Headline

Kapolri minta agar anggota Brimob pelaku insiden Tual dihukum seberat-beratnya.

Menjaga Kesehatan Mental Pascabencana: Pentingnya Mengenali Sinyal Tubuh

Basuki Eka Purnama
24/2/2026 04:46
Menjaga Kesehatan Mental Pascabencana: Pentingnya Mengenali Sinyal Tubuh
Ilustrasi--Warga penyintas bencana alam makan sahur bersama di hunian darurat pengungsi Desa Bundar, Karang Baru, Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (19/2/20206).(ANTARA/Aprillio Akbar)

MENGHADAPI situasi bencana tidak hanya berdampak pada kerusakan fisik, tetapi juga menyisakan trauma mendalam bagi para penyintas maupun relawan

Psikolog klinis sekaligus relawan Tim Cadangan Kesehatan (TCK) dari Kementerian Kesehatan RI, Anna Aulia, menekankan pentingnya menjaga kondisi mental di tengah situasi darurat agar tidak berlarut-larut dalam tekanan psikologis.

Anna menyoroti fenomena umum di lapangan. Banyak orang, baik penyintas maupun relawan, cenderung mengabaikan kondisi mental mereka sendiri karena fokus utama tersita untuk menolong keluarga atau memenuhi kebutuhan dasar.

“Banyak yang memaksakan diri terus membantu, padahal dirinya sendiri belum tenang,” ujar Anna, yang sempat bertugas sebagai relawan di Aceh Tamiang, dikutip Selasa (24/2).

Menurut Anna, tekanan psikologis sering kali baru disadari oleh penyintas ketika kondisi di lapangan mulai stabil. Padahal, tubuh manusia sebenarnya telah memberikan sinyal atau "notifikasi" awal saat tekanan mulai menumpuk. 

Ia menyarankan masyarakat untuk lebih peka terhadap perubahan kecil pada diri sendiri, seperti gangguan pola tidur, perubahan pola makan, hingga emosi yang mudah meledak.

“Fisik itu notifikasi awal. Kalau tidur terganggu atau emosi mudah meledak, itu perlu diperhatikan,” tegasnya.

Untuk mengatasi dampak psikologis tersebut, Anna memberikan beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan. 

Pertama, membatasi paparan informasi yang berlebihan, terutama dari media sosial. Arus informasi yang terus-menerus mengenai bencana justru dapat memperkuat rasa cemas dan takut yang berlebihan.

Kedua, menjaga rutinitas harian yang sederhana. Konsistensi dalam beraktivitas sangat penting karena dapat membantu seseorang merasa tetap memiliki kendali atas hidupnya di tengah situasi yang tidak menentu.

Namun, jika upaya mandiri tidak membuahkan hasil dan kondisi emosional mulai mengganggu aktivitas sehari-hari serta hubungan sosial, Anna sangat menyarankan untuk tidak menunda mencari bantuan profesional. 

“Kalau tidak bisa pulih sendiri, jangan ragu datang ke tenaga profesional,” tambahnya.

Langkah ini menjadi perhatian serius pemerintah. Penerjunan relawan TCK di Aceh merupakan bagian dari program Kementerian Kesehatan RI untuk memperkuat layanan kesehatan pascabencana banjir. 

Kehadiran TCK diharapkan mampu memastikan layanan kesehatan fisik tetap berjalan beriringan dengan dukungan kesehatan mental bagi masyarakat terdampak, sehingga proses pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih komprehensif. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya