Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Terapi Seni Bantu Anak Korban Bencana Aceh Tamiang Pulihkan Trauma

Putri Rosmalia Octaviyani
21/2/2026 19:53
 Terapi Seni Bantu Anak Korban Bencana Aceh Tamiang Pulihkan Trauma
Terapi seni dapat bantu anak korban bencana ekspresikan trauma.(Dok. Antara)

TRAUMA pada anak pascabencana alam sering kali menjadi luka yang tidak terlihat namun berdampak mendalam. Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak memiliki keterbatasan dalam mengekspresikan emosi secara verbal. Kondisi inilah yang mendorong penggunaan terapi bermain dan media seni (art therapy) sebagai instrumen utama pemulihan psikologis korban bencana.

Psikolog klinis Anna Aulia menjelaskan bahwa metode ini sangat diandalkan bagi anak-anak korban banjir di Aceh Tamiang. Menurutnya, melalui goresan gambar, anak-anak dapat menyalurkan apa yang tidak mampu mereka ucapkan secara langsung kepada orang dewasa di sekitar mereka.

“Anak jarang bilang dia trauma atau sedih. Tapi itu terlihat dari perilaku dan gambar yang mereka buat,” ujar Anna Aulia dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (21/2/2026).

Mengapa Terapi Seni Efektif untuk Trauma Anak

Menurut psikolog yang merupakan relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Aceh Tamiang dari Kementerian Kesehatan itu, anak-anak menjadi kelompok paling rentan saat bencana karena belum mampu mengolah emosi secara kompleks. Dalam sesi terapi seni, anak-anak diberi kebebasan penuh untuk menggambar apa saja untuk memulihkan kesehatan mental mereka.

Sejumlah anak justru secara spontan menggambar banjir, tenda pengungsian, hingga suasana mencekam yang mereka alami. Gambar itu menjadi pintu masuk bagi psikolog untuk memahami emosi yang terpendam tanpa harus memberikan tekanan kepada anak untuk bercerita.

Terapi seni dinilai sangat praktis karena tidak memerlukan alat rumit, cukup kertas dan alat gambar, namun mampu memberikan dampak penyaluran emosi yang signifikan. Metode ini juga memungkinkan para relawan menjangkau banyak anak dalam satu sesi layanan psikososial.

Mengenali Gejala Trauma Jangka Panjang pada Anak

Anna Aulia, yang juga merupakan tenaga ahli psikolog klinis di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bogor, menjelaskan bahwa trauma yang tidak ditangani dapat memengaruhi emosi dan konsentrasi anak dalam jangka panjang.

Beberapa gejala yang patut diwaspadai meliputi:

  • Anak menjadi lebih mudah marah atau temperamental.
  • Sering menangis secara tiba-tiba.
  • Sulit fokus saat belajar atau melakukan aktivitas harian.
  • Menarik diri dari lingkungan sosial.

Ia menekankan bahwa proses pemulihan psikologis tidak bisa terjadi secara instan. Dukungan dari lingkungan terdekat, terutama keluarga, sangat krusial agar anak merasa aman dan terlindungi untuk kembali menjalani aktivitas secara normal.

Dukungan Pemerintah melalui Layanan Psikososial

Penerjunan relawan TCK merupakan bagian dari program strategis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam memperkuat layanan kesehatan pascabencana banjir di Aceh. Kemenkes memastikan bahwa layanan kesehatan mental menjadi prioritas di samping layanan kesehatan fisik.

Selain memberikan intervensi bagi anak yang terindikasi mengalami gangguan trauma berat, tim relawan juga secara rutin mengajak anak-anak bermain dan bergerak bersama. Aktivitas ini bertujuan untuk membangun kembali rasa aman dan koneksi sosial di antara sesama korban bencana.

“Yang utama adalah anak merasa aman dan tidak sendirian,” pungkas Anna. (Ant/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya