Headline

Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.

Risiko di Balik Larangan Total Media Sosial pada Remaja, Ini Penjelasan Psikolog

Putri Rosmalia Octaviyani
15/3/2026 22:04
Risiko di Balik Larangan Total Media Sosial pada Remaja, Ini Penjelasan Psikolog
Ilustrasi, remaja bermain media sosial.(Dok. Freepik)

MENGHADAPI dinamika era digital di tahun 2026, kecemasan orang tua terhadap dampak negatif internet sering kali berujung pada kebijakan larangan total media sosial bagi remaja. Namun, para ahli memperingatkan bahwa langkah ekstrem larangan media sosial untuk remaja ini justru bisa menjadi bumerang bagi perkembangan psikologis anak.

Psikolog Klinis Dewasa lulusan Universitas Indonesia, Teresa Indira Andani, menilai bahwa menutup akses medsos secara penuh tidak selalu efektif dan berisiko memicu perlawanan yang lebih kuat dari remaja.

Apa Itu Psychological Reactance?

Dalam psikologi perkembangan, remaja sedang berada pada fase meningkatnya kebutuhan otonomi. Mereka memiliki dorongan alami untuk mandiri dan diakui kemampuannya dalam mengambil keputusan sendiri.

Psychological Reactance adalah respons emosional yang muncul ketika seseorang merasa kebebasannya dibatasi secara berlebihan, sehingga muncul motivasi kuat untuk melakukan hal yang dilarang tersebut sebagai bentuk pemulihan kebebasan.

“Ketika aturan terasa terlalu kaku, bisa muncul psychological reactance. Ini terjadi ketika orang tua menerapkan larangan tanpa membuka ruang dialog,” ujar Teresa dalam keterangannya, Jumat (13/3).

Risiko Tersembunyi di Balik Larangan Ketat

Menurut psikolog yang akrab disapa Tesya ini, ada beberapa konsekuensi negatif yang perlu diwaspadai orang tua jika bersikap terlalu otoriter terkait teknologi:

  • Kehilangan Kepercayaan: Remaja merasa tidak dipercaya oleh orang tua, yang mengakibatkan hubungan emosional menjadi tegang.
  • Akses Diam-diam: Larangan total sering kali mendorong remaja untuk menggunakan media sosial secara sembunyi-sembunyi, sehingga orang tua justru kehilangan kontrol dan pengawasan.
  • Buta Realitas Sosial: Media sosial adalah bagian dari realitas sosial remaja saat ini. Melarangnya berarti menjauhkan anak dari lingkungan pergaulannya tanpa memberikan bekal navigasi yang benar.

Solusi: Pendampingan dan Kontrol Diri

Pendekatan yang lebih efektif adalah dengan melakukan pendampingan serta membuat pengaturan yang disepakati bersama. Fokus utama bukan lagi membatasi dari luar, melainkan membangun kontrol diri dari dalam diri anak.

Langkah Praktis Parenting Digital:

  1. Dialog Interaktif: Diskusikan mengenai konten yang sehat dan risiko nyata di dunia digital (cyberbullying, privasi, dll).
  2. Zona Bebas Gawai: Sepakati waktu dan area tertentu di rumah di mana tidak boleh ada layar (misalnya saat makan bersama).
  3. Kesepakatan Durasi: Libatkan remaja dalam menentukan berapa lama waktu yang wajar untuk bersosial media agar mereka merasa memiliki tanggung jawab atas keputusan tersebut.

“Tujuannya membantu anak belajar mengelola diri. Kontrol diri itu perlu dilatih, bukan dipaksakan,” tegas Tesya. Dengan komunikasi terbuka, aturan di dalam rumah tidak akan berubah menjadi konflik, melainkan menjadi panduan keselamatan bagi remaja di dunia digital.

(Ant/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya