Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Sering Baca Berita Buruk? Ini Dampaknya bagi Kesehatan Jiwa

Nike Amelia Sari
27/1/2026 18:02
Sering Baca Berita Buruk? Ini Dampaknya bagi Kesehatan Jiwa
Sering baca berita buruk bisa berdampak bagi kesehatan.(Freepik)

PAPARAN informasi negatif secara terus-menerus dapat membawa dampak serius bagi kesehatan mental. Psikolog klinis Virginia Hanny, mengingatkan bahwa arus informasi yang tak terkendali, terutama terkait bencana dan krisis, berpotensi memicu kelelahan mental hingga gangguan psikologis.

Menurut Virginia, dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh individu yang berada langsung di lokasi kejadian. Masyarakat yang hanya mengikuti perkembangan peristiwa melalui layar ponsel atau media digital juga berisiko mengalami gangguan psikologis yang dikenal sebagai vicarious trauma atau secondary trauma.

“Fenomena ini menggambarkan kondisi psikologis seseorang yang mengalami tekanan emosional setelah terpapar secara tidak langsung pada pengalaman traumatis orang lain,” ujar Virginia, seperti dikutip dari Antara, Senin (26/1).

Lulusan Universitas Padjadjaran itu menjelaskan bahwa berbagai riset menunjukkan visual dan narasi emosional yang dikonsumsi secara berulang dapat memicu respons stres yang menyerupai trauma langsung. Kondisi ini kerap tidak disadari karena terjadi secara perlahan, seiring kebiasaan mengakses informasi setiap hari.

Langkah Pencegahan

Sebagai upaya pencegahan, Virginia menyarankan masyarakat untuk membatasi durasi dan frekuensi mengakses informasi, misalnya cukup satu hingga dua kali sehari melalui sumber berita yang kredibel.

“Penting untuk menyadari batasan diri. Empati tidak berarti harus menyerap seluruh emosi yang dirasakan para korban,” tutur psikolog yang juga berpraktik di Personal Growth tersebut.

Selain membatasi konsumsi informasi, teknik relaksasi seperti grounding serta menyalurkan empati melalui tindakan konkret, misalnya berdonasi atau kegiatan sosial, dapat membantu menjaga keseimbangan emosional.

Virginia menegaskan bahwa perasaan sedih, cemas, atau khawatir di tengah situasi krisis merupakan reaksi yang wajar, bahkan bagi mereka yang tidak terlibat secara langsung. Namun, kewaspadaan perlu ditingkatkan apabila emosi negatif tersebut berlangsung intens dan menetap.

“Jika perasaan cemas atau sedih tidak membaik selama lebih dari dua minggu, disertai gangguan tidur atau mimpi buruk yang berulang, hal ini perlu mendapat perhatian serius,” jelasnya.

Tanda bahaya lainnya meliputi perasaan hampa, rasa bersalah yang berlebihan, menurunnya produktivitas, hingga dorongan obsesif untuk terus memantau berita. Dalam kondisi tersebut, bantuan profesional sangat dianjurkan.

“Apabila gejala-gejala ini mengganggu keberfungsian sehari-hari atau semakin memburuk, individu disarankan untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog klinis atau psikiater,” pungkas Virginia. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya