Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Kenali Tanda Krisis Emosional sebelum Berujung Kekerasan, Penting!

 Gana Buana
05/3/2026 21:22
Kenali Tanda Krisis Emosional sebelum Berujung Kekerasan, Penting!
Kenali Tanda Krisis Emosional sebelum Berujung Kekerasan(Freepik)

KASUS kekerasan yang terjadi belakangan ini dinilai tidak muncul secara tiba-tiba. Para pakar psikologi menyebutkan bahwa biasanya terdapat tanda-tanda awal krisis emosional yang sering luput dikenali oleh keluarga maupun lingkungan terdekat.

Psikolog Klinis Ratih Ibrahim, menjelaskan bahwa seseorang umumnya tidak langsung berada pada kondisi emosional berbahaya, melainkan melalui proses yang bertahap. Menurutnya, penting bagi masyarakat untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku sekecil apa pun.

Tanda-Tanda Awal Krisis Emosional

Ratih mengungkapkan bahwa krisis emosional sering kali dimulai dengan perubahan suasana hati yang konsisten. “Biasanya muncul tanda seperti lebih mudah tersinggung, cepat marah, sering merasa sangat sedih, atau justru merasa kosong dalam waktu lama,” ujar Ratih saat dihubungi pada Kamis (5/3).

Lebih lanjut, psikolog yang juga menjadi Tim Ahli Kelompok Kerja Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI itu merinci beberapa gejala lain yang patut diwaspadai:

  • Menarik diri dari pergaulan sosial.
  • Kehilangan minat pada aktivitas yang dulu disukai.
  • Perubahan pola tidur dan pola makan yang drastis.
  • Munculnya pikiran negatif yang kuat, seperti merasa tidak berharga atau putus asa.

Pada sebagian orang, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi perilaku impulsif hingga muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri maupun orang lain sebagai bentuk pelampiasan dari rasa tidak berdaya.

Fenomena "Silent Crisis" di Era Digital

Sementara itu, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Theresia Novi Poespita Candra, menilai tanda krisis emosional pada era digital kerap semakin sulit dikenali. Hal ini dikarenakan banyak individu memilih untuk menyembunyikan perasaan asli mereka di dunia nyata.

“Sekarang banyak anak muda lebih memilih menutup diri atau meluapkan emosi di akun media sosial yang tidak diketahui orang terdekatnya. Akibatnya, lingkungan sekitar tidak menyadari bahwa mereka sedang berada dalam tekanan hebat,” kata Novi.

Ia menambahkan, individu yang tampak diam dan patuh belum tentu berada dalam kondisi baik-baik saja. Minimnya ruang dialog di lingkup keluarga maupun sekolah dapat membuat seseorang tidak memiliki "tempat aman" untuk mengekspresikan perasaan mereka secara sehat.

Kepekaan lingkungan dalam mengenali perubahan perilaku dan keberanian untuk membuka ruang komunikasi adalah langkah preventif utama agar tekanan emosional tidak berkembang menjadi tindakan kekerasan yang merugikan.

Para ahli menekankan bahwa pencegahan jauh lebih efektif daripada penanganan setelah kejadian. Dengan mengenali tanda-tanda krisis emosional lebih dini, tindakan bantuan profesional dapat segera diberikan sebelum individu tersebut mencapai titik ledak emosional. (Ant/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya