Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
MOMEN silaturahmi Lebaran sering kali diwarnai dengan rasa gemas orang dewasa saat bertemu anak-anak. Namun, pakar kesehatan mengingatkan agar ekspresi kasih sayang tersebut tidak dilakukan secara sembarangan, terutama dalam hal kontak fisik dan pemberian makanan.
Dokter Spesialis Anak, dr. Leonirma Tengguna, M.Sc, Sp.A, CIMI, menekankan bahwa kebiasaan asal sentuh dan asal cium memiliki risiko kesehatan yang nyata bagi anak. Hal ini disebabkan oleh kondisi sistem imun anak yang belum sempurna dibandingkan orang dewasa.
"Gemas sama anak orang boleh, tapi jangan main cium, pegang, apalagi asal suapin. Kita gak tau kuman apa yang nempel di tangan kita dan apakah makanan itu aman dimakan si anak," ujar Leonirma melalui unggahan di akun Instagram @dokteranak_leonirma, dikutip Kamis (12/3).
Menurut Leonirma, tangan yang terpapar kuman dapat menjadi pintu masuk penyakit bagi anak yang daya tahan tubuhnya masih rentan.
Selain kontak fisik, kebiasaan memberikan makanan atau menyuapi anak secara sembarangan juga menjadi sorotan tajam.
Pemberian makanan tanpa izin orangtua berisiko memicu reaksi alergi. Orang luar sering kali tidak mengetahui riwayat medis atau pantangan makanan yang dimiliki sang anak.
Oleh karena itu, dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini menyarankan agar siapa pun yang ingin berinteraksi lebih jauh dengan anak harus meminta izin terlebih dahulu kepada orangtua anak itu.
Untuk menjaga agar momen silaturahmi tetap aman dan sehat, Leonirma membagikan beberapa panduan praktis:
Peringatan ini menjadi sangat relevan mengingat situasi kesehatan di Indonesia saat ini, ketika penyakit menular seperti super flu dan campak tengah merebak.
Penyakit-penyakit ini dikenal memiliki daya tular yang cepat jika tidak diimbangi dengan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Sebagai penutup, Leonirma memberikan pesan singkat namun tegas bagi para tamu yang ingin menunjukkan rasa sayangnya saat Lebaran.
"Kasih THR-nya aja. Sayang anak gak harus pegang, peduli gak harus bikin anak sakit," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Diprediksi puncak arus mudik Lebaran 2026 akan meningkat sebesar 26,29%, dari kondisi normal 169.868 kendaraan menjadi sekitar 214.533 kendaraan.
Gangguan pencernaan kerap muncul akibat pergeseran pola makan dari masa Ramadan ke Lebaran, terutama saat konsumsi makanan tinggi lemak meningkat sementara asupan serat justru berkurang.
Kejernihan kaca depan adalah kunci keselamatan, terutama mengingat cuaca yang tidak menentu selama musim mudik.
Keluhan kesehatan mental yang muncul cukup beragam, mulai dari gangguan tidur, rasa cemas berlebihan, jantung berdebar, hingga sesak napas.
Laporan Halodoc Q1 2026 mencatat lonjakan gangguan kecemasan dan masalah pencernaan selama Ramadan hingga Idul Fitri.
Penguatan pelayanan kesehatan primer, terutama Puskesmas dan Posyandu, harus menjadi prioritas dalam strategi nasional penanganan kesehatan mental anak.
Pemerintah mengajak para orangtua untuk kembali menghadirkan waktu berkualitas di rumah melalui gerakan #SatuJamBerkualitas Bersama Keluarga.
Tingginya mobilitas masyarakat, terutama pada momen libur lebaran, menjadi salah satu faktor risiko yang patut diwaspadai orangtua mengenai risiko campak pada anak.
Waktu ideal untuk pemberian vaksinasi adalah minimal 14 hari atau dua pekan sebelum keberangkatan guna memastikan perlindungan optimal selama liburan.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved