Headline

Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.

YouTube Perkuat Perlindungan Anak dan Remaja Sesuai PP Tunas

Basuki Eka Purnama
30/3/2026 15:24
YouTube Perkuat Perlindungan Anak dan Remaja Sesuai PP Tunas
Logo Youtube(AFP/Lionel BONAVENTURE)

YOUTUBE Indonesia memperkuat komitmen pelindungan pengguna muda di ruang digital seiring dengan implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas.

Dibandingkan menerapkan pelarangan akses secara total, YouTube memilih pendekatan fitur perlindungan yang terintegrasi dan berbasis usia. 

"Pendekatan ini memberikan insentif untuk terciptanya fitur perlindungan terintegrasi serta pengalaman digital yang sesuai dengan usia bagi kaum muda, daripada menerapkan pelarangan secara menyeluruh," tulis YouTube Indonesia dalam keterangan resmi, dikutip Senin (30/3).

Kendali Orangtua dan Teknologi AI

YouTube menempatkan peran orangtua sebagai pengendali utama melalui sejumlah fitur teknis. Salah satunya adalah pengaturan durasi tayangan pada YouTube Shorts yang memungkinkan orangtua membatasi waktu menonton hingga nol menit.

Selain itu, YouTube memperkenalkan teknologi verifikasi usia berbasis kecerdasan buatan (AI). Teknologi inferensi usia ini dijadwalkan meluncur jauh sebelum tenggat waktu penerapan PP Tunas pada Maret 2027. 

Integrasi ini juga mencakup aplikasi Family Link yang memungkinkan orangtua untuk:

  • Mengatur jadwal penggunaan perangkat.
  • Mengunci layar jarak jauh.
  • Memantau aktivitas aplikasi secara real-time.

Fitur Perlindungan Bawaan (Default)

Bagi pengguna di bawah usia 18 tahun, YouTube telah mengaktifkan fitur perlindungan otomatis guna mendukung kesejahteraan digital, di antaranya:

  • Penonaktifan fitur putar otomatis (autoplay).
  • Pembatasan notifikasi mulai pukul 22.00.
  • Pengingat waktu istirahat dan waktu tidur.

YouTube menilai, pembatasan akun secara menyeluruh bagi pengguna di bawah 16 tahun justru berisiko. Hal tersebut dianggap dapat membuat pengguna muda kehilangan akses terhadap fitur keamanan dan pengawasan orang tua yang telah terintegrasi dalam sistem.

Literasi dan Kolaborasi Strategis

Selain pembaruan fitur, YouTube Indonesia juga berfokus pada penguatan literasi digital melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti:

  • Edukasi: Pelatihan bagi 2.500 guru bimbingan konseling di DKI Jakarta untuk menangani ketergantungan ponsel dan kesehatan mental remaja.
  • Kesehatan: Penyusunan panduan kesejahteraan digital bersama PDSKJI, RSCM, dan Universitas Indonesia.
  • Advokasi: Program Youth Champions untuk melatih advokat muda dalam dialog keamanan antarteman sebaya (peer-to-peer).

Ke depannya, YouTube mendorong pemerintah untuk terus melibatkan pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan yang adaptif dan berbasis risiko. 

YouTube juga menyatakan kesiapannya mengikuti mekanisme penilaian mandiri dalam implementasi PP Tunas guna menjaga standar keamanan digital anak di Indonesia. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya