Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
SUASANA sore di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Sabtu (7/3) terasa berbeda dari biasanya. Tawa dan suara riang memenuhi salah satu sudut masjid saat sebanyak 500 anak dari berbagai yayasan panti asuhan, komunitas, dan klub McKids berkumpul dengan penuh antusias.
Mereka hadir untuk mengikuti Safari Dongeng Ramadan (SADORA), sebuah program edukatif dari McDonald’s Indonesia yang mengombinasikan nilai moral dengan cerita interaktif menjelang waktu berbuka puasa.
Mengusung tema “Kebaikan dan Kepedulian terhadap Sesama Makhluk Hidup”, anak-anak diajak menyelami nilai-nilai penting seperti sikap saling menolong, rasa syukur, serta kepedulian terhadap lingkungan dan sesama manusia.
Dongeng tersebut dibawakan secara apik oleh Rossie Setiawan, pendiri komunitas Reading Bugs, yang menggunakan cerita tentang interaksi hewan untuk menanamkan empati sejak dini.
Ratna Wirahadikusumah, Director of Store Development Group PT Rekso Nasional Food, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi ini.
“Kami berterima kasih kepada Badan Pengelola Masjid Istiqlal atas kesempatan untuk menjadi bagian dari momen kebersamaan dalam menyemarakkan Ramadan di Masjid Istiqlal. Kolaborasi ini menjadi pengingat bagi kami untuk terus menghadirkan inisiatif yang memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat, sejalan dengan semangat Sepenuhnya Indonesia,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Dr. KH. Bukhori Saili Attahiri, Lc., MA, selaku Kepala Bidang Penyelenggaraan Peribadatan Badan Pengelola Masjid Istiqlal, turut memberikan apresiasi.
“Kegiatan seperti ini tidak hanya menghadirkan keceriaan menjelang berbuka puasa, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebaikan yang penting dalam pembentukan karakter anak,” tuturnya.
Sebagai wujud kepedulian nyata, McDonald’s Indonesia juga menyerahkan santunan secara simbolis kepada 100 anak yatim piatu melalui Badan Pengelola Masjid Istiqlal.
Program SADORA sendiri merupakan tradisi tahunan yang telah ada sejak 2003 dan telah menjangkau lebih dari 200.000 anak di seluruh Indonesia.
Tahun ini menjadi lebih spesial karena bertepatan dengan momentum perayaan 35 tahun kehadiran McDonald’s di Indonesia.
Jangkauan program diperluas hingga ke 51 kabupaten/kota di 19 provinsi guna merangkul lebih banyak anak dalam membangun karakter positif di tengah tantangan era modern.
Bagi peserta seperti Amira dari Yayasan Yatim Piatu Rasulullah SAW, momen ini memberikan kesan mendalam.
“Aku senang sekali bisa ikut SADORA. Ini pertama kalinya aku berbuka puasa di Masjid Istiqlal bersama teman-teman sambil mendengarkan dongeng yang seru. Dari cerita itu, aku jadi belajar kalau kita harus selalu berbuat baik dan saling membantu,” pungkasnya. (Z-1)
Pemerintah mengklaim harga barang kebutuhan pokok selama Ramadan hingga Idulfitri 2026 lebih stabil dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Arah kebijakan Baznas ke depan termasuk target pengumpulan zakat nasional yang ditetapkan mencapai Rp160 triliun dan Baznas pusat sebesar Rp10 triliun pada 2031.
Momentum Ramadan mendorong spektrum belanja yang lebih luas—dari kebutuhan harian hingga pengeluaran yang lebih aspiratif.
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Human Initiative terus melakukan evaluasi dalam setiap pelaksanaan program.
Konsumsi makanan dengan kadar gula maupun garam tinggi dapat menyebabkan kulit kehilangan hidrasi dan menjadi lebih kering.
Guru Besar IPB Prof Euis Sunarti menekankan pentingnya pembangunan ramah keluarga sebagai basis kebijakan nasional untuk mengatasi depresi remaja dan kemiskinan.
Psikolog Michelle Brigitta membagikan tips mengatasi post holiday blues pada anak, mulai dari validasi emosi hingga mengatur ulang rutinitas harian.
Psikolog Sani B. Hermawan menyarankan anak di bawah 16 tahun berkolaborasi di akun orangtua guna mematuhi PP Tunas dan menjaga keamanan digital.
Psikolog UI Prof. Rose Mini dan Alva Paramitha menyarankan orangtua kreatif berikan alternatif kegiatan nyata untuk kurangi ketergantungan gawai anak.
Penggunaan gawai justru memutus kebutuhan stimulasi tersebut karena sifatnya yang searah. Anak cenderung hanya menjadi peniru pasif tanpa memahami makna di balik kata-kata yang didengar.
Jika orangtua melarang anak bermain ponsel namun mereka sendiri sibuk dengan perangkatnya, hal itu akan mengirimkan pesan yang bertentangan bagi anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved