Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Menjembatani Tradisi dan Teknologi, Digitalisasi Gamelan Bali lewat Video Micro Learning

Basuki Eka Purnama
22/12/2025 21:59
Menjembatani Tradisi dan Teknologi, Digitalisasi Gamelan Bali lewat Video Micro Learning
Pembuatan video micro learning gamelan Bali(MI/HO)

GAMELAN Bali bukan sekadar instrumen musik, melainkan denyut nadi kehidupan masyarakatnya. Di balik ritme cepat dan dinamis yang menjadi cirinya, tersimpan filosofi mendalam tentang persaudaraan. 

Namun, di tengah arus modernisasi, metode pembelajaran tradisional yang mengandalkan intuisi dan hafalan tanpa partitur tertulis kini menghadapi tantangan besar dalam upaya pelestarian.

Merespons hal tersebut, School of Design Binus University berkolaborasi dengan Komunitas Gamelan Tantular meluncurkan inovasi berupa video micro learning gamelan Bali

Program ini merupakan bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025 yang diinisiasi oleh kementerian terkait untuk memastikan warisan budaya tetap relevan bagi generasi digital.

Filosofi dalam Harmoni

Pendiri Gamelan Tantular, Detu Wisesa, menjelaskan bahwa kekuatan gamelan terletak pada kerja sama kolektif. Gangsa sebagai pembawa melodi, kendang pengatur tempo, ceng-ceng sebagai pemerkaya ritme, dan gong sebagai penutup siklus, semuanya menyatu dalam satu kesatuan.

“Keindahan bunyi gamelan terjalin akibat kerja sama erat antarpemain, yang juga mencerminkan filosofi ‘menyama braya’ atau rasa persaudaraan masyarakat Bali. Gamelan Bali bukanlah seni yang statis. Ia terus berevolusi dan berkembang seiring zaman dan tetap hidup lintas generasi,” ujar Detu Wisesa.

Inovasi Pembelajaran Digital

Selama ini, ketiadaan panduan tertulis kerap membuat gamelan sulit diakses oleh masyarakat umum. Melalui video micro learning, materi pembelajaran dipecah menjadi potongan video singkat berdurasi dua hingga tiga menit. 

Format ini dirancang agar teknik dasar seperti pukulan pada instrumen gangsa dan reyong dapat dipelajari secara bertahap dan fleksibel.

“Keuntungan format ini sangat besar, terutama karena materi pembelajaran gamelan tidak tersedia dalam bentuk partitur tertulis layaknya musik pop atau musik Barat. Dengan visual yang jelas dan format yang ringkas, pembelajar dapat mengulang materi kapan pun dan di mana pun, bahkan hanya dari ponsel mereka,” tegas Detu.

Kolaborasi Lintas Sektor

Proses produksi video ini melibatkan sinergi langsung antara akademisi dan praktisi. Mahasiswa dan dosen School of Design Binus University bekerja sama dengan anggota Gamelan Tantular mulai dari tahap perencanaan hingga penyuntingan.

Dukungan ini diakui Detu memberikan dampak signifikan bagi komunitasnya, tidak hanya dari segi penyediaan alat, tetapi juga membuka ruang eksplorasi baru. Ia berharap kolaborasi ini dapat menjadi ekosistem yang mendorong inovasi dan keberlanjutan seni Nusantara di masa depan.

Melalui pendekatan digital ini, tradisi tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang kaku. Gamelan Tantular yang berbasis di Jakarta kini hadir sebagai ruang perjumpaan antara warisan kuno dan kebiasaan belajar modern, memastikan denting gamelan Bali terus bergema lintas usia dan profesi. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik