Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Mengapa Remaja Kecanduan Media Sosial? Psikolog: Penuhi Kebutuhan Identitas

Putri Rosmalia Octaviyani
15/3/2026 22:38
Mengapa Remaja Kecanduan Media Sosial? Psikolog: Penuhi Kebutuhan Identitas
Ilustrasi seorang remaja bermain media sosial.(Dok. Freepik)

FENOMENA keterikatan remaja terhadap media sosial seringkali dipandang hanya sebagai tren teknologi semata. Namun, pakar psikologi mengungkapkan bahwa fenomena ini berakar jauh lebih dalam pada kebutuhan perkembangan identitas dan mekanisme biologis otak manusia.

Psikolog Klinis Dewasa lulusan Magister Profesi Klinis Universitas Indonesia, Teresa Indira, menjelaskan bahwa ketertarikan Generasi Alpha dan remaja terhadap platform digital tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan perkembangan psikologis mereka.

Generasi Digital Native Pertama

Generasi Alpha, yang merujuk pada anak-anak kelahiran tahun 2010 hingga 2025, merupakan generasi pertama yang sejak lahir sudah hidup di lingkungan digital. Memasuki tahun 2026, kelompok awal generasi ini telah memasuki fase pra-remaja hingga remaja awal.

"Smartphone, YouTube, TikTok, dan berbagai platform lain menjadi bagian dari keseharian mereka," ujar Teresa saat dihubungi, Jumat (13/3).

Pencarian Jati Diri di Ruang Digital

Dari perspektif teori perkembangan psikososial Erik Erikson, remaja berada pada tahap Identity versus Role Confusion. Pada fase ini, individu sedang mencari jati diri dan berupaya memahami posisi dirinya di lingkungan sosial.

Menurut psikolog yang kerap disapa Tesya tersebut, media sosial menyediakan ruang yang sangat sesuai dengan kebutuhan tersebut. Platform digital memungkinkan remaja mengekspresikan diri melalui foto, video, atau opini, sekaligus mendapatkan respons langsung.

"Di media sosial, mereka bisa mendapat pengakuan melalui likes, komentar, dan followers. Itu memberi rasa diterima dan diakui," ungkapnya.

Aspek Biologis: Peran Dopamin

Selain faktor psikologis, aspek biologis turut berperan besar. Tesya menjelaskan bahwa setiap notifikasi dan interaksi di media sosial memicu pelepasan dopamin di otak.

Pelepasan hormon ini menimbulkan rasa senang dan mendorong keinginan untuk mengulang perilaku tersebut secara terus-menerus. Kombinasi antara kebutuhan identitas, koneksi sosial, dan respons biologis inilah yang membuat media sosial terasa sangat relevan bagi remaja.

Pentingnya Pendampingan Orang Tua

Memahami aspek perkembangan ini sangat krusial bagi orang tua agar dapat melihat penggunaan media sosial secara lebih proporsional. Orang tua diharapkan mampu mendampingi anak dalam proses pencarian jati diri yang sehat di era digital.

"Jadi ketertarikan pada media sosial bukan hanya soal teknologi. Platform tersebut selaras dengan kebutuhan perkembangan remaja untuk eksplorasi identitas dan membangun koneksi sosial," pungkas Tesya.

(Ant/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya