Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Mengapa Kita Kerap Oversharing di Media Sosial? Begini Penjelasan Psikolog

Basuki Eka Purnama
25/2/2026 11:14
Mengapa Kita Kerap Oversharing di Media Sosial? Begini Penjelasan Psikolog
Ilustrasi(Freepik)

DI era digital saat ini, media sosial menjadi wadah utama bagi banyak orang untuk mencurahkan isi hati maupun berbagi aktivitas sehari-hari. Namun, tidak jarang interaksi ini berujung pada fenomena oversharing, yaitu berbagi informasi yang terlalu mendalam atau bersifat pribadi ke ranah publik tanpa disadari.

Psikolog Ayu S. Sadewo, S.Psi, Psikolog, mengungkapkan bahwa perilaku ini sering kali dipicu oleh kondisi emosional yang sedang intens. 

Saat seseorang berada dalam puncak emosi, baik itu rasa senang yang meluap, kesedihan mendalam, hingga kemarahan yang memuncak, mereka cenderung menjadi lebih impulsif.

"Saat emosi sedang intens, orang jadi cenderung lebih impulsif hingga kurang memikirkan dampak dari unggahannya bahwa bisa saja hal yang dia unggah sudah berlebihan," ujar Ayu, Selasa (24/2).

Menurut Ayu, oversharing dapat diidentifikasi dari beberapa aspek utama. 

Pertama, konten yang diunggah bersifat terlalu personal atau privat sehingga sebenarnya tidak layak untuk konsumsi publik. Kedua, sering kali seseorang membagikan cerita yang melibatkan pihak lain tanpa meminta izin terlebih dahulu.

Selain itu, konten yang dibuat saat seseorang sedang dalam kondisi emosi yang tidak stabil, seperti terlalu marah atau terlalu sedih, menjadi indikator kuat terjadinya oversharing. 

Karena dorongan emosional tersebut, seseorang sering kali melupakan batasan privasi yang seharusnya dijaga.

Untuk mengatasi perilaku impulsif ini, Ayu menekankan pentingnya kesadaran diri (self-awareness) sebelum menekan tombol "unggah". Ia menyarankan penerapan teknik jeda atau yang disebutnya sebagai pause.

Teknik ini berfungsi memberi waktu bagi otak untuk beralih dari kendali emosi sesaat menuju proses berpikir yang lebih rasional. Dengan mengambil jeda sejenak, seseorang dapat mempertimbangkan kembali konsekuensi dari apa yang akan mereka bagikan.

"Supaya ngga impulsif, take a 'pause' dulu. Sebelum unggah, ambil waktu sejenak, bisa sambil tarik nafas buang nafas beberapa kali, supaya proses berpikir kembali on," tutup dia.

Dengan menerapkan jeda singkat sebelum berinteraksi di media sosial, individu dapat lebih bijak dalam menentukan konten mana yang memang layak untuk dibagikan dan mana yang sebaiknya tetap menjadi privasi. 

Langkah sederhana ini diharapkan tidak hanya menjaga etika dalam bermedia sosial, tetapi juga melindungi kesehatan mental serta hubungan personal di dunia nyata. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya