Headline

Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.

Mengapa Bayi Manusia Lahir 'Tak Berdaya'?

Thalatie K Yani
23/2/2026 12:03
Mengapa Bayi Manusia Lahir 'Tak Berdaya'?
Ilustrasi(Unsplash)

SELAMA puluhan tahun, dunia sains meyakini sebuah teori populer. Bayi manusia lahir dalam kondisi sangat tidak berdaya karena adanya konflik antara ukuran otak yang besar dan panggul ibu yang sempit akibat evolusi berjalan tegak. Namun, sebuah tinjauan komprehensif terbaru membantah penyederhanaan tersebut.

Kenyataannya, kondisi bayi baru lahir yang sangat bergantung pada orang tua merupakan hasil dari tumpang tindih antara batasan anatomi dan batas metabolisme tubuh ibu.

Labirin di Saluran Lahir

Dr. Martin Haeusler dari University of Zurich (UZH) menunjukkan persalinan manusia tetap menjadi proses yang sulit karena presisi anatomi yang luar biasa ketat. Di dalam saluran lahir, lubang masuk dan pintu keluar menghadap ke arah yang berbeda, memaksa bayi melakukan manuver putaran yang rumit.

Ketidakcocokan sekecil apa pun antara ukuran kepala janin dan bentuk panggul dapat memperlambat proses persalinan dan meningkatkan risiko bagi ibu maupun anak. Namun, Haeusler menekankan ini bukan sekadar masalah "otak besar versus panggul sempit".

Batas Energi Ibu

Salah satu temuan kunci adalah peran metabolisme. Menjelang akhir kehamilan, penggunaan energi harian seorang ibu mencapai ambang batas maksimal, yakni sekitar dua kali lipat dari energi saat istirahat. Begitu kebutuhan energi janin melampaui "langit-langit" metabolisme ini, tubuh ibu secara alami memulai proses persalinan.

Artinya, waktu kelahiran ditentukan oleh batas kemampuan fisik ibu dalam menyuplai energi, bukan hanya soal ukuran tulang panggul. Jika kehamilan diperpanjang satu bulan saja, kebutuhan energinya akan melampaui apa yang sanggup dipertahankan tubuh manusia.

Keuntungan Lahir 'Prematur'

Secara perkembangan, bayi manusia sebenarnya lahir "lebih awal" dibandingkan primata lain. Saat lahir, otak manusia belum mencapai 30% dari ukuran dewasa, sementara otak simpanse sudah mencapai 40%.

Meskipun hal ini membuat bayi manusia tidak bisa langsung berjalan atau menjaga suhu tubuh, ada keuntungan besar di baliknya: otak bayi memiliki waktu lebih lama untuk berkembang di dunia luar. Interaksi sosial, suara, dan rutinitas harian membentuk jaringan otak manusia dengan cara yang tidak mungkin dipraktikkan di dalam rahim.

Pentingnya Dukungan Sosial

Kondisi bayi yang tak berdaya ini hanya mungkin terjadi karena manusia memiliki budaya cooperative breeding atau pengasuhan bersama. Dukungan dari ayah, kakek-nenek, dan anggota komunitas lainnya memungkinkan ibu untuk pulih dan mencari makan, sembari membesarkan anak dengan masa kecil yang panjang.

Dr. Martin Haeusler mengingatkan bahwa pemahaman yang tepat mengenai berbagai batasan ini sangat penting bagi dunia medis dan pendidikan. "Penggunaan istilah 'dilema obstetri' yang tidak tepat menimbulkan kebingungan dan pencampuran berbagai ide yang berbeda."

Pada akhirnya, ketidakberdayaan bayi manusia bukanlah sebuah cacat evolusi, melainkan sebuah tawar-menawar yang jenius demi melindungi keselamatan ibu dan memberikan ruang bagi pertumbuhan otak yang luar biasa. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya