Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
MENGHADAPI dinamika era digital di tahun 2026, kecemasan orang tua terhadap dampak negatif internet sering kali berujung pada kebijakan larangan total media sosial bagi remaja. Namun, para ahli memperingatkan bahwa langkah ekstrem larangan media sosial untuk remaja ini justru bisa menjadi bumerang bagi perkembangan psikologis anak.
Psikolog Klinis Dewasa lulusan Universitas Indonesia, Teresa Indira Andani, menilai bahwa menutup akses medsos secara penuh tidak selalu efektif dan berisiko memicu perlawanan yang lebih kuat dari remaja.
Dalam psikologi perkembangan, remaja sedang berada pada fase meningkatnya kebutuhan otonomi. Mereka memiliki dorongan alami untuk mandiri dan diakui kemampuannya dalam mengambil keputusan sendiri.
Psychological Reactance adalah respons emosional yang muncul ketika seseorang merasa kebebasannya dibatasi secara berlebihan, sehingga muncul motivasi kuat untuk melakukan hal yang dilarang tersebut sebagai bentuk pemulihan kebebasan.
“Ketika aturan terasa terlalu kaku, bisa muncul psychological reactance. Ini terjadi ketika orang tua menerapkan larangan tanpa membuka ruang dialog,” ujar Teresa dalam keterangannya, Jumat (13/3).
Menurut psikolog yang akrab disapa Tesya ini, ada beberapa konsekuensi negatif yang perlu diwaspadai orang tua jika bersikap terlalu otoriter terkait teknologi:
Pendekatan yang lebih efektif adalah dengan melakukan pendampingan serta membuat pengaturan yang disepakati bersama. Fokus utama bukan lagi membatasi dari luar, melainkan membangun kontrol diri dari dalam diri anak.
“Tujuannya membantu anak belajar mengelola diri. Kontrol diri itu perlu dilatih, bukan dipaksakan,” tegas Tesya. Dengan komunikasi terbuka, aturan di dalam rumah tidak akan berubah menjadi konflik, melainkan menjadi panduan keselamatan bagi remaja di dunia digital.
(Ant/H-3)
PAPDI mengungkapkan misinformasi di media sosial menyebabkan cakupan vaksinasi campak 2025 turun drastis, menjauh dari target WHO 95%.
Psikolog ingatkan bahaya algoritma media sosial yang picu ketergantungan dan perilaku konsumtif pada remaja. Simak cara mengatasinya di sini.
Psikolog Sani B. Hermawan menyarankan anak di bawah 16 tahun berkolaborasi di akun orangtua guna mematuhi PP Tunas dan menjaga keamanan digital.
Anak di bawah usia 16 tahun tetap dapat berkarya di media sosial, namun sebaiknya menggunakan akun milik orang tua, bukan akun pribadi.
Perlindungan ruang digital memerlukan langkah komprehensif yang mencakup edukasi publik dan penguatan kapasitas pengguna dalam memahami risiko siber.
Dibandingkan menerapkan pelarangan akses secara total, YouTube memilih pendekatan fitur perlindungan yang terintegrasi dan berbasis usia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved