Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Waspada Dampak Psikologis Media Sosial pada Remaja: Dari Krisis Harga Diri hingga Gangguan Tidur

Basuki Eka Purnama
20/3/2026 20:27
Waspada Dampak Psikologis Media Sosial pada Remaja: Dari Krisis Harga Diri hingga Gangguan Tidur
Ilustrasi(Freepik)

PENGGUNAAN media sosial yang berlebihan pada usia remaja bukan sekadar masalah durasi layar, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan mental. 

Psikolog Klinis Dewasa lulusan Magister Profesi Klinis Universitas Indonesia, Teresa Indira Andani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mengingatkan adanya sederet dampak psikologis serius yang mengintai, mulai dari perilaku membandingkan diri hingga gangguan tidur kronis.

Dalam keterangannya, dikutip Jumat (20/3), Teresa menjelaskan bahwa salah satu fenomena yang paling sering muncul adalah kecenderungan remaja untuk melakukan perbandingan sosial secara ekstrem. 

Di usia yang sedang mencari jati diri, remaja sering kali terjebak dalam ilusi kesempurnaan di dunia maya.

“Remaja bisa merasa tidak cukup menarik, tidak cukup populer, atau tidak cukup berhasil karena melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna di media sosial,” ujar psikolog yang akrab disapa Tesya tersebut.

Antara Realitas dan Representasi

Tesya menyoroti bagaimana konten media sosial umumnya hanya menampilkan "sisi terbaik" atau kurasi kehidupan seseorang. 

Masalahnya, remaja belum sepenuhnya memiliki kemampuan kognitif dan emosional untuk memilah mana yang merupakan realitas murni dan mana yang hanya sekadar representasi digital.

Ketidakmampuan memilah ini berdampak langsung pada self-esteem atau harga diri mereka. Jika tidak waspada, standar kebahagiaan remaja akan bergeser pada angka-angka di layar gawai.

“Jika validasi terlalu bergantung pada likes dan komentar, harga diri menjadi sangat eksternal. Artinya, rasa percaya diri bergantung pada respons orang lain,” tegasnya.

Efek FOMO dan Gangguan Fisik

Selain masalah harga diri, intensitas penggunaan media sosial juga memicu fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Ini adalah rasa cemas berlebih ketika remaja merasa tertinggal dari informasi terbaru atau tidak terlibat dalam percakapan digital teman sebaya. 

Kecemasan ini sering kali berlanjut hingga malam hari, yang kemudian memicu gangguan tidur.

Penggunaan gawai hingga larut malam terbukti menurunkan kualitas istirahat. Akibatnya, konsentrasi remaja pada keesokan harinya akan menurun drastis, yang tentu mengganggu produktivitas dan fungsi akademik mereka.

Pentingnya Keseimbangan

Meski memaparkan berbagai risiko, Tesya menekankan bahwa media sosial tidak melulu membawa dampak buruk. Platform digital tetap memiliki sisi positif sebagai sarana belajar, ruang kreativitas, dan wadah membangun komunitas yang suportif.

Kuncinya terletak pada manajemen penggunaan. “Masalah muncul ketika penggunaannya tidak seimbang dan tidak terkelola,” tambahnya.

Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa peran orangtua dan lingkungan sekitar sangat krusial. Pendampingan orang dewasa diperlukan untuk mengedukasi remaja agar mampu menggunakan media sosial secara sehat, bijak, dan proporsional. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik