Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Menjaga Kesehatan Mental Pascabencana: Anak dan Lansia Kelompok Paling Rentan

Basuki Eka Purnama
25/2/2026 20:00
Menjaga Kesehatan Mental Pascabencana: Anak dan Lansia Kelompok Paling Rentan
Sejumlah warga pengungsi menanti bantuan di Desa Pepelah, Kecamatan Pinding, Kabupaten Gayo lues, Aceh, Senin (22/12/2025).(ANTARA/Syifa Yulinnas)

BENCANA alam tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis yang mendalam bagi penyintas. Anna Aulia, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis sekaligus relawan Tim Cadangan Kesehatan (TCK) Aceh Tamiang dari Kementerian Kesehatan RI, menekankan bahwa anak-anak dan lansia merupakan kelompok yang paling rentan mengalami trauma pascabencana.

Menurut Anna, identifikasi trauma pada anak memerlukan kepekaan khusus karena mereka belum mampu mengomunikasikan perasaan mereka secara verbal. 

"Anak tidak selalu bisa bilang dia takut atau sedih. Biasanya terlihat dari perilaku, misalnya jadi tantrum, mudah marah, atau menangis terus," ujar Anna, dikutip Rabu (25/2).

Ia memperingatkan bahwa trauma yang tidak tertangani dengan serius dapat berdampak jangka panjang, mulai dari penurunan konsentrasi, terganggunya proses belajar, hingga hambatan dalam tumbuh kembang emosional anak.

Sementara itu, lansia memiliki tantangan psikologis yang berbeda. Anna menilai pendekatan kepada kelompok usia ini cenderung lebih sulit, terutama bagi mereka yang terisolasi atau terpisah dari keluarganya saat bencana terjadi. 

"Lansia biasanya lebih lama untuk didekati. Mereka memikirkan kehilangan, jauh dari anak dan keluarga," jelasnya.

Meski orang dewasa memiliki kemampuan lebih baik dalam mengungkapkan emosi, mereka tetap memiliki potensi mengalami trauma berat, terutama jika mengalami kehilangan anggota keluarga, rumah, maupun pekerjaan.

Dalam praktiknya di Aceh Tamiang, Anna dan tim melakukan penyaringan awal untuk mengidentifikasi penyintas dengan indikasi trauma berat. 

Mereka yang terindikasi akan mendapatkan pendampingan khusus berupa trauma healing, sementara layanan psikososial diberikan secara luas untuk membangun kembali rasa aman serta memperkuat koneksi sosial masyarakat.

Anna menegaskan bahwa meskipun intervensi tenaga profesional sangat diperlukan, dukungan dari orang-orang terdekat tetap menjadi kunci utama pemulihan. 

"Relawan hanya fasilitator. Yang paling berperan adalah lingkungan terdekatnya," tegasnya.

Pengerahan relawan TCK di Aceh merupakan bagian dari program Kementerian Kesehatan RI untuk memperkuat layanan kesehatan pascabencana banjir. 

Langkah ini dilakukan guna memastikan seluruh layanan kesehatan, termasuk dukungan kesehatan mental bagi masyarakat yang terdampak, dapat terus berjalan secara optimal di lapangan.

Dengan pendekatan yang komprehensif, mulai dari deteksi dini hingga penguatan dukungan sosial, diharapkan pemulihan trauma dapat berjalan lebih efektif sehingga para penyintas dapat kembali membangun kehidupan mereka dengan rasa aman dan stabil. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya