Headline

Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.

Idul Fitri dan Living Curriculum

Mahyudin Direktur Riset dan Publikasi Yayasan Sukma
16/3/2026 05:20
Idul Fitri dan Living Curriculum
(Dok. Pribadi)

MASYARAKAT Indonesia ialah masyarakat yang hidup dalam keragaman dan karena itu, dinamikanya kompleks. Konflik bisa muncul dari persoalan kecil, seperti ejekan atau kesalahpahaman, hingga pertikaian horizontal. Realitas itu, dengan segala ketegangannya, justru menjadi ruang belajar yang tak terhindarkan tentang hidup bersama. Kita tidak punya pilihan selain terus belajar, kadang dari kebaikan, kadang dari kesalahan, karena keberagaman ialah keseharian yang harus dijalani, bukan kondisi ideal yang ditunggu.

Persoalannya, pendidikan formal justru menjauh dari keseharian itu. Dua bulan terakhir ini masyarakat menjalani rangkaian peristiwa religius berurutan: Imlek, Ramadan, Nyepi, dan Idul Fitri. Riuh perayaan, hening penghayatan, sunyi perenungan, hingga gegap gempita kemenangan silih berganti, orkestra kebinekaan yang berlangsung alami, tanpa menunggu kurikulum selesai dirancang. Sementara itu, di dalam kelas, rutinitas statis masih mengunci pembelajaran pada jadwal dan target capaian.

 

KELAS YANG SESUNGGUHNYA

Di luar pagar sekolah, Indonesia menjalani immersive learning terbaiknya: laboratorium sosial tempat nilai-nilai luhur dipelajari melalui pengalaman langsung, berbagi kue keranjang, menahan lapar bersama, menghormati keheningan Nyepi, hingga bersalaman saling memaafkan. Itulah living curriculum yang setiap tahun diulang dan diperdalam.

Sayangnya, pendidikan formal kita justru menjauh dari realitas itu. Toleransi diajarkan sebagai materi hafalan, seolah keragaman ialah soal benar-salah dalam ujian. Sementara itu, di luar sana, masyarakat menjalani ujian jauh lebih kompleks. Ada manajer muslim yang memutar otak menyesuaikan jadwal kerja untuk karyawan yang merayakan Nyepi meski berbenturan dengan target perusahaan. Ada ibu kristiani yang menyiapkan hidangan berbuka untuk anak kos, tetapi bertanya-tanya apakah gesturnya dipahami atau sekadar rutinitas. Ada pemuda lintas iman yang bahu-membahu mengatur lalu lintas saat takbir keliling, tetapi tetap menghadapi tatapan curiga dari sebagian warga.

Di sinilah akal sebenarnya diuji, bukan sekadar memahami teori keragaman, melainkan juga memecahkan persoalan konkret dalam situasi yang tidak selalu ideal. Bahwa hubungan lintas iman tidak selalu mulus justru menjadi titik krusialnya. Gesekan tetap ada, salah paham masih sering terjadi, dan peristiwa yang melukai keragaman masih menghiasi berita. Dari ketidaksempurnaan itulah pembelajaran sejati lahir.

Semakin parah ketika sekolah, khususnya swasta berlabel 'unggulan' dan 'eksklusif', sengaja membangun homogenitas berdasarkan agama, ekonomi, atau budaya. Sekolah-sekolah itu menjadi enclaves (enklave): ruang steril, memutus siswa dari konteks sosial yang majemuk. Mereka berisiko melahirkan warga cakap akademik tetapi gagap sosial, mampu menjawab soal toleransi, tetapi kesulitan berkolaborasi dalam masyarakat yang berbeda. Sekolah homogen memproduksi kesadaran semu tentang pluralitas. Herbert Marcuse (1964) menyebutnya one-dimensional society: kemampuan berpikir kritis lumpuh, terjebak dalam 'kebutuhan palsu' akan harmoni instan. Padahal, Ki Hajar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai proses hidup bersama dalam kebudayaan. John Dewey menyebutnya learning by doing. Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan yang terlepas dari realitas hanya melahirkan kesadaran semu, tahu istilahnya, tetapi tidak mengalami maknanya.

Tantangan bagi dunia pendidikan kita: bagaimana menyiapkan siswa tidak hanya menghafal toleransi, tetapi juga mampu bertahan, berpikir kritis, dan bertindak adil dalam situasi yang riuh, tidak nyaman, dan penuh kompleksitas?

 

BELAJAR EMPATI MELALUI RITUAL

Jika olah cipta ialah kerja akal memahami perbedaan, olah rasa ialah kerja hati menghayatinya. Rangkaian perayaan itu ialah sekolah empati. Imlek mengajarkan makna keluarga. Ramadan mengajarkan ketahanan diri dan solidaritas. Nyepi mengajak merasakan kedamaian dalam kesunyian. Semua itu tak tergantikan oleh ceramah.

Praktik empati itu hidup dalam ruang pendidikan yang berani mencipta kebersamaan. Di Sekolah Sukma Bangsa Sigi, kehidupan berasrama dengan siswa muslim dan kristiani menjadikan empati sebagai praktik harian: guru kristiani membangunkan siswa muslim untuk sahur, sementara guru dan siswa muslim terlibat dalam perayaan Natal. Itu bukan teori toleransi, melainkan empati yang dihidupi.

Idul Fitri menjadi puncak olah rasa tersebut. 'Mohon maaf lahir dan batin' bukan formalitas, melainkan pengakuan atas kesediaan belajar dari relasi sosial yang rapuh dan terus diperbaiki.

 

MENUJU FITRAH PENDIDIKAN

Idul Fitri sebagai momen kembali ke fitrah menjadi metafora tepat bagi refleksi pendidikan. Fitrah pendidikan bukanlah angka ujian, melainkan kemampuan mengolah cipta, rasa, dan karsa dalam kehidupan majemuk.

Namun, living curriculum masyarakat tidak selalu indah. Ada pelajaran pahit: ejekan, curiga, diskriminasi, dan bahkan kekerasan atas nama agama. Sekolah yang hidup tidak boleh berpaling dari realitas itu. Justru di sinilah peran penting pendidikan: menjadi ruang konversi, tempat pengalaman negatif diolah menjadi pemahaman kritis. Bukan dengan menggurui, melainkan dengan menyediakan ruang dialog aman, tempat siswa bisa bertanya, meragukan, bahkan berdebat, dalam bingkai saling menghormati.

Sekolah homogen tidak akan pernah bisa menyediakan ruang konversi seperti itu. Sementara itu, sekolah yang merawat keragaman, seperti Sekolah Sukma Bangsa Sigi dengan manajemen konflik berbasis sekolah (MKBS), telah membuktikan bahwa konflik kecil sehari-hari justru menjadi guru paling efektif. MKBS mengintegrasikan nilai-nilai resolusi konflik, mediasi sejawat, peaceable classroom, hingga peaceable school dengan mekanisme negosiasi, mediasi, dan rekomendasi. Berbeda dari sekolah lain yang menunggu konflik reda dengan kekuasaan guru, MKBS mengajari siswa menyelesaikan sendiri konflik mereka karena pada akhirnya, konflik apa pun berakar dari hal yang sama: ketidakmampuan kita menghargai keberadaan orang lain.

Praktik seperti itu perlu dikaji lebih dalam dan disebarluaskan, bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk memperkaya khazanah pendidikan Indonesia. Masih diperlukan riset lanjutan untuk mengukur sejauh mana sistem seperti MKBS membekali siswa menghadapi kemajemukan di luar sekolah. Pertanyaan-pertanyaan itu penting dijawab agar praktik baik tidak sekadar seremonial, tetapi juga benar-benar menjadi pembelajaran kolektif. Agar gerakan menciptakan sekolah yang aman, nyaman, dan menghargai keberagaman dapat diwujudkan secara sistemis dan berkelanjutan.

Setiap orang bisa menjadi guru, setiap rumah bisa menjadi sekolah. Hari ini, sekolah itu bernama Indonesia, tempat pendidikan kembali pada maknanya yang paling mendasar: proses memanusiakan manusia melalui apa yang dihidupi bersama.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik