Headline

DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.

Memahami FOMO pada Remaja: Mengapa Rumah adalah Jangkar Utama

Basuki Eka Purnama
19/2/2026 07:04
Memahami FOMO pada Remaja: Mengapa Rumah adalah Jangkar Utama
Ilustrasi(Freepik)

FENOMENA Fear of Missing Out (FOMO) atau ketakutan akan tertinggal tren kini menjadi tantangan nyata dalam pola asuh anak di era digital. Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratriana Naila Syafira, M.Psi., menjelaskan bahwa perasaan ini, termasuk tekanan teman sebaya (peer pressure*, merupakan bagian wajar dari fase perkembangan anak.

"Perasaan FOMO atau bahkan peer pressure adalah sesuatu yang sangat wajar pada fase ini," ujar Ratriana, dikutip Kamis (19/2).

Pergeseran Fokus dan Kematangan Otak

Menurut Ratriana, pada masa praremaja dan remaja, fokus kehidupan anak mulai bergeser. Jika sebelumnya pusat dunia mereka adalah keluarga, kini pengaruh sekolah dan teman sebaya menjadi jauh lebih dominan. 

Hal ini diperumit oleh kondisi biologis ketika perkembangan emosi remaja sering kali tidak berjalan beriringan dengan kematangan logika.

Anak sedang aktif membangun jati diri, namun proses ini belum sepenuhnya diimbangi oleh perkembangan otak yang berkaitan dengan kemampuan mengambil keputusan, pertimbangan risiko jangka panjang, serta pengendalian dorongan emosi.

"Jadi biasanya emosi mulai lebih bergejolak, mereka mulai lebih penasaran, lebih berani mencoba hal baru dan bisa jadi cenderung lebih impulsif atau tidak berpikir panjang dalam bertindak," ucap psikolog yang berpraktik di Biro Psikologi Rali Ra, Bekasi tersebut.

Membangun Benteng dari Rumah

Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga. Rasa diterima dan kepercayaan diri yang dibawa dari rumah akan menjadi modal utama anak saat menghadapi dunia luar.

Ketika anak merasa diterima secara utuh oleh orangtuanya, relasi yang terbangun akan menjadi hangat dan kuat. 

Hal inilah yang kemudian membentuk prinsip dan nilai hidup yang kokoh pada diri anak. Rasa percaya diri tersebut diposisikan sebagai jangkar agar remaja tidak mudah terombang-ambing oleh arus tren atau tekanan lingkungan sosialnya.

Langkah Praktis bagi Orangtua

Ratriana menekankan bahwa meskipun anak sudah dibekali kepercayaan diri, rasa takut dikucilkan tetap merupakan perasaan yang valid. Oleh karena itu, langkah pertama yang wajib dilakukan orangtua adalah melakukan validasi emosi.

"Orangtua perlu menyampaikan pada anak bahwa emosi yang mereka rasakan itu wajar dan nyata adanya, sehingga anak merasa didengar," katanya.

Selanjutnya, orangtua disarankan untuk:

  • Mendorong Aktivitas Bermakna: Libatkan anak dalam kegiatan di dunia nyata seperti hobi, les, atau komunitas. Hal ini bertujuan agar sumber rasa berharga anak tidak hanya bergantung pada pengakuan di media sosial.
  • Melatih Sikap Asertif: Anak perlu diajarkan cara menyampaikan batasan kepada teman secara tegas namun sopan.
  • Membuka Ruang Diskusi: Orangtua harus bersedia mendengar dan memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapatnya di rumah.

Dengan kombinasi validasi emosi dan penguatan relasi di rumah, remaja akan memiliki ketahanan mental yang lebih baik dalam menghadapi fenomena FOMO di lingkungan mereka. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya