Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
MASALAH kesehatan jiwa pada kelompok remaja usia 13 hingga 19 tahun memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.
Pakar kesehatan jiwa, Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, Sp.KJ, mengungkapkan bahwa fenomena keinginan bunuh diri pada remaja tidak dipicu oleh penyebab tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai faktor yang kompleks.
Dalam sebuah diskusi daring, dikutip Selasa (17/2), dokter spesialis ilmu kedokteran jiwa dari Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor tersebut memetakan empat faktor signifikan yang saling berkaitan.
Menurut Nova, kondisi psikologis remaja sangat dipengaruhi oleh perasaan kesepian, keputusasaan, kebutuhan akan rasa memiliki (belonging), serta rasa terbebani.
Interaksi antarfaktor ini sering kali menjadi jalan buntu bagi remaja dalam menghadapi masalahnya.
"Tidak satu faktor saja yang membuat seseorang memutuskan untuk melakukan tindakan bunuh diri," ujar Nova menegaskan bahwa setiap kasus biasanya melibatkan tekanan yang berlapis.
Faktor ekonomi dan sosial turut memperparah kondisi ini. Anak-anak yang tumbuh dengan dukungan sumber daya minimal cenderung merasa memikul beban hidup yang berat dan perlahan kehilangan harapan.
Selain itu, tekanan dari lingkungan keluarga, terutama ekspektasi tinggi orang tua yang tidak realistis, sering kali berubah menjadi beban mental bagi anak.
Nova menyoroti kasus spesifik di wilayah Nusa Tenggara Timur sebagai contoh nyata bagaimana hilangnya rasa memiliki dapat memicu keputusasaan.
Remaja di perdesaan sering kali merasa terasing karena merasa tidak mampu menyamai pencapaian atau gaya hidup teman-teman sebaya mereka di kota.
Tekanan akibat ketidakmampuan memiliki apa yang dimiliki orang lain ini dapat membuat remaja merasa tidak menjadi bagian dari lingkungannya.
Pada titik terendah, mereka mungkin menganggap mengakhiri hidup sebagai satu-satunya jalan keluar yang tersisa.
Guna mencegah tindakan fatal tersebut, Nova menekankan pentingnya penguatan sistem pendukung di lingkungan sekolah.
Kapasitas guru bimbingan konseling (BK) perlu ditingkatkan agar mereka mampu mendeteksi dini dan membantu mengatasi masalah yang dihadapi siswa.
Selain guru, kehadiran konselor sebaya dinilai sangat efektif karena remaja cenderung lebih terbuka bercerita kepada teman seusianya. Dukungan komunitas dan penyediaan saluran telepon layanan konseling (hotline) juga menjadi langkah preventif yang krusial.
Saluran komunikasi ini memberikan ruang bagi remaja untuk menyampaikan keluhan, berkonsultasi, dan mendapatkan rekomendasi solusi secara langsung. Melalui upaya mendengarkan, dorongan untuk melakukan bunuh diri dapat diredam.
"Sehingga dia bisa turun dari yang sangat ingin bunuh diri, minimal dia tahu ada yang mendengarkan, akhirnya mungkin dia ke-distract dan lain-lain sebagainya," pungkas Nova. (Ant/Z-1)
Korban diduga hanyut saat hendak menyeberangi sungai untuk pulang ke rumah.
Remaja yang aktif melaporkan kebaikan tercatat lima kali lebih empati, lima kali lebih prososial, dan hampir empat kali lebih tinggi dalam kemampuan memahami sudut pandang orang lain.
Sepeda motor hasil rampokan tersebut sempat dipasarkan melalui media sosial (marketplace) sebelum akhirnya berhasil disita polisi sebagai barang bukti.
Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga.
Meta menekankan bahwa perlindungan terhadap anak tidak harus dilakukan dengan cara yang mengekang atau memantau seluruh isi percakapan secara berlebihan.
Lestari Moerdijat mengatakan, dibutuhkan komitmen semua pihak untuk mewujudkan upaya yang lebih baik dalam pencegahan dan penanganan masalah kesehatan jiwa pada anak dan remaja.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Paparan berita negatif berlebihan dapat berdampak pada kesehatan mental. Psikolog menjelaskan risiko vicarious trauma dan cara mencegahnya.
Pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu di provinsi kepulauan
Sering memuji anak secara berlebihan bisa menjadi salah satu pemicu munculnya gangguan kepribadian narsistik/Narcissistic Personality Disorder (NPD) di masa depan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved