Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Kemitraan Berbasis Data

Susan Sovia Wakil Direktur Kerja Sama Antarlembaga Yayasan Sukma
01/12/2025 05:10
Kemitraan Berbasis Data
(Dok. Pribadi)

DI banyak daerah di Indonesia, kualitas pendidikan tak kunjung membaik bukan lantaran kita kekurangan data, melainkan karena data belum benar-benar dihidupkan dalam praktik. Berbagai program pendidikan sering dirancang tanpa membaca kebutuhan nyata di lapangan sehingga solusi yang hadir tidak menyentuh akar persoalan. Padahal, sekolah dan pemerintah telah menyimpan data yang sangat kaya—mulai dari Dapodik, Asesmen Nasional, profil guru, capaian belajar, hingga kondisi infrastruktur. Namun, sebagian besar masih berhenti sebagai tumpukan angka dan laporan administratif. Data yang seharusnya menjadi panduan perubahan justru belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Di titik inilah muncul pertanyaan penting: bagaimana memastikan data tidak hanya dikumpulkan, tetapi digunakan untuk memperbaiki kehidupan siswa, guru, dan sekolah? Dan, lebih jauh lagi, mengapa kemitraan berbasis data menjadi kebutuhan mendesak dalam pembangunan pendidikan hari ini?

 

MENGAPA KEMITRAAN BERBASIS DATA PENTING?

Salah satu tantangan dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia ialah masih lemahnya pemanfaatan data dalam proses perencanaan, penganggaran, dan pengambilan keputusan. Selama ini, data sering hanya dikumpulkan sebagai kewajiban administratif, bukan sebagai instrumen strategis untuk memperbaiki mutu pembelajaran. Karena itu, dibutuhkan pendekatan kemitraan berbasis data—sebuah praktik kolaborasi lintas lembaga yang menggunakan data sebagai dasar bersama untuk merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi program pendidikan.

Susha, Gronlunda, dan Tulder (2018) mendefinisikan konsep ini sebagai kerja sama terorganisasi antarindividu, lembaga, atau sektor berbeda yang bertujuan memecahkan masalah melalui pemanfaatan data. Inti dari pendekatan ini ialah pandangan bahwa data bukan hanya milik satu institusi, tetapi dapat menjadi sumber daya kolektif jika dibagikan secara bertanggung jawab dan diarahkan untuk memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Verhulst dan Sangokoya (2015) mengemukakan empat alasan mengapa kolaborasi berbasis data menjadi penting dalam sektor pendidikan. Pertama, data lintas sektor membantu memastikan setiap intervensi lebih tepat sasaran karena keputusan didasarkan pada kondisi faktual, bukan sekadar asumsi.

Kedua, penggunaan data secara terbuka dapat memperkuat transparansi dan akuntabilitas di antara para pemangku kepentingan, sekaligus menjaga kepercayaan publik. Ketiga, data memungkinkan analisis jangka panjang sehingga intervensi tidak berhenti pada solusi sesaat, melainkan mampu memetakan tren dan tantangan pembelajaran secara berkelanjutan. Keempat, praktik berbasis data mendorong lahirnya kebijakan dan program yang lebih tajam, kontekstual, dan berlandaskan bukti yang dapat diukur dampaknya.

Dengan demikian, kemitraan berbasis data bukan hanya pendekatan teknis, melainkan fondasi penting bagi perbaikan sistem pendidikan secara menyeluruh. Dalam dunia pendidikan, kemitraan berbasis data dapat terwujud ketika pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, masyarakat, dunia usaha, dan organisasi terkait bekerja bersama menggunakan data sebagai landasan tindakan. Melalui tata kelola data yang baik, penguatan kapasitas sekolah, serta kolaborasi lintas sektor, percepatan peningkatan mutu pendidikan dapat dicapai lebih efektif.

Namun, alih-alih menggunakan data sebagai landasan untuk memperbaiki mutu pendidikan, kenyataannya masih ada pemerintah daerah yang memilih menutup data karena khawatir dianggap gagal, sehingga data berhenti sebagai catatan masalah tanpa pernah berubah menjadi solusi. Padahal, transparansi bukan soal siapa yang tertinggal atau terlihat buruk, melainkan langkah awal memperbaiki sistem yang memang tidak ada yang sempurna.

Karena itu, sudah saatnya budaya pemanfaatan data dijadikan fondasi perubahan—sebab data memberi arah, sementara kolaborasi menghadirkan kekuatan untuk bergerak maju. Meski demikian, pemanfaatan data tidak hanya persoalan teknis. Ada dimensi makna yang lebih dalam.

 

BUKAN SEKADAR ANGKA

Data bukan semata deretan angka, diagram, atau persentase dalam laporan, melainkan gambaran hidup yang merefleksikan realitas di lapangan dan seharusnya menjadi penuntun menuju perubahan yang berarti. Dalam konteks pendidikan Indonesia, menyadari bahwa data merepresentasikan pengalaman murid, guru, dan sekolah menjadi fondasi penting untuk merancang kebijakan yang adil dan relevan. Kitchin (2014) menggambarkan data sebagai bentuk abstraksi dari realitas yang kompleks.

Karena itu, ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyoroti rendahnya hasil TKA matematika yang dipengaruhi metode mengajar dan kualitas buku pelajaran, temuan tersebut tidak bisa dibaca hanya sebagai penurunan angka semata, tetapi sebagai kisah tentang ribuan siswa yang tertinggal dalam pemahaman konsep, guru yang berjuang dengan keterbatasan, serta lingkungan belajar yang belum sepenuhnya menopang pembentukan kemampuan berpikir kritis.

Sering kali persoalan dalam pendidikan tampak biasa karena menjadi bagian dari keseharian. Akan tetapi, data memiliki kemampuan mengungkap pola, kesenjangan, dan akar masalah yang tidak terjangkau oleh intuisi. Temuan dari Asesmen Nasional maupun evaluasi pendidikan daerah menunjukkan bahwa masih banyak sekolah yang menghadapi tantangan seperti rendahnya kemampuan literasi dan numerasi, keterbatasan sarana belajar, hingga kapasitas tata kelola sekolah yang belum memadai.

Oleh karena itu, fungsi data tidak berhenti pada penyajian fakta, melainkan membantu menentukan bentuk intervensi yang paling tepat: daerah mana yang memerlukan dukungan prioritas, sekolah mana yang paling rentan, dan kelompok siswa mana yang membutuhkan perhatian lebih besar. Data, dengan demikian, adalah pintu masuk menuju tindakan yang lebih terukur dan berdampak.

 

DATA ADALAH CERITA KEMANUSIAAN

Ketika sebuah sekolah mengisi Dapodik dan mencatat bahwa mereka belum memiliki akses listrik yang stabil, informasi tersebut bukan sekadar angka tentang kekurangan infrastruktur. Di baliknya ada kisah seperti Ibu Esta, seorang guru di pedalaman Kalimantan Utara yang selama bertahun-tahun tetap mengajar hanya dengan papan tulis, meski ia bermimpi memperkenalkan murid-muridnya pada dunia pemrograman dan kecerdasan buatan. Itu adalah kisah tentang anak-anak yang belum pernah menyentuh komputer, tetapi memiliki cita-cita menjadi teknisi atau programmer.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa banyak data dikumpulkan, tetapi seberapa berani kita menggunakannya untuk memperbaiki hidup anak-anak yang kini menunggu perubahan. Karena, data bukan sekadar catatan—ia adalah cermin, kompas, dan kadang peringatan. Dan, jika kita memilih untuk membacanya dengan empati serta bertindak melampaui batas kelembagaan maka pendidikan Indonesia tidak hanya bergerak ke arah yang lebih efektif, tetapi juga lebih manusiawi.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
  • Privilese, Kuasa, dan Bencana

    19/1/2026 05:10

    BENCANA memang sering hadir tanpa memberikan ruang memilih, tetapi cara manusia meresponsnya selalu lahir dari pilihan moral dan politik.

  • Mengurangi Kerentanan, Menumbuhkan Keberdayaan

    12/1/2026 05:10

    SEJAK 5 Januari 2026, sejumlah sekolah di daerah terdampak bencana hidrometeorologi di Sumatra mulai membuka pintu mereka

  • Sekolah Sigap Berbagi

    05/1/2026 05:10

    BANYAK pelajaran yang dapat diambil dari bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda 52 kabupaten/kota di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

  • Refleksi Akhir Tahun Pendidikan: Bencana Pendidikan

    29/12/2025 05:10

    RESPONS otoritas pendidikan Indonesia dalam situasi darurat bencana masih saja memilukan dalam menangani pendidikan darurat seperti tidak pernah belajar.

  • Refleksi Akhir Tahun: Membaca Ulang Data Pendidikan

    22/12/2025 05:10

    DI banyak ruang kelas Indonesia, angka-angka hasil penilaian sering hadir tanpa makna yang benar-benar dipahami.

  • Guru bukan Klerk

    15/12/2025 05:10

    MENGAJAR di abad ke-21 bukan lagi aktivitas statis yang sekadar memindahkan pengetahuan dari guru ke murid.

Opini
Kolom Pakar
BenihBaik