Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Bukan Sekadar Tanda Mengantuk, Ini Dampak Menguap bagi Otak

Abi Rama
16/2/2026 12:02
Bukan Sekadar Tanda Mengantuk, Ini Dampak Menguap bagi Otak
Ilustrasi(Freepik)

MENGUAP sering kali dikaitkan dengan rasa kantuk atau bosan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa refleks sederhana ini ternyata memicu perubahan penting di dalam tubuh, khususnya pada otak

Temuan tersebut dilaporkan oleh para peneliti dari University of New South Wales, Australia, dan dilansir dari laman ScienceAlert.

Dalam studi tersebut, tim peneliti menggunakan pemindaian MRI untuk mengamati kepala dan leher 22 partisipan sehat. Mereka diminta melakukan beberapa aktivitas berbeda, yakni menguap, menarik napas dalam, menahan keinginan menguap, serta bernapas normal.

Awalnya, para ilmuwan menduga bahwa menguap dan menarik napas dalam akan menunjukkan pola yang mirip di hasil pemindaian, karena keduanya melibatkan mekanisme pernapasan yang serupa. Namun hasilnya justru mengungkap perbedaan penting.

Cairan Otak Bergerak Menjauh Saat Menguap

Salah satu temuan yang menarik  adalah bahwa saat seseorang menguap, cairan serebrospinal (CSF) atau cairan yang melindungi dan menjaga fungsi sistem saraf pusat bergerak menjauh dari otak. Hal ini berbeda dengan saat menarik napas dalam.

Menurut ahli saraf Adam Martinac, yang terlibat dalam penelitian tersebut, timnya tidak memperkirakan perubahan arah aliran cairan ini. 

Meski tidak terjadi pada semua partisipan dan lebih jarang terlihat pada pria, para peneliti menilai temuan ini cukup signifikan untuk membuka pertanyaan baru tentang fungsi menguap.

CSF sendiri berperan penting dalam menjaga keseimbangan sistem saraf pusat, termasuk menyalurkan nutrisi dan membantu membuang limbah metabolisme dari otak. Karena itu, perubahan aliran cairan ini dinilai bisa memiliki makna fisiologis tertentu.

Aliran Darah Ikut Berubah

Tidak hanya cairan serebrospinal, aliran darah juga mengalami perubahan saat seseorang menguap. 

Penelitian menemukan bahwa baik menguap maupun menarik napas dalam sama-sama meningkatkan aliran darah yang keluar dari otak. Kondisi ini memberi ruang bagi darah segar untuk dipompa masuk.

Menariknya, pada tahap awal menguap, aliran darah arteri karotis yang menuju otak meningkat sekitar sepertiga. Lonjakan ini menunjukkan bahwa menguap mungkin memiliki lebih dari satu fungsi biologis.

Meski begitu, arah aliran darah tidak berubah saat menguap, berbeda dengan pergerakan cairan serebrospinal yang justru menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan napas dalam.

Penelitian juga menemukan bahwa setiap partisipan memiliki pola menguap yang khas dan konsisten. Pola tersebut mengarah pada adanya mekanisme saraf bawaan yang disebut “central pattern generator,” yaitu sistem di otak yang mengatur gerakan berulang secara otomatis.

Para peneliti menyimpulkan bahwa pola menguap bukanlah perilaku yang dipelajari, melainkan bagian dari pemrograman neurologis alami manusia.

Membersihkan Otak

Salah satu hipotesis yang diajukan adalah bahwa menguap mungkin membantu “membersihkan” otak dengan memengaruhi sirkulasi cairan serebrospinal. Teori lain menyebutkan bahwa menguap berfungsi sebagai mekanisme pendinginan otak.

Beberapa penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa ukuran otak berkaitan dengan durasi menguap, semakin besar otaknya, semakin lama durasi menguapnya. Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa menguap memiliki hubungan erat dengan sistem saraf pusat.

Meski menguap adalah perilaku yang umum terjadi pada berbagai spesies dan sering kali menular di antara manusia maupun hewan, fungsi pastinya masih menjadi misteri. 

Namun para ilmuwan menilai bahwa menguap kemungkinan merupakan perilaku adaptif yang penting bagi keseimbangan sistem saraf pusat. (Science Alert/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik