Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
DI era digital saat ini, media sosial menjadi wadah utama bagi banyak orang untuk mencurahkan isi hati maupun berbagi aktivitas sehari-hari. Namun, tidak jarang interaksi ini berujung pada fenomena oversharing, yaitu berbagi informasi yang terlalu mendalam atau bersifat pribadi ke ranah publik tanpa disadari.
Psikolog Ayu S. Sadewo, S.Psi, Psikolog, mengungkapkan bahwa perilaku ini sering kali dipicu oleh kondisi emosional yang sedang intens.
Saat seseorang berada dalam puncak emosi, baik itu rasa senang yang meluap, kesedihan mendalam, hingga kemarahan yang memuncak, mereka cenderung menjadi lebih impulsif.
"Saat emosi sedang intens, orang jadi cenderung lebih impulsif hingga kurang memikirkan dampak dari unggahannya bahwa bisa saja hal yang dia unggah sudah berlebihan," ujar Ayu, Selasa (24/2).
Menurut Ayu, oversharing dapat diidentifikasi dari beberapa aspek utama.
Pertama, konten yang diunggah bersifat terlalu personal atau privat sehingga sebenarnya tidak layak untuk konsumsi publik. Kedua, sering kali seseorang membagikan cerita yang melibatkan pihak lain tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Selain itu, konten yang dibuat saat seseorang sedang dalam kondisi emosi yang tidak stabil, seperti terlalu marah atau terlalu sedih, menjadi indikator kuat terjadinya oversharing.
Karena dorongan emosional tersebut, seseorang sering kali melupakan batasan privasi yang seharusnya dijaga.
Untuk mengatasi perilaku impulsif ini, Ayu menekankan pentingnya kesadaran diri (self-awareness) sebelum menekan tombol "unggah". Ia menyarankan penerapan teknik jeda atau yang disebutnya sebagai pause.
Teknik ini berfungsi memberi waktu bagi otak untuk beralih dari kendali emosi sesaat menuju proses berpikir yang lebih rasional. Dengan mengambil jeda sejenak, seseorang dapat mempertimbangkan kembali konsekuensi dari apa yang akan mereka bagikan.
"Supaya ngga impulsif, take a 'pause' dulu. Sebelum unggah, ambil waktu sejenak, bisa sambil tarik nafas buang nafas beberapa kali, supaya proses berpikir kembali on," tutup dia.
Dengan menerapkan jeda singkat sebelum berinteraksi di media sosial, individu dapat lebih bijak dalam menentukan konten mana yang memang layak untuk dibagikan dan mana yang sebaiknya tetap menjadi privasi.
Langkah sederhana ini diharapkan tidak hanya menjaga etika dalam bermedia sosial, tetapi juga melindungi kesehatan mental serta hubungan personal di dunia nyata. (Ant/Z-1)
Platform digital yang harus memblokir akun milik anak berusia di bawah 16 tahun, tahap pertama yaitu Youtube, TikTok, Facebook, Instagram, Thread, X (twitter), Bigo Live, dan Roblox.
Generasi Alpha (kelahiran 2010–2025) adalah generasi pertama yang terpapar lingkungan digital sejak lahir.
Pembatasan usia dalam penggunaan media sosial merupakan instrumen kebijakan yang penting.
Dalam psikologi perkembangan, remaja sedang berada pada fase meningkatnya kebutuhan otonomi.
Salah satu fenomena yang paling sering muncul dari penggunaan media sosial adalah kecenderungan remaja untuk melakukan perbandingan sosial secara ekstrem.
Laporan Kebahagiaan Dunia terbaru mengungkap dampak negatif algoritma TikTok dan Instagram pada mental pemuda.
Psikolog klinis ungkap alasan remaja dan Generasi Alpha sangat terikat dengan media sosial. Ternyata terkait pencarian identitas dan hormon dopamin.
MENGHADAPI dinamika era digital di tahun 2026, kecemasan orang tua terhadap dampak negatif internet sering kali berujung pada kebijakan larangan total media sosial bagi remaja.
Psikolog Rose Mini ingatkan orang tua untuk jadi contoh kurangi gawai. Tanpa keteladanan, aturan pembatasan akses digital anak tidak akan efektif.
Jangan abaikan! Psikolog ungkap tanda krisis emosional yang sering luput dari perhatian sebelum memicu tindakan kekerasan dan perilaku impulsif.
Psikolog klinis Anna Aulia mengungkap mengapa warga desa lebih cepat bangkit pascabencana banjir dibanding warga kota. Simak analisis daya tahan psikologisnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved