Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
PENUAAN memang tidak terhindarkan. Tapi laju penurunan fungsi otak ternyata tidak sepenuhnya soal umur.
Sejumlah riseti menunjukkan ada kebiasaan harian yang berkaitan dengan penyusutan volume otak atau brain atrophy. Efeknya tidak instan, tetapi akumulatif. Dalam jangka panjang, ini bisa berdampak pada memori, fokus, dan risiko demensia.
Berikut tiga kebiasaan yang paling sering disorot penelitian.
1. Kurang Tidur Bukan Sekadar Bikin Lelah
Tidur yang buruk dalam jangka panjang dikaitkan dengan perubahan struktur otak. Studi yang dipublikasikan di jurnal Neurology dan dilaporkan oleh peneliti dari University of California, San Francisco menemukan bahwa orang dewasa dengan kualitas tidur rendah menunjukkan penyusutan otak lebih cepat dalam periode pengamatan bertahun-tahun.
Kurang tidur memengaruhi pembersihan limbah metabolik di otak, termasuk protein yang terkait dengan Alzheimer.
Dalam jangka panjang, gangguan ini bisa mempercepat penuaan otak secara biologis. Artinya, begadang kronis bukan cuma urusan kantuk, tapi soal kesehatan saraf.
2. Konsumsi Alkohol Rutin Mengecilkan Volume Otak
Data neuroimaging skala besar menunjukkan hubungan jelas antara konsumsi alkohol dan volume otak yang lebih kecil.
Peneliti dari University of Pennsylvania melaporkan bahwa bahkan konsumsi satu gelas alkohol per hari sudah berkaitan dengan penurunan volume gray matter dan white matter.
Semakin tinggi konsumsi rutin, semakin terlihat efek penyusutan pada pemindaian MRI. Alkohol bekerja sebagai neurotoksin. Ia memengaruhi konektivitas dan integritas jaringan otak. Efeknya tidak dramatis dalam semalam, tetapi konsisten dalam jangka panjang.
3. Terlalu Lama Duduk, Otak Ikut Terpengaruh
Gaya hidup sedentari juga masuk daftar. Studi yang dimuat dalam jurnal Alzheimer’s & Dementia menemukan bahwa waktu duduk yang terlalu lama berkaitan dengan penurunan volume di area otak yang berperan dalam memori.
Menariknya, efek ini tetap terlihat bahkan pada individu yang rutin berolahraga. Artinya, olahraga saja tidak cukup jika sebagian besar waktu dihabiskan tanpa bergerak. Otak membutuhkan sirkulasi darah dan stimulasi aktivitas fisik yang konsisten sepanjang hari.
Jangan Panik, Tapi Sadar Risiko
Penyusutan otak adalah bagian dari proses penuaan alami. Namun berbagai penelitian dari institusi seperti National Institute on Aging menekankan bahwa gaya hidup berperan besar dalam menentukan kecepatannya.
Kabar baiknya, faktor ini bisa dimodifikasi. Tidur cukup, batasi alkohol, dan kurangi waktu duduk berlebihan adalah langkah realistis. Otak bukan organ yang kebal. Ia responsif terhadap kebiasaan harian. Dan perubahan kecil yang konsisten jauh lebih berdampak daripada perbaikan sesaat. (Verywell Health, Penn Today/Z-1)
Banyak orang mengira gangguan kesehatan otak hanya disebabkan oleh cedera serius atau penyakit genetik. Namun, para ahli saraf mengungkapkan hal yang lain.
Penelitian ini mencerminkan tren baru dalam dunia sains, yaitu dengan melibatkan masyarakat secara langsung untuk memahami perilaku kesehatan
Pengendara sepeda motor dapat menghemat BBM dengan cara mengendarai motornya secara halus, tidak membejek gasnya secara mendadak ke RPM tinggi,
Risiko kecelakaan di jalan meningkat akibat ban yang pecah, aus, dan tekanan anginnya yang tidak sesuai.
Guru membagikan enam kebiasaan penting yang bisa diterapkan orang tua dan siswa di bulan pertama sekolah.
Perempuan menunjukkan penurunan di lebih sedikit wilayah dan ketebalan korteks mereka tidak terlalu berubah seiring bertambahnya usia.
Para ahli saraf (neurolog) mengungkap bahwa gaya hidup modern, seperti terlalu lama duduk, stres, dan kurang tidur, dapat memicu penyusutan otak (brain shrinkage).
Kondisi kesehatan aktor legendaris Bruce Willis kembali menyita perhatian publik setelah dikonfirmasi mengidap Demensia Frontotemporal (FTD).
Kebiasaan duduk dan rebahan terlalu lama ternyata tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan fisik, tetapi juga berisiko menyebabkan penyusutan otak
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved