Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA keterikatan remaja terhadap media sosial seringkali dipandang hanya sebagai tren teknologi semata. Namun, pakar psikologi mengungkapkan bahwa fenomena ini berakar jauh lebih dalam pada kebutuhan perkembangan identitas dan mekanisme biologis otak manusia.
Psikolog Klinis Dewasa lulusan Magister Profesi Klinis Universitas Indonesia, Teresa Indira, menjelaskan bahwa ketertarikan Generasi Alpha dan remaja terhadap platform digital tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan perkembangan psikologis mereka.
Generasi Alpha, yang merujuk pada anak-anak kelahiran tahun 2010 hingga 2025, merupakan generasi pertama yang sejak lahir sudah hidup di lingkungan digital. Memasuki tahun 2026, kelompok awal generasi ini telah memasuki fase pra-remaja hingga remaja awal.
"Smartphone, YouTube, TikTok, dan berbagai platform lain menjadi bagian dari keseharian mereka," ujar Teresa saat dihubungi, Jumat (13/3).
Dari perspektif teori perkembangan psikososial Erik Erikson, remaja berada pada tahap Identity versus Role Confusion. Pada fase ini, individu sedang mencari jati diri dan berupaya memahami posisi dirinya di lingkungan sosial.
Menurut psikolog yang kerap disapa Tesya tersebut, media sosial menyediakan ruang yang sangat sesuai dengan kebutuhan tersebut. Platform digital memungkinkan remaja mengekspresikan diri melalui foto, video, atau opini, sekaligus mendapatkan respons langsung.
"Di media sosial, mereka bisa mendapat pengakuan melalui likes, komentar, dan followers. Itu memberi rasa diterima dan diakui," ungkapnya.
Selain faktor psikologis, aspek biologis turut berperan besar. Tesya menjelaskan bahwa setiap notifikasi dan interaksi di media sosial memicu pelepasan dopamin di otak.
Pelepasan hormon ini menimbulkan rasa senang dan mendorong keinginan untuk mengulang perilaku tersebut secara terus-menerus. Kombinasi antara kebutuhan identitas, koneksi sosial, dan respons biologis inilah yang membuat media sosial terasa sangat relevan bagi remaja.
Memahami aspek perkembangan ini sangat krusial bagi orang tua agar dapat melihat penggunaan media sosial secara lebih proporsional. Orang tua diharapkan mampu mendampingi anak dalam proses pencarian jati diri yang sehat di era digital.
"Jadi ketertarikan pada media sosial bukan hanya soal teknologi. Platform tersebut selaras dengan kebutuhan perkembangan remaja untuk eksplorasi identitas dan membangun koneksi sosial," pungkas Tesya.
(Ant/H-3)
Media sosial dapat memperburuk kondisi emosional penderita bipolar. Ketahui tiga dampak negatif utamanya.
BRAIN rot atau pembusukan/kerusakan otak merupakan istilah untuk menggambarkan terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk scrolling media sosial. Terutama untuk melihat konten receh.
Firman menekankan bahwa negara harus turun tangan untuk memberantas perkumpulan menyimpang tersebut.
Terhubung, berbagi, dan berkomunikasi! Media sosial: Jembatan interaksi, wadah informasi, dan ruang ekspresi diri.
Konflik sosial merusak harmoni? Pelajari akar masalah & solusi efektif redakan ketegangan antar kelompok. Temukan cara membangun perdamaian, Kelompok Sosial dan Solusinya
MENGHADAPI dinamika era digital di tahun 2026, kecemasan orang tua terhadap dampak negatif internet sering kali berujung pada kebijakan larangan total media sosial bagi remaja.
Korban diduga hanyut saat hendak menyeberangi sungai untuk pulang ke rumah.
Remaja yang aktif melaporkan kebaikan tercatat lima kali lebih empati, lima kali lebih prososial, dan hampir empat kali lebih tinggi dalam kemampuan memahami sudut pandang orang lain.
Sepeda motor hasil rampokan tersebut sempat dipasarkan melalui media sosial (marketplace) sebelum akhirnya berhasil disita polisi sebagai barang bukti.
Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved