Headline

Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.

Selat Hormuz Memanas; Kita tidak Kekurangan BBM, Kita Kekurangan Kesiapan

Fiyatri Widuri, Vice President BPW Indonesia Hiswana Migas Banten
30/3/2026 11:02
Selat Hormuz Memanas; Kita tidak Kekurangan BBM, Kita Kekurangan Kesiapan
Fiyatri Widuri, Vice President BPW Indonesia Hiswana Migas Banten(MI/HO)

KABAR dua kapal tanker Indonesia akhirnya diizinkan melintas di Selat Hormuz memang patut disyukuri.

Namun jika kita berhenti pada rasa lega itu, kita sedang melakukan kesalahan yang sama menganggap krisis hanya terjadi ketika stok benar-benar habis.

Padahal, dalam industri energi, krisis tidak pernah dimulai dari kelangkaan. Krisis selalu dimulai dari ketidakpastian.

Dan hari ini, ketidakpastian itu sudah ada di depan mata.

Dunia Sudah Masuk Mode Krisis tapi apakah Kita Masih Merasa Aman?

Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati selat ini. Ketika jalur ini terganggu, dunia tidak hanya kehilangan minyak dunia tapi kehilangan kepastian.

Harga minyak melonjak.
Biaya tanker naik ke level ekstrem.
Asuransi perang melonjak tajam.

Ini bukan lagi sinyal peringatan.
Ini adalah fase awal krisis energi global.

Namun di dalam negeri, narasi yang berkembang masih sederhana: “Stok aman.”

Pertanyaannya, aman untuk berapa lama, dan dengan harga berapa?

Masalah Kita bukan Stok Tapi Ilusi Stabilitas

Pemerintah menyampaikan bahwa pasokan energi nasional masih aman. Itu penting, dan harus diapresiasi.

Namun ada satu hal yang sering diabaikan:

Ketahanan energi Indonesia masih berada di kisaran hitungan minggu, bukan bulan.

Dalam kondisi global normal, angka ini cukup. Dalam kondisi geopolitik seperti sekarang, angka ini adalah zona rawan.

Karena kita tidak hidup dalam sistem energi yang tertutup. Kita adalah bagian dari pasar global.

Dan di pasar global saat ini, yang terjadi bukan kekurangan suplai langsung, tetapi ledakan volatilitas.

Harga bisa berubah cepat. Distribusi bisa terganggu mendadak. Dan kepanikan bisa menyebar lebih cepat dari pasokan.

SPBU sebagai Garis Depan yang Sering Dilupakan

Krisis energi tidak akan pertama kali terlihat di ruang rapat kementerian. Ia akan terlihat di SPBU.

Di antrean yang tiba-tiba panjang. Di stok yang tiba-tiba terasa “menipis". Di konsumen yang mulai membeli lebih banyak dari biasanya.

Dan di titik itu, satu hal menjadi jelas:

Kelangkaan seringkali bukan karena stok habis, tetapi karena kepercayaan publik mulai goyah.

Inilah yang paling berbahaya.

Karena panic buying tidak membutuhkan krisis nyata tapi cukup dengan persepsi bahwa krisis mungkin terjadi.

Dan yang akan terpukul bukan negara  tapi pelaku usaha di lapangan.

Dalam setiap krisis energi, negara mungkin memiliki cadangan, kebijakan, dan diplomasi.

Namun pelaku usaha di hilir SPBU, distribusi, retail,tidak memiliki kemewahan itu.

Mereka yang pertama menghadapi lonjakan permintaan.
Mereka yang pertama merasakan keterlambatan suplai.
Mereka yang pertama menanggung tekanan margin.

Dan ironisnya, mereka juga yang paling jarang masuk dalam diskusi strategis.

Kita tidak Butuh Kepanikan, Tapi Kita Juga tidak Boleh Terlalu Tenang

Ada dua kesalahan besar dalam menghadapi krisis:

Yang pertama adalah panik.
Yang kedua adalah merasa terlalu aman.

Dan saat ini, kita berisiko melakukan yang kedua.

Karena realitasnya sederhana:

Kita mungkin belum kekurangan BBM hari ini.
Tapi kita sudah berada dalam sistem global yang tidak stabil.

Dan dalam sistem yang tidak stabil,
yang paling berbahaya bukan kekurangan,
melainkan ketidaksiapan.

Kesimpulan

Krisis ini masih terlalu dini untuk dapat diukur cepat atau lambat.

Selat Hormuz mungkin jauh secara geografis.

Namun dalam ekonomi energi global, jarak tidak lagi relevan.

Apa yang terjadi di sana hari ini, akan menentukan harga, distribusi, dan stabilitas di sini, dalam waktu yang jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan.

Jadi pertanyaannya bukan lagi: apakah kita akan terdampak?

Tetapi, apakah kita sudah cukup siap ketika dampaknya benar-benar datang? 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya