Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
EUFORIA perayaan Idul Fitri sering kali dibarengi dengan perubahan pola makan yang drastis. Menanggapi fenomena ini, Dokter Spesialis Penyakit Dalam mitra Halodoc, dr. Waluyo Dwi Cahyono, Sp.PD-KEMD, FINASIM, mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga kontrol konsumsi makanan guna mencegah sembelit, diare, hingga lonjakan gula darah yang tidak terkendali.
Menurut Waluyo, gangguan pencernaan kerap muncul akibat pergeseran pola makan dari masa Ramadan ke Lebaran, terutama saat konsumsi makanan tinggi lemak meningkat sementara asupan serat justru berkurang.
“Untuk menghindari sembelit harus diimbangi dengan sayuran dan buah. Serat penting supaya tidak terjadi gangguan buang air besar,” ujar Waluyo, dikutip Kamis (12/3).
Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada ini menekankan pentingnya menjaga komposisi makanan yang seimbang di meja makan.
Salah satu poin krusial yang ia soroti adalah pengendalian porsi pada makanan pelengkap yang sering dianggap sepele, seperti kerupuk.
Meski terlihat ringan, kerupuk mengandung karbohidrat yang perlu diperhitungkan, terutama bagi penderita diabetes.
“Sudah makan nasi, lalu tambah kerupuk. Itu tetap tambahan karbohidrat. Kalau tidak dihitung kalorinya, gula darah pasti naik,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa masyarakat tidak harus menghindari makanan tertentu sepenuhnya, melainkan harus tetap terukur.
“Kalau mau makan satu tidak apa-apa. Tapi jangan sampai dua atau tiga, itu berlebihan,” lanjutnya.
Dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan, Waluyo mengingatkan masyarakat mengenai batasan kapasitas lambung.
Secara medis, lambung idealnya hanya diisi sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk cairan, dan sepertiga sisanya sebagai ruang udara.
Jika lambung dipaksakan terisi penuh oleh makanan, risiko munculnya rasa begah hingga kenaikan gula darah akan meningkat pesat.
Selain menjaga porsi, Waluyo menyarankan pemanfaatan puasa Syawal sebagai sarana pemulihan metabolik.
Saat tubuh berpuasa selama 8 hingga 12 jam, terjadi proses detoksifikasi alami terhadap sisa-sisa metabolit dalam tubuh.
“Setelah 12 jam, tubuh seperti mengalami proses penyegaran kembali. Puasa Syawal bisa membantu mendetoks kembali apa yang kita makan saat Lebaran,” ungkapnya.
Sebagai penutup, ia menekankan bahwa kunci utama kesehatan pasca-Lebaran adalah kesadaran diri dan keberanian untuk membatasi asupan saat bersilaturahmi.
“Jangan karena ditawari tambah lalu tidak enak menolak. Cukup secukupnya. Itu yang penting,” pungkas Waluyo. (Ant/Z-1)
Tingginya angka kunjungan ini mengukuhkan situs warisan budaya sebagai pilihan utama keluarga untuk berekreasi sekaligus mengedukasi diri.
IDUL Fitri baru saja kita rayakan. Selama sebulan, kita berlatih menahan diri dan mempertajam empati.
Dalam satu hari tersebut, jumlah transaksi pengisian daya mencapai 18.088 kali dengan total konsumsi energi sebesar 427.980 kWh.
Berdasarkan data Posko Angkutan Lebaran periode 22 Maret hingga 25 Maret 2026 pukul 14.00 WIB (H hingga H+3), jumlah penumpang yang kembali ke Jawa baru mencapai 36,4% dari total pemudik.
Presiden Prabowo hubungi Mahmoud Abbas dan pemimpin dunia Islam saat Idul Fitri. Langkah ini jadi sinyal kuat diplomasi Indonesia di panggung global.
Idul Fitri juga menghadirkan dinamika lain yang tidak kalah besar: ia menjadi salah satu peristiwa ekonomi terbesar dalam siklus tahunan Indonesia.
Pemerintah mengklaim harga barang kebutuhan pokok selama Ramadan hingga Idulfitri 2026 lebih stabil dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Arah kebijakan Baznas ke depan termasuk target pengumpulan zakat nasional yang ditetapkan mencapai Rp160 triliun dan Baznas pusat sebesar Rp10 triliun pada 2031.
Momentum Ramadan mendorong spektrum belanja yang lebih luas—dari kebutuhan harian hingga pengeluaran yang lebih aspiratif.
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Human Initiative terus melakukan evaluasi dalam setiap pelaksanaan program.
Konsumsi makanan dengan kadar gula maupun garam tinggi dapat menyebabkan kulit kehilangan hidrasi dan menjadi lebih kering.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved