Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Pembatasan Medsos Anak Perlu Diimbangi Aktivitas Nyata

Atalya Puspa    
29/3/2026 22:18
Pembatasan Medsos Anak Perlu Diimbangi Aktivitas Nyata
Ilustrasi(Freepik.com)

PEMBATASAN penggunaan media sosial bagi anak-anak, khususnya di bawah usia 16 tahun, dinilai harus dibarengi dengan penyediaan aktivitas alternatif yang lebih nyata dan bermakna bagi tumbuh kembang mereka.

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Rose Mini Agoes Salim menegaskan, pada usia dini hingga remaja awal, anak masih membutuhkan pengalaman konkret untuk mengembangkan kemampuan kognitif, sosial-emosional, dan psikomotoriknya. 

Aktivitas berbasis virtual dinilai belum mampu sepenuhnya menggantikan pengalaman nyata tersebut.

“Untuk anak-anak, terutama usia dini, yang dibutuhkan bukan sesuatu yang sifatnya virtual, tetapi pengalaman nyata. Karena perkembangan kognitif mereka masih membutuhkan hal-hal yang konkret,” ujarnya saat dihubungi, Minggu (29/3). 

Ia menjelaskan, melalui aktivitas langsung, anak dapat belajar mengelola emosi secara lebih utuh. Misalnya saat mengalami kekalahan dalam permainan, anak belajar menghadapi rasa tidak nyaman, memahami reaksi sosial di sekitarnya, hingga membangun daya tahan mental.

Sebaliknya, pengalaman tersebut sulit diperoleh jika anak hanya berinteraksi melalui permainan berbasis layar.

“Kalau hanya bermain game di layar, anak tidak terasah untuk menghadapi perasaan kalah, bagaimana bersikap saat dilihat teman-temannya, atau bagaimana bangkit kembali,” katanya.

Menurutnya, kondisi ini kerap luput dari perhatian orang tua yang cenderung membiarkan anak mengakses gim atau media sosial tanpa pendampingan yang memadai.

Sebagai alternatif, ia mendorong penguatan kembali permainan tradisional yang melibatkan interaksi sosial dan aktivitas fisik, seperti bentengan atau gobak sodor. Selain melatih kerja sama, permainan tersebut juga dinilai mampu mengembangkan kemampuan motorik anak.

“Permainan tradisional sebenarnya bisa menjadi pengganti yang baik. Anak tidak hanya bergerak secara fisik, tetapi juga belajar bersosialisasi dan mengelola emosi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya inovasi agar aktivitas alternatif tersebut tetap menarik bagi anak. Menurutnya, jika pembatasan media sosial tidak diimbangi dengan pilihan kegiatan yang setara atau lebih menarik, anak berpotensi merasa kehilangan ruang ekspresi.

“Kalau kita melarang, harus ada tandingannya. Bahkan sebaiknya lebih menarik atau minimal sama menariknya dengan media sosial,” katanya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya