Headline

Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%

Waspadai Gangguan Pencernaan dan Lonjakan Gula Darah Pascalebaran

Basuki Eka Purnama
12/3/2026 07:08
Waspadai Gangguan Pencernaan dan Lonjakan Gula Darah Pascalebaran
Ilustrasi(Freepik)

EUFORIA perayaan Idul Fitri sering kali dibarengi dengan perubahan pola makan yang drastis. Menanggapi fenomena ini, Dokter Spesialis Penyakit Dalam mitra Halodoc, dr. Waluyo Dwi Cahyono, Sp.PD-KEMD, FINASIM, mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga kontrol konsumsi makanan guna mencegah sembelit, diare, hingga lonjakan gula darah yang tidak terkendali.

Menurut Waluyo, gangguan pencernaan kerap muncul akibat pergeseran pola makan dari masa Ramadan ke Lebaran, terutama saat konsumsi makanan tinggi lemak meningkat sementara asupan serat justru berkurang.

“Untuk menghindari sembelit harus diimbangi dengan sayuran dan buah. Serat penting supaya tidak terjadi gangguan buang air besar,” ujar Waluyo, dikutip Kamis (12/3).

Bahaya Kalori Tersembunyi

Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada ini menekankan pentingnya menjaga komposisi makanan yang seimbang di meja makan. 

Salah satu poin krusial yang ia soroti adalah pengendalian porsi pada makanan pelengkap yang sering dianggap sepele, seperti kerupuk.

Meski terlihat ringan, kerupuk mengandung karbohidrat yang perlu diperhitungkan, terutama bagi penderita diabetes. 

“Sudah makan nasi, lalu tambah kerupuk. Itu tetap tambahan karbohidrat. Kalau tidak dihitung kalorinya, gula darah pasti naik,” jelasnya. 

Ia menambahkan bahwa masyarakat tidak harus menghindari makanan tertentu sepenuhnya, melainkan harus tetap terukur. 

“Kalau mau makan satu tidak apa-apa. Tapi jangan sampai dua atau tiga, itu berlebihan,” lanjutnya.

Prinsip Kapasitas Lambung

Dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan, Waluyo mengingatkan masyarakat mengenai batasan kapasitas lambung. 

Secara medis, lambung idealnya hanya diisi sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk cairan, dan sepertiga sisanya sebagai ruang udara. 

Jika lambung dipaksakan terisi penuh oleh makanan, risiko munculnya rasa begah hingga kenaikan gula darah akan meningkat pesat.

Puasa Syawal sebagai Detoks Alami

Selain menjaga porsi, Waluyo menyarankan pemanfaatan puasa Syawal sebagai sarana pemulihan metabolik. 

Saat tubuh berpuasa selama 8 hingga 12 jam, terjadi proses detoksifikasi alami terhadap sisa-sisa metabolit dalam tubuh.

“Setelah 12 jam, tubuh seperti mengalami proses penyegaran kembali. Puasa Syawal bisa membantu mendetoks kembali apa yang kita makan saat Lebaran,” ungkapnya.

Sebagai penutup, ia menekankan bahwa kunci utama kesehatan pasca-Lebaran adalah kesadaran diri dan keberanian untuk membatasi asupan saat bersilaturahmi. 

“Jangan karena ditawari tambah lalu tidak enak menolak. Cukup secukupnya. Itu yang penting,” pungkas Waluyo. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya