Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
KETERTARIKAN mendalam Generasi Alpha terhadap media sosial ternyata bukan sekadar fenomena teknologi, melainkan berkaitan erat dengan kebutuhan perkembangan psikologis mereka.
Psikolog Klinis Dewasa lulusan Universitas Indonesia, Teresa Indira, menjelaskan bahwa Generasi Alpha (kelahiran 2010–2025) adalah generasi pertama yang terpapar lingkungan digital sejak lahir. Memasuki tahun 2026, kelompok awal generasi ini telah berada pada fase pra-remaja hingga remaja awal.
Merujuk pada teori perkembangan psikososial Erik Erikson, Teresa, yang akrab disapa Tesya, menyebut remaja berada pada tahap Identity versus Role Confusion.
“Remaja sedang bertanya, saya ini siapa, saya cocok di kelompok mana, dan orang lain melihat saya seperti apa,” kata Tesya.
Media sosial hadir menyediakan ruang yang relevan bagi kebutuhan tersebut.
Melalui foto, video, maupun opini, remaja dapat mengekspresikan diri sekaligus mendapatkan respons instan dari lingkungan sosialnya.
“Di media sosial, mereka bisa mendapat pengakuan melalui likes, komentar, dan followers. Itu memberi rasa diterima dan diakui,” ujarnya.
Selain faktor psikologis, aspek biologis turut memengaruhi keterikatan ini. Tesya menjelaskan bahwa notifikasi dan interaksi di media sosial memicu pelepasan dopamin di otak yang menimbulkan rasa senang, sehingga memunculkan keinginan untuk mengulang perilaku tersebut secara terus-menerus.
Kombinasi antara kebutuhan identitas, koneksi sosial, dan respons biologis inilah yang membuat media sosial menjadi sangat relevan bagi kehidupan remaja saat ini.
“Jadi ketertarikan pada media sosial bukan hanya soal teknologi. Platform tersebut selaras dengan kebutuhan perkembangan remaja untuk eksplorasi identitas dan membangun koneksi sosial,” pungkasnya.
Teresa menekankan pentingnya bagi orangtua untuk memahami aspek perkembangan ini. Dengan pemahaman yang tepat, orangtua diharapkan dapat bersikap lebih proporsional dalam mendampingi anak saat proses pencarian jati diri di era digital. (Ant/Z-1)
Pembatasan usia dalam penggunaan media sosial merupakan instrumen kebijakan yang penting.
Dalam psikologi perkembangan, remaja sedang berada pada fase meningkatnya kebutuhan otonomi.
Salah satu fenomena yang paling sering muncul dari penggunaan media sosial adalah kecenderungan remaja untuk melakukan perbandingan sosial secara ekstrem.
Laporan Kebahagiaan Dunia terbaru mengungkap dampak negatif algoritma TikTok dan Instagram pada mental pemuda.
Matcha memang kaya akan katekin, terutama epigallocatechin gallate (EGCG) yang bersifat antioksidan.
Salah satu fenomena yang paling sering muncul dari penggunaan media sosial adalah kecenderungan remaja untuk melakukan perbandingan sosial secara ekstrem.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus melakukan berbagai upaya penanganan bencana banjir bandang di Kabupaten Pemalang.
mitigasi bencana tidak dapat hanya bertumpu pada pembangunan fisik, tetapi juga harus menyentuh perubahan perilaku serta penguatan kesiapan mental masyarakat
TAWA anak-anak perlahan terdengar di sebuah sudut Kecamatan Kuta Blang, Bireuen. Di tengah rumah-rumah yang masih menyisakan jejak bencana. Penyuluh agama Islam adakan trauma healing
Dokumen baru mengungkap cara Ghislaine Maxwell menggunakan peran "kakak perempuan yang keren" untuk menormalisasi pelecehan seksual Jeffrey Epstein terhadap remaja.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved