Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Bahaya Paparan Video Daring Tanpa Pendampingan, Otak Anak Terancam Tumpul

Basuki Eka Purnama
16/2/2026 20:04
Bahaya Paparan Video Daring Tanpa Pendampingan, Otak Anak Terancam Tumpul
Ilustrasi(Freepik)

KEPALA Divisi Psikiatri Anak dan Remaja FKUI-RSCM, Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, Sp.KJ, Subsp. AR (K), memberikan peringatan keras mengenai risiko penggunaan gadget pada anak. 

Dalam acara Hari Keamanan Berinternet 2026 yang digelar di Jakarta, beberapa waktu lalu, ia menegaskan bahwa anak yang mengakses video daring tanpa pendampingan orangtua berisiko mengalami penurunan fungsi otak yang sedang berkembang.

Fokus utama kekhawatiran ini terletak pada perkembangan lobus frontal, yakni bagian otak depan yang berfungsi mengendalikan emosi dan perilaku. 

Menurut Prof. Tjhin, bagian otak ini memerlukan waktu yang cukup lama untuk mencapai kematangan sempurna.

"Kita tahu bahwa yang bisa membantu kita adalah lobus frontal, yaitu otak bagian depan dan pada anak itu dalam proses perkembangannya, kematangannya, paling lambat sekitar 25 tahun usianya," ujar Tjhin.

Ancaman Otak Tumpul dan Hilangnya Kontrol Diri

Tontonan yang diakses secara terus-menerus memicu adiksi yang membuat anak enggan berhenti menatap layar. 

Paparan layar dalam jangka waktu lama secara pasif inilah yang disebut dapat "menumpulkan" kemampuan otak. Dampak nyatanya adalah munculnya perilaku hilangnya kontrol diri pada anak.

"Kalau anak bertahan nonton terus menerus, otak bagian itu akan semakin lama semakin tumpul. Akibatnya, kontrol emosi, kontrol perilakunya jadi terganggu," jelasnya.

Gejala gangguan kontrol diri ini sering terlihat dalam keseharian. Anak cenderung bereaksi meledak-ledak, seperti berteriak, marah, hingga menangis meraung-raung saat orangtua mencoba menghentikan tontonannya atau mengambil gawai mereka.

Tantangan bagi Orangtua: Antara Ketegasan dan Konten Berbahaya

Prof. Tjhin menyayangkan sikap banyak orangtua di Indonesia yang masih belum tegas dalam menegakkan aturan penggunaan teknologi. 

Sering kali, orangtua justru kembali memberikan gadget dengan dalih agar anak menjadi tenang, padahal tindakan tersebut justru memperburuk kondisi psikis anak.

Padahal, tantangan di ruang digital saat ini semakin kompleks. Banyak ditemukan konten kartun yang disisipi adegan kekerasan hingga materi berbau pornografi. 

Bahkan, anak usia sekolah dasar (SD) kini sudah cukup mahir teknologi untuk menembus batas pengawasan.

"Pendampingan orangtua bukan hanya media pengawasan, tetapi juga membatasi anak masuk dalam ruang digital yang lebih luas," tambahnya. 

Ia mencontohkan temuan di rumah sakit bahwa anak usia SD sudah mampu menggunakan VPN untuk mengakses konten yang sebenarnya telah dibatasi oleh fitur keamanan gadget.

Adiksi Sebagai Penyakit

Pada tahap akhir, penggunaan internet yang tidak terkontrol akan berujung pada adiksi atau ketergantungan. Prof. Tjhin menekankan bahwa pada titik ini, kondisi tersebut bukan lagi sekadar kebiasaan buruk, melainkan sebuah penyakit.

"Kalau sampai anaknya tidak mau lepas itu sudah sampai ke adiksi, sampai ketergantungan itu sudah paling berbahaya, karena kalau sudah ketergantungan dia sakit sebenarnya, kalau dia sakit dia harus diobati, dan akan jadi beban pemerintah juga, jadi saya rasa dari aspek saya adalah yang paling saya khawatirkan itu sebenarnya," tutupnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik