Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Pembelajaran Jarak Jauh, Pengamat Ingatkan Potensi Learning Loss

Mohamad Farhan Zhuhri
25/3/2026 18:59
Pembelajaran Jarak Jauh, Pengamat Ingatkan Potensi Learning Loss
Indra Charismiadji Pemerhati dan praktisi pendidikan(Dok.MI)

PENGAMAT dan praktisi pendidikan Indra Charismiadji menilai wacana pembelajaran jarak jauh atau PJJ maupun work from home atau WFH  tak berkaitan dengan kualitas pendidikan. Wacana PJJ bagi anak sekolah dan WFH bagi pegawai khususnya aparatur sipil negara atau ASN, mengemuka setelah pemerintah berupaya menekan konsumsi bahan bakar minyak karena terganggunya suplai energi akibat konflik di Timur Tengah,

“Kalau PJJ dibatalkan sementara WFH tetap berjalan, kita harus lihat dulu apa dasar pertimbangannya. Jangan sampai bukan karena kesiapan sistem, tapi alasan lain yang tidak berkaitan dengan kualitas pendidikan,” ujar Indra saat dihubungi Media Indonesia, Rabu (25/3). 

Ia menegaskan, pemerintah belum menunjukkan langkah konkret dalam membangun sistem pembelajaran digital yang matang.  Padahal, sambung Indra, saat pandemi covid-19 terjadi learning loss akibat ketidaksiapan infrastruktur dan metode belajar daring. Learning loss merupakan fenomena peserta didik malas belajar.

“Problemnya waktu pandemi itu kita tidak siap. Pertanyaannya sekarang, setelah hampir enam tahun, apa sudah ada perbaikan? Faktanya belum,” tegasnya.

Indra menyoroti praktik pembelajaran daring di Indonesia belum menyentuh konsep blended learning (sekolah tatap muka dan daring) secara utuh.  Penggunaan teknologi, kata dia, masih terbatas pada aplikasi percakapan seperti WhatsApp atau pertemuan virtual yang tidak didesain sebagai sistem pembelajaran yang efektif.

“Di negara lain, penggunaan learning management system (LMS) itu sudah menjadi standar. Di kita masih sporadis, bahkan metode pengajarannya pun belum berubah, masih satu arah,” katanya.

Menurutnya, kondisi ini berbanding terbalik dengan dunia kerja yang justru semakin adaptif terhadap sistem fleksibel. Ia menilai, ketimpangan antara sistem pendidikan dan kebutuhan dunia kerja menjadi persoalan mendasar yang belum terselesaikan.

“Sekarang orang bisa bekerja dari mana saja, tapi sekolah masih harus selalu tatap muka agar dianggap efektif. Artinya ada yang tidak sinkron antara sistem pendidikan dan realitas dunia kerja ke depan,” ujarnya.

Lebih jauh, Indra mengingatkan bahwa ketertinggalan Indonesia dalam pendidikan digital bukan sekadar persepsi, melainkan telah tercermin dalam berbagai studi internasional. 

Ia menyebut, capaian pendidikan nasional dalam sejumlah indikator global masih menunjukkan tren penurunan.

“Baik dari PISA maupun asesmen nasional, kualitas pendidikan kita cenderung menurun. Ini alarm serius,” katanya. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya