Headline
Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.
Kumpulan Berita DPR RI
PAPARAN informasi negatif secara terus-menerus dapat membawa dampak serius bagi kesehatan mental. Psikolog klinis Virginia Hanny, mengingatkan bahwa arus informasi yang tak terkendali, terutama terkait bencana dan krisis, berpotensi memicu kelelahan mental hingga gangguan psikologis.
Menurut Virginia, dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh individu yang berada langsung di lokasi kejadian. Masyarakat yang hanya mengikuti perkembangan peristiwa melalui layar ponsel atau media digital juga berisiko mengalami gangguan psikologis yang dikenal sebagai vicarious trauma atau secondary trauma.
“Fenomena ini menggambarkan kondisi psikologis seseorang yang mengalami tekanan emosional setelah terpapar secara tidak langsung pada pengalaman traumatis orang lain,” ujar Virginia, seperti dikutip dari Antara, Senin (26/1).
Lulusan Universitas Padjadjaran itu menjelaskan bahwa berbagai riset menunjukkan visual dan narasi emosional yang dikonsumsi secara berulang dapat memicu respons stres yang menyerupai trauma langsung. Kondisi ini kerap tidak disadari karena terjadi secara perlahan, seiring kebiasaan mengakses informasi setiap hari.
Sebagai upaya pencegahan, Virginia menyarankan masyarakat untuk membatasi durasi dan frekuensi mengakses informasi, misalnya cukup satu hingga dua kali sehari melalui sumber berita yang kredibel.
“Penting untuk menyadari batasan diri. Empati tidak berarti harus menyerap seluruh emosi yang dirasakan para korban,” tutur psikolog yang juga berpraktik di Personal Growth tersebut.
Selain membatasi konsumsi informasi, teknik relaksasi seperti grounding serta menyalurkan empati melalui tindakan konkret, misalnya berdonasi atau kegiatan sosial, dapat membantu menjaga keseimbangan emosional.
Virginia menegaskan bahwa perasaan sedih, cemas, atau khawatir di tengah situasi krisis merupakan reaksi yang wajar, bahkan bagi mereka yang tidak terlibat secara langsung. Namun, kewaspadaan perlu ditingkatkan apabila emosi negatif tersebut berlangsung intens dan menetap.
“Jika perasaan cemas atau sedih tidak membaik selama lebih dari dua minggu, disertai gangguan tidur atau mimpi buruk yang berulang, hal ini perlu mendapat perhatian serius,” jelasnya.
Tanda bahaya lainnya meliputi perasaan hampa, rasa bersalah yang berlebihan, menurunnya produktivitas, hingga dorongan obsesif untuk terus memantau berita. Dalam kondisi tersebut, bantuan profesional sangat dianjurkan.
“Apabila gejala-gejala ini mengganggu keberfungsian sehari-hari atau semakin memburuk, individu disarankan untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog klinis atau psikiater,” pungkas Virginia. (Z-10)
Psikolog klinis ungkap alasan remaja dan Generasi Alpha sangat terikat dengan media sosial. Ternyata terkait pencarian identitas dan hormon dopamin.
MENGHADAPI dinamika era digital di tahun 2026, kecemasan orang tua terhadap dampak negatif internet sering kali berujung pada kebijakan larangan total media sosial bagi remaja.
Psikolog Rose Mini ingatkan orang tua untuk jadi contoh kurangi gawai. Tanpa keteladanan, aturan pembatasan akses digital anak tidak akan efektif.
Jangan abaikan! Psikolog ungkap tanda krisis emosional yang sering luput dari perhatian sebelum memicu tindakan kekerasan dan perilaku impulsif.
Saat seseorang berada dalam puncak emosi, baik itu rasa senang yang meluap, kesedihan mendalam, hingga kemarahan yang memuncak, mereka cenderung menjadi lebih impulsif.
Psikolog klinis Anna Aulia mengungkap mengapa warga desa lebih cepat bangkit pascabencana banjir dibanding warga kota. Simak analisis daya tahan psikologisnya.
Gerakan Revolusi Mindfulness menjadi perjalanan bersama untuk menemukan keseimbangan di tengah derasnya arus informasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved