Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
EUFORIA perayaan Idul Fitri sering kali dibarengi dengan perubahan pola makan yang drastis. Menanggapi fenomena ini, Dokter Spesialis Penyakit Dalam mitra Halodoc, dr. Waluyo Dwi Cahyono, Sp.PD-KEMD, FINASIM, mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga kontrol konsumsi makanan guna mencegah sembelit, diare, hingga lonjakan gula darah yang tidak terkendali.
Menurut Waluyo, gangguan pencernaan kerap muncul akibat pergeseran pola makan dari masa Ramadan ke Lebaran, terutama saat konsumsi makanan tinggi lemak meningkat sementara asupan serat justru berkurang.
“Untuk menghindari sembelit harus diimbangi dengan sayuran dan buah. Serat penting supaya tidak terjadi gangguan buang air besar,” ujar Waluyo, dikutip Kamis (12/3).
Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada ini menekankan pentingnya menjaga komposisi makanan yang seimbang di meja makan.
Salah satu poin krusial yang ia soroti adalah pengendalian porsi pada makanan pelengkap yang sering dianggap sepele, seperti kerupuk.
Meski terlihat ringan, kerupuk mengandung karbohidrat yang perlu diperhitungkan, terutama bagi penderita diabetes.
“Sudah makan nasi, lalu tambah kerupuk. Itu tetap tambahan karbohidrat. Kalau tidak dihitung kalorinya, gula darah pasti naik,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa masyarakat tidak harus menghindari makanan tertentu sepenuhnya, melainkan harus tetap terukur.
“Kalau mau makan satu tidak apa-apa. Tapi jangan sampai dua atau tiga, itu berlebihan,” lanjutnya.
Dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan, Waluyo mengingatkan masyarakat mengenai batasan kapasitas lambung.
Secara medis, lambung idealnya hanya diisi sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk cairan, dan sepertiga sisanya sebagai ruang udara.
Jika lambung dipaksakan terisi penuh oleh makanan, risiko munculnya rasa begah hingga kenaikan gula darah akan meningkat pesat.
Selain menjaga porsi, Waluyo menyarankan pemanfaatan puasa Syawal sebagai sarana pemulihan metabolik.
Saat tubuh berpuasa selama 8 hingga 12 jam, terjadi proses detoksifikasi alami terhadap sisa-sisa metabolit dalam tubuh.
“Setelah 12 jam, tubuh seperti mengalami proses penyegaran kembali. Puasa Syawal bisa membantu mendetoks kembali apa yang kita makan saat Lebaran,” ungkapnya.
Sebagai penutup, ia menekankan bahwa kunci utama kesehatan pasca-Lebaran adalah kesadaran diri dan keberanian untuk membatasi asupan saat bersilaturahmi.
“Jangan karena ditawari tambah lalu tidak enak menolak. Cukup secukupnya. Itu yang penting,” pungkas Waluyo. (Ant/Z-1)
Kejernihan kaca depan adalah kunci keselamatan, terutama mengingat cuaca yang tidak menentu selama musim mudik.
Keluhan kesehatan mental yang muncul cukup beragam, mulai dari gangguan tidur, rasa cemas berlebihan, jantung berdebar, hingga sesak napas.
Laporan Halodoc Q1 2026 mencatat lonjakan gangguan kecemasan dan masalah pencernaan selama Ramadan hingga Idul Fitri.
Banyak kendala yang dialami pemudik di jalan raya justru bersumber dari pengabaian terhadap pemeliharaan komponen karet bundar ini.
Waktu ideal untuk pemberian vaksinasi adalah minimal 14 hari atau dua pekan sebelum keberangkatan guna memastikan perlindungan optimal selama liburan.
Ingin khatam Al-Quran dalam 3 hari? Simak metode pembagian juz harian, dalil hadits, serta teladan para sahabat dan generasi salaf di sini.
Koleksi terbaru Charles & Keith ini mengambil inspirasi mendalam dari suasana senja yang syahdu serta elemen geometri yang lazim ditemukan dalam arsitektur Timur Tengah.
Tujuan utama inisiatif ini ialah merespons krisis iklim global yang dampaknya semakin terasa di Indonesia, lewat pendekatan moral, spiritual, dan aksi kolektif berbasis nilai-nilai Islam.
Olahraga saat puasa justru membantu meningkatkan metabolisme, menjaga berat badan ideal, serta memperbaiki sensitivitas insulin.
Momen Ramadan selalu menjadi waktu yang tepat untuk berkumpul dan menikmati kebersamaan bersama orang terdekat
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved