Headline

Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.

Fitrah yang Kita Lupakan

Dody Wibowo Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Sukma Dosen Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik Universitas Gadjah Mada
30/3/2026 05:10
Fitrah yang Kita Lupakan
(Dok. Pribadi)

IDUL Fitri baru saja kita rayakan. Selama sebulan, kita berlatih menahan diri dan mempertajam empati. Latihan itu kita tutup dengan bermaaf-maafan, berbagi kebahagiaan, dan meneguhkan kembali ikatan persaudaraan. Kita menyebutnya kembali ke fitrah; kembali ke kesucian, ke kemanusiaan yang paling murni. Namun, benarkah kita sudah kembali ke fitrah? Atau justru kita hanya berhenti pada seremoninya, tapi lupa pada esensinya?

Dua bulan lalu, pada 29 Januari 2026, seorang anak berusia 10 tahun, siswa kelas IV SD, di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, mengakhiri hidupnya. Ia meninggalkan surat untuk ibunya. Ia pergi bukan karena konflik kekerasan, bukan karena perundungan, bukan karena bencana alam. Ia pergi karena tidak punya uang untuk membeli buku tulis dan pulpen yang harganya kurang dari Rp10 ribu.

Masyarakat tersentak. Berbagai komentar muncul di media sosial. Para pejabat angkat bicara. Lalu datang berita berikutnya: ribuan warga korban banjir di Sumatra masih bertahan di tenda pengungsian memasuki Ramadan. Lalu pejabat pajak tertangkap oleh KPK dengan modus cuci uang triliunan rupiah. Lalu aktivis Kontras, Andrie Yunus, disiram air keras oleh oknum TNI setelah merekam podcast tentang remiliterisasi. Berita buruk datang silih berganti tanpa henti, sampai sebagian dari kita memutuskan berhenti marah. Bukan karena situasinya membaik, melainkan karena kita kehabisan kapasitas untuk peduli. Masyarakat mengalami apa yang disebut Figley (1995) sebagai compassion fatigue. Ada perasaan lelah karena terus-menerus dihajar berita buruk yang tidak berujung pada perubahan ke arah lebih baik.

Masyarakat marah sebentar, lalu berlalu. Berulang seperti itu dan sistem yang memunculkan masalah tetap berjalan terus. Tanpa terasa, ketidakpedulian akhirnya menjadi hal yang wajar. Jika melihatnya dari sudut pandang pendidikan, situasi itu bisa dimaknai sebagai sebuah kegiatan pembelajaran yang sedang dijalankan. Tidak ada silabusnya, tapi dipertontonkan setiap hari kepada generasi yang sedang tumbuh.

 

PELAJARAN YANG TIDAK DIRENCANAKAN

Philip W Jackson, dalam bukunya Life in Classrooms (1968), memperkenalkan konsep hidden curriculum (kurikulum tersembunyi). Kurikulum itu berupa sekumpulan aturan dan nilai yang tidak disampaikan secara eksplisit kepada siswa di sekolah, tetapi bisa mereka saksikan. Ia menunjukkan anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan guru di kelas. Mereka juga belajar ketika menyaksikan guru dan orang dewasa di sekeliling mereka memperlakukan satu sama lain, bagaimana kekuasaan digunakan, dan apa yang terjadi ketika seseorang melakukan kesalahan.

Paulo Freire melalui bukunya, Pedagogia do Oprimido (1968), mengingatkan bahwa pendidikan tidak pernah netral. Setiap lingkungan selalu mengajarkan sesuatu, baik kita sengaja maupun tidak. Anak-anak selalu belajar dari lingkungan mereka. Pertanyaannya sekarang ialah apa yang sedang diajarkan orang-orang di sekeliling mereka hari ini? Apa yang mereka internalisasi?

 

Anak-anak menyaksikan orang berkuasa bisa berbuat semaunya tanpa konsekuensi setara. Anak-anak juga melihat bahwa aturan berlaku berbeda tergantung siapa yang melanggar. Anak-anak mengamati ketika orang melontarkan kritik, tetapi dibalas bukan dengan argumen, melainkan ancaman, bahkan kekerasan. Anak-anak menyaksikan empati ditampilkan hanya ketika ada kamera yang merekam. Anak-anak juga menyadari bahwa kita sudah tidak membicarakan kasus bunuh diri siswa SD di Ngada kurang dari sebulan.

Ki Hadjar Dewantara meminta kita, orang dewasa, untuk ing ngarsa sung tuladha (menjadi teladan ketika berada di depan/berkuasa). Teladan yang bukan sekadar slogan, melainkan teladan hidup. Keteladanan yang terlihat dalam setiap keputusan, setiap sikap, setiap cara kita merespons ketidakadilan. Bila yang di depan gagal menjadi teladan, jangan heran bila yang di belakang belajar hal yang salah.

Jika anak-anak terus-menerus melihat perilaku merugikan tanpa konsekuensi moral yang sepadan, mereka akan belajar untuk menormalkan hal tersebut. Yang lebih mengkhawatirkan, anak-anak akan kehilangan empati. Empati membutuhkan contoh kebaikan yang konsisten dari orang dewasa di sekeliling mereka yang menunjukkan kepedulian itu nyata, bukan sekadar formalitas ataupun pencitraan.

 

TANGGUNG JAWAB BERSAMA

Memastikan anak-anak kita belajar tentang fitrah dan menghidupinya tentu menjadi tanggung jawab bersama. Bukan hanya tugas guru di sekolah dan orangtua di rumah, melainkan juga seluruh anggota masyarakat di mana pun mereka berada, apalagi di era digital yang tidak memiliki batas yang jelas.

Di sekolah, guru yang mampu mengajarkan kemanusiaan perlu dilihat lagi beban yang mereka miliki dan dukungan yang mereka dapatkan. Kita tidak kekurangan guru yang berkomitmen, tetapi sayangnya mereka menjadi pihak yang dipinggirkan. Beban yang kian bertambah. Bukan hanya beban mengajar yang kini mereka miliki, mereka juga dibebani urusan-urusan administratif yang tidak ada kaitannya dengan tugas utama mereka sebagai pendidik. Kesejahteraan guru juga tidak diperbaiki. Guru yang seharusnya mengajarkan keadilan pun terjebak menjadi korban ketidakadilan (Jamshaid, Akram & Baber, 2024). Siswa-siswa mereka melihat semua itu. Mereka belajar dari cara orang dewasa diperlakukan, bukan hanya dari cara orang dewasa berbicara kepada mereka.

Namun, tanggung jawab itu tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada guru dan sekolah. Kurikulum tersembunyi juga terjadi di luar sekolah, baik di rumah, di ruang publik, maupun di layar gawai yang menemani anak-anak setiap hari. Di semua ruang itu, orang dewasa perlu mengembangkan apa yang Freire (1968) sebut sebagai conscientizacao (kesadaran kritis), yang lahir bukan dari ceramah, melainkan dari pengalaman nyata menghadapi ketidakadilan dan memilih untuk meresponsnya secara bermartabat. Tanpa kesadaran itu, kita tidak akan pernah bisa menjadi teladan yang sesungguhnya.

Fitrah pada akhirnya bukan hanya soal hati yang bersih setelah sebulan berpuasa. Ia soal pilihan yang kita buat setelah itu. Apakah kita menyadari bahwa setiap tindakan kita ialah pelajaran? Bahwa setiap ketidakadilan yang dibiarkan, setiap kritik yang dibungkam, setiap korban kekerasan yang dilupakan, semuanya menjadi bagian dari kurikulum kehidupan yang sedang diajarkan kepada generasi penerus bangsa ini? Kita semua, dalam kapasitas masing-masing, ialah bagian dari kurikulum itu.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik