Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
POSISI anak tengah dalam struktur keluarga sering kali dianggap unik sekaligus menantang. Fenomena ini kembali menjadi sorotan publik menyusul kasus tragis pembunuhan keluarga di Warakas, Jakarta Utara, yang diduga dipicu oleh rasa ketidakadilan yang dipendam oleh pelaku yang merupakan anak tengah.
Menanggapi dinamika tersebut, Psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), Samanta Elsener M.Psi, menjelaskan bahwa posisi anak tengah yang "terjepit" di antara kakak dan adik sangat memengaruhi cara pandang serta relasi sosial mereka.
Menurut Samanta, posisi di tengah membuat seorang anak merasa perlu melakukan upaya ekstra untuk mendapatkan perhatian orangtua yang sering kali terbagi. Minimnya pengakuan ini dapat membentuk kepribadian yang kontradiktif.
"Kurangnya perhatian dan perasaan diabaikan bisa memunculkan kecenderungan untuk memberontak atau justru berusaha menyenangkan semua orang, atau dikenal sebagai people pleaser," ujar Samanta, dikutip Jumat (13/2).
Dinamika ini juga memaksa anak tengah untuk sering mengalah. Dalam kesehariannya, mereka kerap berada di posisi transisi: harus menuruti kemauan sang kakak, sekaligus dituntut memahami kebutuhan sang adik. Pola asuh dan situasi lingkungan seperti ini pada akhirnya membentuk mentalitas yang lebih membumi.
"Sering kali anak tengah menuruti keinginan anak tertua dan kebutuhan anak bungsu. Karena terbiasa mengalah, mereka cenderung memiliki ekspektasi yang tidak muluk dan lebih realistis terhadap orang lain," tambahnya.
Meski menyimpan tantangan emosional, pengalaman berbagi perhatian sejak dini ternyata memberikan dampak positif pada kemampuan sosial mereka.
Samanta menilai anak tengah umumnya memiliki kecerdasan interpersonal yang baik dan lebih fleksibel dalam lingkungan baru.
"Anak tengah umumnya lebih ramah, terbuka terhadap pengalaman, dan mampu membangun hubungan baik dengan orang lain. Mereka terbiasa menyesuaikan diri sejak kecil saat perhatian orang tua terbagi. Selain itu, mereka juga lebih terbuka dalam mengambil risiko dan mencoba ide baru," jelas Samanta.
Diskusi mengenai nasib anak tengah ini pun memicu gelombang simpati dan pengakuan di media sosial.
Banyak warganet yang mulai membagikan pengalaman personal mereka, memvalidasi perasaan kurang diperhatikan jika dibandingkan dengan saudara sulung atau bungsu.
Kasus hukum yang terjadi di Warakas menjadi pengingat bagi para orang tua akan pentingnya distribusi kasih sayang yang merata.
Tanpa validasi emosional yang cukup, potensi positif seperti sifat ramah dan adaptif bisa tertutup oleh rasa kecewa dan konflik batin yang mendalam akibat perlakuan yang dianggap tidak adil. (Ant/Z-1)
Anak tengah memiliki risiko lebih besar merasa diperlakukan berbeda dibandingkan saudara sulung maupun bungsu.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Inisiatif ini mempertegas komitmen platform dalam melibatkan orangtua secara langsung untuk menyusun kebijakan dan pengembangan Roblox di masa depan.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Anak tengah memiliki risiko lebih besar merasa diperlakukan berbeda dibandingkan saudara sulung maupun bungsu.
Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga.
Adil tidak berarti memberikan perlakuan yang identik kepada setiap anak, melainkan harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved