Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Altruisme dan Profesionalisme Relawan Pendidikan

Susan Sovia Wakil Direktur Kerja Sama Antarlembaga Yayasan Sukma
26/1/2026 05:10
Altruisme dan Profesionalisme Relawan Pendidikan
(Dok. Pribadi)

BENCANA banjir dan longsor yang melanda Aceh dan beberapa wilayah Sumatra tidak hanya mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan kehilangan mata pencaharian, tetapi juga mengganggu kehidupan sosial, terutama bagi anak-anak. Mereka kehilangan rasa aman, rutinitas harian, akses belajar, serta dukungan emosional yang esensial bagi perkembangan mereka.

Berdasarkan Convention on the Rights of the Child, pendidikan merupakan hak dasar yang tidak boleh terhenti dalam keadaan apa pun, termasuk dalam situasi darurat. Pendidikan dalam konteks darurat bahkan dianggap sebagai intervensi penyelamat (life-saving intervention) yang dapat menyediakan ruang aman, mengurangi risiko kekerasan, serta mendukung pemulihan psikososial anak (INEE, 2010).

 

PENDIDIKAN TANGGAP DARURAT

Sekolah darurat didirikan untuk mengembalikan keteraturan dan rutinitas belajar di tengah kondisi pascabencana. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, tercatat 54 sekolah di tiga provinsi (Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat) yang terpaksa menggunakan tenda darurat akibat kerusakan berat. Di Aceh saja, 18 sekolah menjalankan aktivitas belajar dalam tenda darurat. Fakta itu menunjukkan sekolah darurat bukan sekadar alternatif sementara, melainkan juga realitas pendidikan yang dihadapi anak-anak Indonesia saat ini.

Di tengah situasi darurat yang penuh ketidakpastian, relawan pendidikan hadir untuk memastikan proses belajar anak-anak tidak terputus. Keberadaan mereka tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran guru formal, tetapi menjadi fasilitator yang menghidupkan pendekatan khusus pendidikan dalam kondisi darurat. Fokus utamanya ialah memberikan dukungan psikososial bagi anak-anak yang mengalami trauma, membangkitkan kembali motivasi belajar yang mungkin padam, serta membantu mereka beradaptasi dengan situasi yang serbaterbatas.

Untuk menjalankan peran penting itu secara efektif, seorang relawan tidak hanya membutuhkan altruisme, yakni ketulusan hati untuk membantu tanpa pamrih, sebagai motivasi dasarnya, tetapi juga memerlukan profesionalisme sebagai bekal keterampilan yang konkret di lapangan. Keduanya bagai dua sisi mata uang yang saling melengkapi dalam upaya menjaga nyala hak belajar anak-anak yang terdampak oleh bencana.

 

MOTIVASI DASAR KERELAWANAN

Altruisme, pada hakikatnya, ialah sebuah sikap dan perilaku untuk menolong sesama tanpa mengharapkan imbalan, sebuah makna yang tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dalam perspektif psikososial, perilaku itu tidak hanya dianggap sebagai tindakan sukarela biasa, tetapi sebagai bentuk kepedulian prososial yang lahir dari empati mendalam terhadap penderitaan orang lain, sebagaimana dijelaskan Eisenberg dan Miller (1987).

Seorang relawan yang digerakkan nilai altruisme umumnya memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap perasaan orang lain, mampu mengelola emosi dan tindakannya dengan baik, serta dilandasi rasa tanggung jawab yang kuat terhadap lingkungan sosialnya, karakteristik yang oleh Myers (2012) dianggap sebagai fondasi dari keterlibatan sosial yang sehat dan berkelanjutan.

Contoh nyata dapat dilihat dari program Yayasan Sukma yang memberangkatkan lebih dari 70 relawan ke daerah bencana di Aceh. Relawan dengan motivasi altruistis menunjukkan ketangguhan dan komitmen dalam mendampingi anak-anak, tidak hanya dalam belajar, tetapi juga dalam aktivitas bermain dan bercerita untuk pemulihan psikologis.

Namun, altruisme saja tidak cukup. Niat baik harus diimbangi kompetensi profesional agar intervensi memberikan dampak berkelanjutan.

 

KOMPETENSI RELAWAN PENDIDIKAN

Dalam menghadapi situasi pascabencana yang penuh kompleksitas, diperlukan pendekatan yang tidak hanya terampil, tetapi juga terstruktur dan penuh kehati-hatian. Oleh karena itu, organisasi seperti Yayasan Sukma tidak serta-merta menerjunkan relawan mereka; mereka terlebih dahulu membekali para relawan dengan serangkaian pelatihan mendalam.

Pembekalan itu mencakup pemahaman mendasar tentang prinsip-prinsip pendidikan dalam keadaan darurat, keterampilan komunikasi efektif yang sensitif untuk berinteraksi dengan anak-anak yang mengalami trauma, kemampuan menyelesaikan konflik, serta penyusunan rencana aksi yang sesuai dengan konteks dan kebutuhan lokal. Dari pelatihan tersebut, terasahlah kompetensi profesional yang krusial.

Pertama, kemampuan untuk menerapkan pembelajaran adaptif, yakni menyesuaikan materi dan metode pengajaran dengan realitas lokal serta pengalaman personal anak-anak pascabencana. Kedua, penguasaan strategi psikososial dasar untuk menciptakan ruang belajar yang inklusif dan aman, sekaligus mengelola dinamika kelompok anak-anak yang sedang dalam proses pemulihan. Ketiga, kemahiran berkolaborasi dengan berbagai pihak, seperti dinas pendidikan, BPBD, sekolah setempat, dan komunitas lokal.

Melalui kolaborasi itu, relawan tidak lagi dipandang sebagai pihak luar yang membantu secara sementara, tetapi sebagai mitra pemulihan yang berjalan beriringan dengan masyarakat untuk membangun kembali masa depan yang lebih tangguh. Robert Chambers (1997) menegaskan program yang melibatkan multipihak memiliki tingkat keberlanjutan yang lebih tinggi.

 

SINERGI ALTRUISME DAN PROFESIONALISME

Relawan pendidikan yang benar-benar efektif dan berdampak ialah mereka yang mampu menyatukan dorongan hati yang tulus dengan kemampuan teknis yang terlatih. Altruisme (keikhlasan untuk menolong) menjadi fondasi nilai yang memberi kekuatan komitmen dan ketahanan dalam situasi sulit.

Sementara itu, profesionalisme berperan sebagai kerangka kerja yang memberikan metode, strategi, dan pendekatan intervensi yang tepat. Keduanya bersinergi dalam praktik nyata, misalnya ketika seorang relawan memanfaatkan keterampilan komunikasi profesionalnya untuk membangun jembatan kepercayaan dengan anak-anak, sementara pada saat yang sama, dengan ketulusan hati yang altruistis, ia rela meluangkan waktu ekstra hanya untuk mendengarkan cerita mereka.

Contoh lainnya terlihat ketika relawan secara profesional berkolaborasi dengan guru lokal untuk menyusun materi pembelajaran yang relevan, tetapi dengan komitmen dan kesabaran yang bersumber dari altruisme, ia tetap bertahan mengabdi di lokasi meskipun menghadapi keterbatasan fasilitas yang serba minim. Dengan demikian, integrasi antara hati dan keterampilan itulah yang membuat peran mereka tidak sekadar membantu, tetapi juga memulihkan dan memberdayakan.

Kehadiran relawan pendidikan di sekolah darurat merupakan komitmen nyata untuk menjaga hak belajar anak dalam situasi terberat sekalipun. Mereka menjadi jembatan antara pendidikan darurat dan transisi kembali ke sistem pendidikan formal.

Gerakan kerelawanan pendidikan tidak hanya membutuhkan hati yang tulus (altruisme), tetapi juga tangan yang terampil (profesionalisme). Dukungan sistemis melalui pelatihan, pengakuan, dan kolaborasi kelembagaan diperlukan agar relawan dapat berfungsi optimal dalam memulihkan hak belajar dan masa depan anak-anak pascabencana.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya