Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
PSIKOLOG anak, Prof. Dr. Rose Mini Adi Prianto, M.Psi., menekankan pentingnya peran aktif orangtua sebagai teladan dalam membatasi penggunaan gawai (gadget) di lingkungan keluarga. Menurutnya, aturan pembatasan akses digital bagi anak tidak akan berjalan efektif tanpa contoh nyata dari orang tua.
Prof. Rose Mini menjelaskan bahwa anak-anak adalah pembelajar visual yang meniru perilaku harian orang tua mereka.
Jika orangtua melarang anak bermain ponsel namun mereka sendiri sibuk dengan perangkatnya, hal itu akan mengirimkan pesan yang bertentangan bagi anak.
"Orangtua adalah contoh bagi anak. Jangan minta anak tidak banyak menggunakan gadget kalau orangtuanya sendiri tidak bisa lepas dari handphone," ujarnya, dikutip Rabu (1/4).
Lebih lanjut, ia memperingatkan bahwa penggunaan gawai yang berlebihan oleh orangtua saat berada di rumah dapat menciptakan jarak komunikasi. Anak-anak akan merasa tidak memiliki akses untuk berinteraksi, yang kemudian mendorong mereka untuk kembali pelarian ke dunia digital.
Penerapan regulasi atau pembatasan akses ke platform digital, seperti media sosial dan gim, memerlukan kontrol diri dari sisi orangtua.
Prof Rose menyebutkan bahwa pembatasan tanpa adanya pilihan aktivitas lain justru akan memicu kebingungan atau perlawanan dari anak.
Untuk itu, ia menyarankan orang tua agar lebih kreatif dalam menghadirkan alternatif kegiatan yang menarik di rumah, seperti:
Meski regulasi pemerintah atau aturan platform dapat membantu, peran bimbingan langsung dari keluarga tetap menjadi faktor utama. Konsistensi orang tua dalam menerapkan aturan sangat diperlukan untuk mencegah dampak buruk gawai terhadap kesehatan fisik dan mental anak.
"Regulasi itu membantu orang tua. Tapi yang membimbing tetap orangtua. Mereka harus kreatif dan konsisten," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Penggunaan gawai justru memutus kebutuhan stimulasi tersebut karena sifatnya yang searah. Anak cenderung hanya menjadi peniru pasif tanpa memahami makna di balik kata-kata yang didengar.
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Perlindungan ruang digital memerlukan langkah komprehensif yang mencakup edukasi publik dan penguatan kapasitas pengguna dalam memahami risiko siber.
Aktivitas fisik dan sosial tidak hanya efektif mengalihkan perhatian dari layar, tetapi juga mendorong perkembangan interaksi anak dengan lingkungan sekitar.
Mengalihkan kebiasaan anak dari ketergantungan gawai ke aktivitas yang lebih produktif memerlukan pendekatan yang bersifat mengarahkan dan menginspirasi, bukan sekadar pelarangan.
Penggunaan gawai justru memutus kebutuhan stimulasi tersebut karena sifatnya yang searah. Anak cenderung hanya menjadi peniru pasif tanpa memahami makna di balik kata-kata yang didengar.
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari.
Aktivitas fisik dan sosial tidak hanya efektif mengalihkan perhatian dari layar, tetapi juga mendorong perkembangan interaksi anak dengan lingkungan sekitar.
Mengalihkan kebiasaan anak dari ketergantungan gawai ke aktivitas yang lebih produktif memerlukan pendekatan yang bersifat mengarahkan dan menginspirasi, bukan sekadar pelarangan.
ANAK yang terbiasa mengandalkan gawai dalam kehidupan sehari-hari berisiko menunjukkan reaksi emosional berlebihan (tantrum) saat penggunaannya dibatasi oleh orangtua.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved