Headline
Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.
Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAHKAH Anda memperhatikan anak kuda atau jerapah yang baru lahir? Hanya dalam hitungan jam, mereka sudah bisa berdiri tegak dan berlari mengikuti induknya. Fenomena ini sangat kontras dengan bayi manusia yang membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan untuk sekadar menopang kepala sendiri.
Kondisi bayi manusia yang lahir "tidak berdaya" dibandingkan hewan lain bukanlah sebuah kecacatan evolusi. Sebaliknya, hal ini merupakan hasil dari kompromi biologis yang sangat kompleks. Berdasarkan data dari Scientific American dan penelitian biologi molekuler, berikut adalah alasan ilmiah di balik fenomena tersebut.
Faktor utama yang menghambat kematangan bayi manusia di dalam rahim adalah ukuran otak. Manusia memiliki rasio ukuran otak terhadap tubuh yang jauh lebih besar dibandingkan primata atau mamalia lainnya.
Secara evolusi manusia berjalan tegak (bipedal). Hal ini menyebabkan struktur panggul manusia menjadi lebih sempit dan kaku untuk mendukung keseimbangan saat berjalan. Di sisi lain, otak manusia yang terus berkembang membutuhkan ruang yang luas.
Jika janin manusia bertahan lebih lama di dalam rahim agar bisa lahir dalam kondisi "siap jalan", ukuran kepalanya akan menjadi terlalu besar untuk melewati jalan lahir. Inilah yang dikenal sebagai Obstetrical Dilemma. Bayi manusia terpaksa lahir saat otaknya baru mencapai sekitar 25% dari ukuran dewasa agar proses persalinan tetap aman bagi ibu dan anak.
ika bayi manusia lahir dengan tingkat kematangan yang sama dengan anak simpanse, masa kehamilan manusia harus mencapai 18 hingga 21 bulan!
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa panggul bukan satu-satunya alasan. Ada faktor metabolisme ibu yang disebut hipotesis EGS (Energetics, Gestation, and Growth).
Selama kehamilan, kebutuhan energi janin meningkat secara eksponensial. Pada bulan kesembilan, tubuh ibu mencapai ambang batas kemampuan maksimal dalam menyuplai energi. Ketika kebutuhan janin melebihi kemampuan metabolisme ibu, tubuh secara alami memicu persalinan. Jadi, bayi lahir bukan karena mereka sudah "matang", melainkan karena ibu sudah tidak mampu lagi memberikan energi yang cukup di dalam rahim.
Ketidakberdayaan bayi manusia sebenarnya adalah investasi jangka panjang. Karena otak manusia paling banyak berkembang setelah lahir (di lingkungan luar), bayi memiliki plastisitas otak yang tinggi.
Masa ketergantungan yang lama memungkinkan manusia untuk:
Sebagai gantinya, manusia mendapatkan kapasitas kognitif yang jauh melampaui spesies mana pun di bumi. Bayi manusia lahir "setengah matang" agar mereka memiliki ruang untuk belajar dan beradaptasi dengan dunia yang kompleks. (H-3)
Banyak orang tua menganggapnya cara aman agar bayi tetap terhubung dengan orang terkasih yang tinggal jauh.
Grace Bell mencetak sejarah di Inggris dengan melahirkan Hugo melalui transplantasi rahim dari donor yang sudah meninggal.
Perkembangan janin yang tidak sempurna hingga memicu PJB dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko dari sisi kesehatan orang tua maupun lingkungan.
Penyakit jantung bawaan merupakan kelainan struktur jantung yang didapat sejak lahir dan berpotensi mengganggu aliran darah ke seluruh tubuh.
Seiring meningkatnya misi komersial ke luar angkasa, para ahli memperingatkan adanya risiko kesehatan reproduksi yang terabaikan. Apakah manusia siap bereproduksi di orbit?
Selama ini kita menganggap bayi manusia lahir lemah karena evolusi panggul yang sempit. Riset terbaru mengungkap faktor metabolisme dan otak jauh lebih berperan.
Makanan cepat saji terasa sangat nikmat karena otak manusia berevolusi menyukai gula, lemak, dan garam. Penjelasan ilmiah ini mengungkap alasan fast food mudah bikin ketagihan.
Tiga rahang, termasuk satu milik anak-anak, gigi, tulang belakang, dan tulang paha ditemukan di sebuah gua yang dikenal sebagai Grotte à Hominidés di Thomas Quarry di Casablanca, Maroko
Selama bertahun-tahun, para ahli evolusi menghadapi celah besar dalam bukti fosil, khususnya antara satu juta hingga 600.000 tahun lalu.
Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa perilaku berciuman atau kontak bibir sudah muncul sejak 21 juta tahun lalu pada leluhur bersama manusia dan kera besar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved