Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Memahami Alasan Generasi Alpha tak Bisa Lepas dari Media Sosial

Basuki Eka Purnama
26/3/2026 07:04
Memahami Alasan Generasi Alpha tak Bisa Lepas dari Media Sosial
Ilustrasi(Freepik)

KETERTARIKAN mendalam Generasi Alpha terhadap media sosial ternyata bukan sekadar fenomena teknologi, melainkan berkaitan erat dengan kebutuhan perkembangan psikologis mereka. 

Psikolog Klinis Dewasa lulusan Universitas Indonesia, Teresa Indira, menjelaskan bahwa Generasi Alpha (kelahiran 2010–2025) adalah generasi pertama yang terpapar lingkungan digital sejak lahir. Memasuki tahun 2026, kelompok awal generasi ini telah berada pada fase pra-remaja hingga remaja awal.

Pencarian Jati Diri di Ruang Digital

Merujuk pada teori perkembangan psikososial Erik Erikson, Teresa, yang akrab disapa Tesya, menyebut remaja berada pada tahap Identity versus Role Confusion. 

“Remaja sedang bertanya, saya ini siapa, saya cocok di kelompok mana, dan orang lain melihat saya seperti apa,” kata Tesya.

Media sosial hadir menyediakan ruang yang relevan bagi kebutuhan tersebut. 

Melalui foto, video, maupun opini, remaja dapat mengekspresikan diri sekaligus mendapatkan respons instan dari lingkungan sosialnya. 

“Di media sosial, mereka bisa mendapat pengakuan melalui likes, komentar, dan followers. Itu memberi rasa diterima dan diakui,” ujarnya.

Dorongan Biologis dan Peran Orangtua

Selain faktor psikologis, aspek biologis turut memengaruhi keterikatan ini. Tesya menjelaskan bahwa notifikasi dan interaksi di media sosial memicu pelepasan dopamin di otak yang menimbulkan rasa senang, sehingga memunculkan keinginan untuk mengulang perilaku tersebut secara terus-menerus.

Kombinasi antara kebutuhan identitas, koneksi sosial, dan respons biologis inilah yang membuat media sosial menjadi sangat relevan bagi kehidupan remaja saat ini.

“Jadi ketertarikan pada media sosial bukan hanya soal teknologi. Platform tersebut selaras dengan kebutuhan perkembangan remaja untuk eksplorasi identitas dan membangun koneksi sosial,” pungkasnya.

Teresa menekankan pentingnya bagi orangtua untuk memahami aspek perkembangan ini. Dengan pemahaman yang tepat, orangtua diharapkan dapat bersikap lebih proporsional dalam mendampingi anak saat proses pencarian jati diri di era digital. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya