Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PERILAKU berciuman, yang sering diasosiasikan dengan ungkapan kasih sayang, romantisme, atau budaya modern, ternyata memiliki akar yang jauh lebih tua dalam sejarah evolusi. Sebuah studi terbaru yang menganalisis perilaku primata mengungkap ciuman atau perilaku kontak bibir yang erat (lip-smacking) bukanlah kebiasaan budaya yang baru muncul ribuan tahun lalu. Sebaliknya, perilaku ini sudah ada sejak leluhur umum manusia dan kera besar lainnya sekitar 21 juta tahun yang lalu.
Penelitian ini menantang pandangan sebelumnya yang menyatakan bahwa ciuman mungkin hanya muncul belakangan dalam sejarah manusia (sekitar beberapa ribu tahun lalu) dan mungkin dipengaruhi oleh kebiasaan tertentu.
Karena tidak ada bukti fosil yang dapat menunjukkan perilaku ini, para peneliti menggunakan metode phylogenetic (ilmu kekerabatan evolusi) dan analisis komputasi:
Tujuan berciuman Berciuman dalam konteks evolusi primata purba diyakini memiliki fungsi yang lebih praktis daripada romantis murni:
Ikatan Sosial (Social Bonding): Perilaku ini mungkin digunakan untuk meredakan konflik, memperkuat ikatan antara anggota kelompok (terutama ibu dan anak), dan meningkatkan rasa saling percaya.
Kebersihan: Pada beberapa primata, kontak mulut dan bibir erat kaitannya dengan grooming atau kebersihan, bukan hanya transfer air liur untuk mencari pasangan. (mediaindonesia/bbc/livescience/sciencealert/Z-2)
Tiga rahang, termasuk satu milik anak-anak, gigi, tulang belakang, dan tulang paha ditemukan di sebuah gua yang dikenal sebagai Grotte à Hominidés di Thomas Quarry di Casablanca, Maroko
Selama bertahun-tahun, para ahli evolusi menghadapi celah besar dalam bukti fosil, khususnya antara satu juta hingga 600.000 tahun lalu.
Penelitian genetika menunjukkan bahwa Homo sapiens puluhan ribu tahun lalu melakukan kawin silang berulang dengan Neanderthal, Denisovan, dan hominin lain.
Teori bahwa manusia berevolusi karena kebiasaan berlari jarak jauh sempat menuai perdebatan. Berlari menghabiskan energi lebih banyak dibanding berjalan
Penelitian terbaru menunjukkan Neanderthal bukan manusia gua bodoh seperti anggapan umum. Ini fakta tentang Neanderthal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved