (Youtube BBCEarthScience/Z-2)
Tiga rahang, termasuk satu milik anak-anak, gigi, tulang belakang, dan tulang paha ditemukan di sebuah gua yang dikenal sebagai Grotte à Hominidés di Thomas Quarry di Casablanca, Maroko
Selama bertahun-tahun, para ahli evolusi menghadapi celah besar dalam bukti fosil, khususnya antara satu juta hingga 600.000 tahun lalu.
Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa perilaku berciuman atau kontak bibir sudah muncul sejak 21 juta tahun lalu pada leluhur bersama manusia dan kera besar.
Penelitian genetika menunjukkan bahwa Homo sapiens puluhan ribu tahun lalu melakukan kawin silang berulang dengan Neanderthal, Denisovan, dan hominin lain.
Teori bahwa manusia berevolusi karena kebiasaan berlari jarak jauh sempat menuai perdebatan. Berlari menghabiskan energi lebih banyak dibanding berjalan
MINIMNYA aktivitas fisik disebut sebagai salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami demensia atau Alzheimer usia muda
Tontonan yang diakses secara terus-menerus memicu adiksi yang membuat anak enggan berhenti menatap layar.
Saat seseorang menguap, cairan serebrospinal (CSF) atau cairan yang melindungi dan menjaga fungsi sistem saraf pusat bergerak menjauh dari otak.
Selain sakit kepala dan asfiksia (kekurangan oksigen), gas tertawa dapat memicu terbentuknya bekuan darah serta gangguan pada hitung darah.
Kesehatan otak seharusnya dirawat sejak dini melalui kebiasaan sehari-hari yang konsisten.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved