Headline

Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.

Mengapa Bayi Hewan Bisa Langsung Jalan sedangkan Manusia tidak? Ini Penjelasan Sains

Intan Safitri
24/2/2026 23:57
Mengapa Bayi Hewan Bisa Langsung Jalan sedangkan Manusia tidak? Ini Penjelasan Sains
Ilustrasi bayi baru lahir.(Dok. Freepik)

PERNAHKAH Anda memperhatikan anak kuda atau jerapah yang baru lahir? Hanya dalam hitungan jam, mereka sudah bisa berdiri tegak dan berlari mengikuti induknya. Fenomena ini sangat kontras dengan bayi manusia yang membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan untuk sekadar menopang kepala sendiri.

Kondisi bayi manusia yang lahir "tidak berdaya" dibandingkan hewan lain bukanlah sebuah kecacatan evolusi. Sebaliknya, hal ini merupakan hasil dari kompromi biologis yang sangat kompleks. Berdasarkan data dari Scientific American dan penelitian biologi molekuler, berikut adalah alasan ilmiah di balik fenomena tersebut.

1. Dilema Obstetrik: Otak Besar vs Panggul Sempit

Faktor utama yang menghambat kematangan bayi manusia di dalam rahim adalah ukuran otak. Manusia memiliki rasio ukuran otak terhadap tubuh yang jauh lebih besar dibandingkan primata atau mamalia lainnya.

Secara evolusi manusia berjalan tegak (bipedal). Hal ini menyebabkan struktur panggul manusia menjadi lebih sempit dan kaku untuk mendukung keseimbangan saat berjalan. Di sisi lain, otak manusia yang terus berkembang membutuhkan ruang yang luas.

Jika janin manusia bertahan lebih lama di dalam rahim agar bisa lahir dalam kondisi "siap jalan", ukuran kepalanya akan menjadi terlalu besar untuk melewati jalan lahir. Inilah yang dikenal sebagai Obstetrical Dilemma. Bayi manusia terpaksa lahir saat otaknya baru mencapai sekitar 25% dari ukuran dewasa agar proses persalinan tetap aman bagi ibu dan anak.

ika bayi manusia lahir dengan tingkat kematangan yang sama dengan anak simpanse, masa kehamilan manusia harus mencapai 18 hingga 21 bulan!

2. Hipotesis EGS: Batas Energi Metabolisme Ibu

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa panggul bukan satu-satunya alasan. Ada faktor metabolisme ibu yang disebut hipotesis EGS (Energetics, Gestation, and Growth).

Selama kehamilan, kebutuhan energi janin meningkat secara eksponensial. Pada bulan kesembilan, tubuh ibu mencapai ambang batas kemampuan maksimal dalam menyuplai energi. Ketika kebutuhan janin melebihi kemampuan metabolisme ibu, tubuh secara alami memicu persalinan. Jadi, bayi lahir bukan karena mereka sudah "matang", melainkan karena ibu sudah tidak mampu lagi memberikan energi yang cukup di dalam rahim.

3. Strategi Evolusi: Plastisitas Otak

Ketidakberdayaan bayi manusia sebenarnya adalah investasi jangka panjang. Karena otak manusia paling banyak berkembang setelah lahir (di lingkungan luar), bayi memiliki plastisitas otak yang tinggi.

Masa ketergantungan yang lama memungkinkan manusia untuk:

  • Mempelajari keterampilan sosial dan budaya yang rumit.
  • Mengembangkan kemampuan bahasa yang tidak dimiliki spesies lain.
  • Memperkuat ikatan komunitas (alloparenting), di mana pengasuhan dilakukan secara kolektif.

Sebagai gantinya, manusia mendapatkan kapasitas kognitif yang jauh melampaui spesies mana pun di bumi. Bayi manusia lahir "setengah matang" agar mereka memiliki ruang untuk belajar dan beradaptasi dengan dunia yang kompleks. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya