Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Tips Membatasi Penggunaan Gawai oleh Anak: Kreativitas dan Aktivitas Nyata

Basuki Eka Purnama
02/4/2026 10:38
Tips Membatasi Penggunaan Gawai oleh Anak: Kreativitas dan Aktivitas Nyata
Ilustrasi(Freepik)

PEMBATASAN akses anak terhadap platform digital kini menjadi tantangan besar bagi orangtua. Namun, sekadar melarang tidaklah cukup. Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., menekankan bahwa pembatasan gawai harus dibarengi dengan penyediaan alternatif kegiatan yang menarik di dunia nyata.

Menurut Prof. Rose Mini, orangtua dituntut lebih kreatif dalam merancang program yang mampu menyaingi daya tarik konten digital.

"Orangtua harus bekerja keras dan kreatif membuat program lain yang menyaingi apa yang biasa anak tonton di digital," ujarnya dalam sebuah pernyataan resmi.

Membangun Kedekatan Melalui Proyek Bersama

Salah satu strategi yang disarankan adalah melibatkan anak dalam proyek kreatif di rumah. Aktivitas seperti membuat kerajinan tangan, menyusun cerita, hingga mengeksplorasi topik hobi anak dapat memberikan rasa tantangan tersendiri bagi mereka. Selain mengalihkan perhatian dari layar, kegiatan ini juga berfungsi sebagai sarana komunikasi yang efektif.

Aktivitas fisik juga memegang peranan penting, terutama bagi anak usia sekolah dasar. Olahraga bersama seperti sepak bola atau bola basket tidak hanya menyalurkan energi anak yang sedang aktif, tetapi juga mempererat ikatan emosional antara orang tua dan anak.

Diversifikasi Aktivitas Berdasarkan Jenis Kegiatan

Senada dengan hal tersebut, psikolog anak Alva Paramitha, S.Psi., Psikolog, BFRP, menjelaskan bahwa anak-anak perlu diarahkan dari pola konsumsi pasif (seperti scrolling media sosial) menuju aktivitas yang ekspresif dan reflektif. Berikut adalah rangkuman alternatif kegiatan yang disarankan oleh para ahli:

Kategori Aktivitas Contoh Kegiatan Manfaat Utama
Kreatif & Ekspresif Menggambar, memotret, bermusik, membuat video pendek. Menyediakan ruang ekspresi diri.
Fisik & Luar Ruang Olahraga, menari, bela diri, bermain bola. Menyalurkan energi dan regulasi emosi.
Reflektif Menulis jurnal harian. Membantu mengenali dan mengelola emosi.
Sosial & Komunitas Klub sekolah, komunitas hobi, sukarelawan. Membangun kepercayaan diri dan interaksi sosial.
Berbasis Proyek Membuat konten podcast atau blog. Mengubah peran dari konsumen menjadi kreator.

Dukungan Regulasi dan Peran Orangtua

Terkait adanya peraturan pemerintah mengenai pembatasan akses anak di bawah 16 tahun ke platform digital berisiko tinggi, Prof. Rose Mini menilai hal tersebut sebagai bantuan bagi orangtua. Namun, ia menegaskan bahwa regulasi hanyalah alat pendukung; peran aktif orangtua dalam mendampingi dan mengarahkan anak tetap menjadi kunci utama.

Alva Paramitha menambahkan bahwa bagi remaja, pengakuan di dunia nyata jauh lebih penting daripada sekadar jumlah 'likes' di media sosial.

"Remaja butuh ruang untuk merasa mampu dan diterima. Itu bisa didapatkan dari kegiatan nyata," pungkasnya. Dengan keterlibatan keluarga yang kuat, pembatasan gawai bukan lagi menjadi beban, melainkan proses pembelajaran dan pengembangan diri yang positif bagi anak. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya